Ekskavator membantu memperbaikin jalan di Kecamatan Palue, Kabupaten Sikka, NTT. Foto: Metrotvnews.com/Anggi Tondi Martaon.
Longsor Merintangi, 'Penjelajah' Beraksi Buka Jalan ke Kampung Terdampak Gempa NTT
Anggi Tondi Martaon • 26 August 2026 20:26
Palue: Dalam game populer Multiplayer Online Battle Arena (MOBA), ada role atau peran penting dalam menginisiasi aksi tim. Peran tersebut adalah penjelajah atau roamer, yang bertugas membuka jalan supaya tim dapat beraksi maksimal.
Di saat penanganan pascagempa Nusa Tenggara Timur (NTT), role itu hadir. Peran tersebut ditunjukkan ekskavator di Pulau Palue, NTT. Alat berat jadi roamer untuk membuka jalan yang tertimbun longsor menuju Desa Rokirole, Pulau Palue, NTT.
Suara mesin ekskavator memecah sunyi jalan pegunungan menuju desa terdampak gempa magnitudo 7,7 itu. Sesekali, terdengar bunyi gesekan batu dengan besi saat bucket ekskavator itu mengangkat material longsor.
Role ekskavator tersebut, ibarat 'tank' dalam tim. Memastikan jalanan bersih dari hambatan. Bedanya, bukan untuk bertarung, tapi memberi ruang relawan beraksi, mengirimkan bantuan logistik pada warga terdampak gempa.
Metrotvnews.com menyaksikan kegagahan ekskavator saat mengangkat material tanah, batu besar, hingga pohon yang menutup jalan. Hamparan material tersebut merupakan sisa longsor yang terjadi saat gempa besar 15 Agustus 2026.
Tim dari PPK 4.4 Balai Pelaksana Jalan Nasional NTT mengoperasikan ekskavator tersebut. Mereka sebagai roamer, berjibaku membuka jalan. Sehingga, akses kendaraan menuju wilayah terdampak gempa bisa dilalui kendaraan.
Tim yang beranggotakan delapan orang itu bekerja tanpa henti dari pagi hingga matahari terbenam. Mereka berpacu dengan waktu agar akses jalan tersebut bisa dibuka.
Material longsor berupa tanah kering mengakibatkan debu berterbangan. "Ada angin saja itu tanah sudah turun karena kondisi tanah kayak tepung," kata salah satu petugas PPK 4.4 Balai Pelaksana Jalan Nasional NTT, Immanuel Nanggi Ang, Rabu, 26 Agustus 2026.
Tantangan sebenarnya, bukan debu. Pekerja dan mesin ekskavator tersebut dibayangi longsor susulan. Immanuel menyampaikan, kondisi tersebut terjadi karena struktur tanah perbukitan yang masih rapuh. Bahkan, longsor kembali terjadi saat gempa susulan. Tapi tim roamer tetap bekerja karena material longsor yang jatuh tidak banyak.
Bermodalkan kacamata hitam, masker menutup hidung dan mulut, serta helm keselamatan, para petugas tetap fokus membuka jalur. Sedangkan operator memainkan keahliannya menarik tuas mengendalikan ekskavator agar maksimal mengangkat tanah.
Sesekali, ekskavator harus berhenti. Petugas memberikan kesempatan kepada warga lewat jalan yang sudah bersih, untuk menuju posko bencana desa mengambil bantuan.
Langsung diterjunkan setelah gempa mengguncang Flores
Di luar tenda posko bencana sembari ditemani suara ombak dan langit malam, Immanuel kembali mengingat awal mula dia ditugaskan ke Palue. Perintah tugas dikeluarkan pada Minggu malam, 16 Agustus 2026. Misi utamanya cuma satu, membuka jalan yang tertimbun longsor di Pulau Palue.
Mendapat tugas tersebut, tim bergerak keesokan harinya. Awalnya, mereka membawa dua mesin ekskavator menggunakan feri ke Palue. Namun, hanya satu mesin beko yang bisa diseberangkan dari Maumere ke pulau karena cuaca buruk.
"Jadi, hanya satu yang bisa kami bawa," ujar Immanuel.
Tak hanya ekskavator, tim dari PU membawa delapan drum bahan bakar hingga oli dari Maumere. Mesin dan semua kebutuhan tersebut disediakan salah satu perusahaan konstruksi pelat merah.
"Jadi kami tidak sedikit pun menggunakan bahan bakar untuk pengungsi. Semua disediakan secara mandiri," beber Immanuel.
.jpeg)
Stok bahan bakar yang dibawa petugas dari Maumere untuk mengoperasikan ekskavator selama penanganan gempa di Kecamatan Palue, Kabupaten Sikka, NTT. Foto: Metrotvnews.com/Anggi Tondi Martaon.
Immanuel dan tim tiba di Pulau Palue pada Senin malam, 17 Agustus 2026. Keesokan paginya, Selasa, 18 Agustus, mereka langsung bergerak. Langkah pertama yang dilakukan meninjau titik-titik longsor yang harus ditangani sembari membawa mesin beko dari pelabuhan menuju titik longsor.
Dari hasil pemetaan, longsor di Pulau Palue sebanyak 10 titik. Setidaknya, ada lima titik longsor dalam kategori berat karena material tanah, batu, dan kayu menutup akses warga menuju posko bencana.
Pengerjaan dimulai dari 19 hingga 22 Agustus 2026. Mereka mulai bekerja tanpa lelah dari pagi hingga sore hari. Pengerjaan pada malam hari dihindari karena kondisi tidak aman. "Kita tidak kerja malam, berbahaya sekali karena ada batu-batu cukup besar menggantung di lereng bukit. Kalau kena kaca beko kasihan operator," ungkap Immanuel.
Beruntung, semesta mendukung misi kemanusiaan tersebut. Tidak ada hujan selama pengerjaan dilakukan. Sehingga, penanganan 10 titik longsor bisa diselesaikan selama empat hari.
Saat ini, jalan menuju seluruh desa sudah bisa diakses kembali. Bantuan bisa disalurkan ke posko-posko bencana yang ada di desa. Sehingga, masyarakat tidak perlu berjalan kaki melewati material longsor mengambil bantuan.
Meski pekerjaan sudah selesai, Immanuel bersama rekan-rekannya masih bersiaga di Pulau Palue. Kini, mereka membantu memperbaiki akses jalan di Pulau Palue. Salah satunya jalan yang berada di Desa Maluriwu, Kecamatan Palue.
Jalan tersebut mengalami abrasi laut. Hampir sebagian badan jalan amblas sepanjang 500 meter.konfisi itu membuat kendaraan roda empat harus bergantian mlalui jalur tersebut.
Perbaikan dilakukan dengan menutup lubang dengan material pasir yang berada di pantai. Setelah ditimbun, operator kemudian memajumundurkan mesin tersebut untuk memadatkan dan meratakan tanah.