Ilustrasi. Foto: Freepik.
Investor Mesti Waspada! Tekanan Bearish Harga Masih Mendominasi
Eko Nordiansyah • 26 June 2026 11:36
Jakarta: Harga emas diperkirakan masih bergerak dalam tekanan pada perdagangan pekan ini. Analis Dupoin Futures Geraldo Kofit mengatakan, tren bearish masih mendominasi pergerakan harga, sehingga peluang pelemahan dalam jangka pendek dinilai masih cukup besar.
"Selama belum ada sentimen baru yang mampu mendorong minat beli, emas diperkirakan masih berpotensi menguji area support yang lebih rendah," kata dia dalam keterangan tertulis, Jumat, 26 Juni 2026.
Geraldo menjelaskan, pada timeframe H1, harga emas masih belum mampu keluar dari tekanan jual. Pergerakan harga saat ini masih tertahan di bawah area dynamic resistance yang dibentuk oleh Moving Average (MA) 21 dan MA 34.
"Posisi tersebut menunjukkan pelaku pasar masih lebih banyak melakukan aksi jual dibandingkan aksi beli, sehingga momentum kenaikan belum cukup kuat untuk mengubah arah pergerakan harga," ujar dia.
Menurut dia, selama harga masih bergerak di bawah kedua indikator Moving Average tersebut, peluang terjadinya breakout ke atas masih relatif kecil. Kondisi ini membuat skenario pelemahan tetap menjadi fokus utama dalam perdagangan jangka pendek.
"Dari sisi teknikal, harga masih bergerak di bawah area resistance dinamis, sehingga tekanan bearish masih cukup dominan. Selama belum mampu menembus area tersebut, peluang penurunan masih terbuka," ujar Geraldo.
Ia menambahkan, target pelemahan terdekat berada di level USD3.984 yang saat ini menjadi area support penting. Jika tekanan jual terus meningkat dan level tersebut berhasil ditembus, maka harga emas berpotensi melanjutkan penurunan menuju support berikutnya di kisaran USD3.957.
(1).jpg)
(Ilustrasi. Foto: Dok Bappebti)
Sinyal penurunan harga emas berlanjut
Selain struktur harga yang masih menunjukkan tren turun, indikator stochastic juga memberikan sinyal serupa. Saat ini indikator tersebut masih bergerak turun menuju area oversold atau jenuh jual. Kondisi tersebut menunjukkan tekanan jual masih mendominasi pasar meskipun harga mulai mendekati area yang secara teknikal dianggap cukup rendah.Meski area oversold kerap menjadi sinyal awal potensi rebound, Geraldo menilai pasar masih membutuhkan konfirmasi tambahan sebelum dapat mengubah pandangan menjadi bullish. Selama belum muncul pola pembalikan yang kuat maupun peningkatan volume transaksi, peluang kenaikan masih dinilai terbatas.
"Indikator memang mulai mendekati area jenuh jual, namun belum ada konfirmasi tekanan bearish telah berakhir. Karena itu, pelaku pasar masih perlu berhati-hati terhadap potensi pelemahan lanjutan," jelas dia.
Di sisi lain, volume perdagangan juga belum menunjukkan peningkatan yang berarti. Rendahnya volume transaksi mencerminkan minat beli belum cukup kuat untuk mendorong perubahan tren. Kondisi ini semakin memperkuat pandangan bahwa pasar masih berada dalam fase bearish.
Selain dipengaruhi analisis teknikal, pergerakan emas juga masih dibayangi sejumlah sentimen fundamental yang kurang mendukung. Salah satu faktor utama adalah penguatan dolar Amerika Serikat yang masih menjadi perhatian pelaku pasar global. Ketika dolar menguat, harga emas biasanya mengalami tekanan karena menjadi lebih mahal bagi investor yang menggunakan mata uang lain.
Faktor lain yang turut membebani harga emas adalah tingginya imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat atau US Treasury Yield. Dalam kondisi tersebut, investor cenderung mengalihkan dana ke instrumen yang memberikan imbal hasil lebih tinggi dibandingkan emas yang tidak memberikan bunga atau dividen.
Data ekonomi AS masih membayangi
Pasar juga masih mencermati berbagai data ekonomi Amerika Serikat, seperti inflasi, pasar tenaga kerja, dan aktivitas sektor bisnis. Apabila data-data tersebut kembali menunjukkan hasil yang solid, ekspektasi bahwa Federal Reserve akan mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi dalam waktu yang lebih lama berpotensi semakin menguat.Kondisi tersebut umumnya menjadi sentimen positif bagi dolar AS, namun di sisi lain dapat memberikan tekanan tambahan terhadap harga emas. Selama pasar masih memperkirakan kebijakan moneter tetap ketat, ruang penguatan emas diperkirakan akan terbatas.
Meski demikian, investor tetap perlu memperhatikan perkembangan kondisi ekonomi global dan dinamika geopolitik yang sewaktu-waktu dapat mengubah arah pasar. Ketidakpastian ekonomi maupun meningkatnya risiko geopolitik dapat kembali meningkatkan permintaan terhadap emas sebagai aset safe haven sehingga berpotensi membatasi pelemahan harga.
Secara keseluruhan, Dupoin Futures menilai prospek harga emas hari ini masih cenderung negatif. Dari sisi teknikal, posisi harga yang masih berada di bawah Moving Average 21 dan 34, ditambah indikator Stochastic yang masih mengarah turun, menunjukkan bahwa tekanan bearish belum mereda.
Sementara itu, dari sisi fundamental, penguatan dolar AS, tingginya imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat, serta ekspektasi suku bunga tinggi dari Federal Reserve masih menjadi faktor utama yang membebani pergerakan emas.
"Dengan kondisi tersebut, pelaku pasar disarankan untuk mencermati area support di level USD3.984 dan USD3.957 sebagai target pelemahan berikutnya, sambil tetap mengantisipasi kemungkinan perubahan sentimen apabila muncul katalis baru dari data ekonomi maupun perkembangan global," ungkap dia.