Marak Penangkapan Ikan Sapu-sapu, Apa Langkah Setelahnya?

Ikan sapu-sapu. Sumber Inaturalist.org

Marak Penangkapan Ikan Sapu-sapu, Apa Langkah Setelahnya?

Muhamad Marup • 3 May 2026 23:11

Jakarta: Penangkapan ikan sapu-sapu di DKI Jakarta dan sejumlah daerah menjadi sorotan publik. Bahkan, penguburan ikan sapu-sapu sebagai langkah penanganan menjadi perdebatan.

Menanggapi hal tersebut, Guru Besar bidang Bioteknologi Perikanan dan Kelautan Universitas Gadjah Mada (UGM), Alim Isnansetyo, menerangkan, pemusnahan ikan sapu-sapu perlu dilakukan upaya secara komprehensif dan holistik. Bahkan pengendalian populasi ikan invasif ini perlu dilakukan secara berkesinambungan.

"Penangkapan itu harus secara berkesinambungan, terus-menerus. Bukan satu tahun sekali, tapi mungkin satu bulan sekali agar populasi tidak kembali meledak," ucap Alim, mengutip laman resmi UGM, Minggu, 3 April 2026.

Ia menjelaskan bahwa penangkapan secara masif tersebut hanya akan menjadi solusi sementara jika kondisi lingkungan tetap buruk. Menurutnya, berikut ini merupakan langkah-langkah yang bisa dilakukan selain penangkapan:
  • Perbaikan kualitas lingkungan: Tanpa perbaikan kualitas air, ikan-ikan asli tidak akan bisa bertahan, sementara sapu-sapu akan terus mendominasi.
  • Restocking atau penebaran kembali ikan-ikan endemik: Setelah lingkungan diperbaiki, introduksi kembali spesies menjadi kunci untuk mengembalikan keseimbangan ekosistem.
  • Perubahan perilaku masyarakat: Jangan melepaskan ikan sapu-sapu ke perairan sekitar. Ketika sudah besar, beberapa penghobi ikan hias ini melepas ke perairan umum.
Sebagai langkah pemusnahan yang aman, Alim merekomendasikan agar ikan tersebut dikubur ketimbang langsung dimanfaatkan secara spekulatif. Pembakaran menggunakan incinerator juga bisa jadi opsi.

"Hal ini dilakukan agar residu berbahaya atau kontaminan pada ikan tidak mencemari lingkungan," ujarnya.

Pengolahan jangan spekulatif

Pakar Beri Peringatan Keras Pengolahan Ikan Sapu-sapu: Jangan Spekulatif!

Ilustrasi Pexels

Ia memberikan peringatan keras mengenai konsumsi ikan sapu-sapu di masyarakat. Ia menegaskan bahwa di Indonesia ikan ini pada dasarnya bukan merupakan spesies yang dibudidayakan untuk dikonsumsi.

Statusnya yang tidak dibudidayakan untuk sumber pangan membuat standar keamanan pangannya (food safety) sulit dipertanggungjawabkan. Ia mengimbau masyarakat mengonsumsi ikan yang memang dibudidayakan secara sengaja dengan cara budidaya yang baik.

“Jangan mengonsumsi ikan sapu-sapu. Biasanya ikan sapu-sapu hidup di perairan yang tercemar, risiko kontaminasi logam berat pada dagingnya sangat tinggi," jelas Alim, mengutip laman resmi UGM, Minggu, 3 Mei 2026.

Alim juga tidak merekomendasikan ikan sapu-sapu yang ditangkap dari sungai tercemar ini diolah untuk hal lain. Menurutnya, jika ikan tersebut telah terkontaminasi, tidak hanya berbahaya bagi manusia, tetapi juga berbahaya bagi hewan jika dijadikan pakan atau dijadikan pupuk untuk tumbuhan.

"Harus diperhatikan mengenai prinsip kesejahteraan hewan yang kita pelihara, agar kita tidak memberikan pakan yang beracun kepada makhluk hidup lain," tegasnya.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Muhamad Marup)