Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Sayyed Mojtaba Khamenei. Foto: SAMA
Pemimpin Tertinggi Iran Perintahkan Blokir Selat Hormuz dan Ancam Pangkalan Militer AS
Fajar Nugraha • 13 March 2026 06:10
Teheran: Iran akan terus memblokir Selat Hormuz, jalur pelayaran minyak tersibuk di dunia, menurut pernyataan yang dikaitkan dengan Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei.
Pesan tersebut disiarkan di televisi pemerintah Iran, tetapi Khamenei tidak muncul secara langsung. Pesannya dibacakan oleh seorang pembaca berita.
“Iran akan membalas darah warga Iran yang tewas dalam perang dengan Amerika Serikat dan Israel,” kata Khamenei dalam pernyataan tersebut, seperti dikutip dari BBC, Jumat 13 Maret 2026.
Mojtaba juga memperingatkan negara-negara tetangga untuk berhenti menampung pangkalan AS. Ia diangkat sebagai pemimpin tertinggi pada 8 Maret setelah ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei, tewas pada hari pertama perang.
Mojtaba Khamenei kehilangan istri dan seorang putranya dalam serangan AS-Israel terhadap kompleks pemimpin tertinggi yang menewaskan ayahnya. Ibunya juga dilaporkan tewas dalam serangan itu, meskipun sebuah media Iran kemudian mengatakan bahwa ia masih hidup.
Kantor berita Reuters, mengutip seorang pejabat Iran yang tidak disebutkan namanya, melaporkan bahwa Khamenei "mengalami luka ringan", tetapi belum ada detail lebih lanjut.
Ia belum terlihat di depan umum dan belum ada foto atau video dirinya sejak menjadi pemimpin tertinggi.
Saluran berita TV pemerintah Iran menyebutnya sebagai "veteran perang Ramadan", tanpa konfirmasi lebih lanjut apakah ia terluka.
Dalam pesan publik pertama yang dikaitkan dengannya, Khamenei mengatakan Iran harus menggunakan "pengaruh untuk memblokir Selat Hormuz" karena selat tersebut merupakan area di mana "musuh sangat rentan".
Iran akan terus menargetkan pangkalan AS di wilayah tersebut, kata Khamenei dalam pernyataannya.
Teheran memiliki kebijakan "persahabatan" dengan negara-negara tetangga, tetapi ia memperingatkan mereka untuk menutup pangkalan Amerika mereka.
"Kita berbagi perbatasan darat atau maritim dengan 15 negara tetangga dan selalu berupaya menjalin hubungan yang hangat dan konstruktif dengan semuanya," kata Mojtaba.
"Negara-negara ini harus memperjelas sikap mereka terhadap para agresor terhadap tanah air kita dan para pembunuh rakyat kita,” tegasnya.
"Saya menyarankan mereka untuk menutup pangkalan-pangkalan itu sesegera mungkin,” ungkap Mojtaba.
Pemimpin baru Iran itu juga menyebutkan "kejahatan terhadap anak-anak, seperti kejahatan yang disengaja di sekolah Minab". Menurut laporan media Amerika, para penyelidik AS percaya bahwa pasukan Amerika secara keliru menyerang sebuah sekolah di Iran selatan yang terletak di dekat pangkalan militer.
Khamenei mengatakan dia mengetahui bahwa dia telah menjadi pemimpin tertinggi Iran melalui saluran TV pemerintah negara itu.
"Saya mengetahui hasil pemungutan suara Majelis Pakar yang terhormat pada saat yang sama dengan Anda dan melalui televisi Republik Islam,” imbuhnya.
Berbicara beberapa jam kemudian setelah Israel mengatakan telah melancarkan gelombang serangan baru di Teheran, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan pemimpin baru Iran itu adalah "boneka" Garda Revolusi Islam yang "tidak dapat menunjukkan wajahnya di depan umum".
Ketika ditanya tentang Khamenei dan pemimpin Hizbullah Naim Qassem, ia mengatakan, "Saya tidak akan mengeluarkan polis asuransi jiwa untuk pemimpin organisasi teroris mana pun," menurut Reuters.
Iran telah mengancam akan menyerang pengiriman melalui Selat Hormuz, yang biasanya merupakan jalur bagi seperlima minyak dunia.
Pemblokiran kapal tanker minyak untuk berlayar melalui Selat – dan serangan Iran terhadap kapal tanker minyak di Teluk – telah menyebabkan harga minyak melonjak.
Pada hari Rabu, Teheran mengatakan dunia harus siap menghadapi harga minyak USD200 per barel dan memperingatkan bahwa setiap kapal tanker yang menuju AS, Israel, dan mitranya adalah target yang sah.
Badan Energi Internasional telah memperingatkan bahwa pasar minyak mengalami "gangguan pasokan terbesar dalam sejarah."