Warga menyaksikan lokasi Pancuran 13 di komplek Ow Guci, Kecamatan Bumijawa, Kabupaten Tegal, yang rusak diterjang banjir bandang. MI/Supardji Rasban
Banjir Bandang Kembali Terjang Wisata Guci Tegal
Media Indonesia • 24 January 2026 13:38
Tegal: Banjir bandang kembali menerjang kawasan wisata Guci, di Kecamatan Bumijawa, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah. Hujan deras yang mengguyur lereng Gunung Slamet sejak Kamis hingga Sabtu, 24 Januari 2026, pagi memicu banjir bandang disertai longsor.
Air bah berwarna kecoklatan menggelontor dari hulu Gunung Slamet, membawa material lumpur, pasir, hingga ranting kayu. Akibatnya, tiga jembatan di kawasan wisata putus, yakni Jembatan Jedor, Jembatan Kaligung di Pancuran 13, serta jembatan gantung di Pancuran 5. Ketiganya merupakan akses utama penghubung antarobjek wisata dan menuju Desa Guci.
Menurut keterangan warga, debit air meningkat drastis secara tiba-tiba pada Jumat, 23 Januari 2026, sore sekitar pukul 16.30 WIB. Suara gemuruh dari arah hulu sungai terdengar sebelum banjir bandang menerjang.
“Awalnya cuma hujan deras, tapi tiba-tiba terdengar suara gemuruh. Air langsung datang besar dan keruh,” ujar Taufik, warga Desa Guci, dikutip Media Indonesia, Sabtu, 24 Januari 2026.
Baca Juga :
Banjir Bandang Landa Kawasan Wisata Guci Tegal
Taufik menuturkan puncaknya terjadi pada pukul 02.00 WIB dini hari. Tinggi air dilaporkan mencapai sekitar tujuh meter, membuat jembatan tak mampu menahan hantaman arus deras bercampur lumpur dan pasir.
Banjir bandang tidak hanya memutus akses utama, tetapi juga menyebabkan kerusakan parah fasilitas wisata. Pancuran 13 Guci hancur dan tertimbun lumpur, satu unit alat berat beko rusak, sejumlah lapak pedagang hanyut, serta pagar pembatas di sepanjang aliran sungai porak-poranda. Sebanyak 700 bibit pohon yang rencananya akan ditanam di lereng Gunung Slamet juga ikut hanyut.
Bencana ini kembali mengundang sorotan terhadap kerusakan hutan di lereng Gunung Slamet. Ketua Masyarakat Adat Reksawana Guci, Sobirin, menyebut kondisi hutan saat ini sangat memprihatinkan.

Banjir bandang melanda di Kawasan Objek Wisata Guci, Kabupaten Tegal, Sabtu, 20 Desember 2025. Foto: ANTARA/HO-Oky Lukmansyah.
“Ratusan hektare hutan produksi dan sekitar 50 hektare hutan lindung sudah beralih fungsi jadi lahan sayuran. Kalau ini terus dibiarkan, lereng Gunung Slamet benar-benar jadi bom waktu,” tegas Sobirin.
Sobirin mendesak penanaman pohon berakar kuat secara berkelanjutan, bukan sekadar seremonial. Ia memperingatkan, jika pola tanam tak segera diubah, dampak bencana berpotensi meluas ke desa-desa lain di lereng Slamet.
Saat ini, Forkopimcam Bojong bersama relawan masih bersiaga di lokasi bencana. Petugas melakukan pendataan kerusakan serta memastikan tidak ada wisatawan yang terjebak di seberang sungai akibat putusnya jembatan.