ABC Indonesia mendorong penerapan ekonomi sirkular untuk mempercepat pengelolaan sampah yang berkelanjutan di Indonesia. Foto: dok istimewa.
Memperkuat Ekonomi Sirkular lewat Kolaborasi Pengelolaan Sampah
Ade Hapsari Lestarini • 2 July 2026 12:11
Jakarta: PT Heinz ABC Indonesia (ABC Indonesia) mendorong penerapan ekonomi sirkular melalui kolaborasi lintas sektor untuk mempercepat pengelolaan sampah yang berkelanjutan di Indonesia.
Komitmen tersebut disampaikan dalam diskusi media bertajuk Circular Economy in Action: Sinergi Kemitraan Multisektoral dalam Akselerasi Pengelolaan Sampah yang Berkelanjutan yang digelar dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup Dunia 2026.
Diskusi menghadirkan Direktur Ekonomi Sirkular dan Pengelolaan Sampah Kementerian Lingkungan Hidup Agus Rusly, General Manager Indonesia Packaging Recovery Organization (IPRO) Reza Andreanto, Founder Kita Olah Indonesia Andriansyah, serta Head of Research and Development PT Heinz ABC Indonesia Lestri Fajrinia.
Ekonomi sirkular merupakan pendekatan yang mendorong material tetap berada dalam siklus penggunaan selama mungkin melalui prinsip reduce, reuse, dan recycle (3R). Dalam praktiknya, konsep tersebut diwujudkan melalui pemilahan sampah, pengumpulan kemasan bekas, hingga proses daur ulang agar material dapat dimanfaatkan kembali sebagai bahan baku maupun produk baru.
General Counsel and Head of Corporate Affairs PT Heinz ABC Indonesia Mira Buanawati mengatakan keberhasilan ekonomi sirkular membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, industri, organisasi pengelola sampah, komunitas, dan masyarakat.
"ABC Indonesia mendukung agenda nasional dalam implementasi Extended Producer Responsibility (EPR) dan ekonomi sirkular di Indonesia. Salah satunya melalui kemitraan dengan Indonesia Packaging Recovery Organization (IPRO) sebagai platform kolaborasi produsen dalam pengelolaan kemasan pascakonsumsi," ujar Mira, dalam keterangan tertulis, Kamis, 2 Juli 2026.

General Counsel and Head of Corporate Affairs PT Heinz ABC Indonesia Mira Buanawati. Foto: dok istimewa.
Pengelolaan sampah berkelanjutan
Menurut dia, pengelolaan sampah yang berkelanjutan tidak dapat dilakukan oleh satu pihak, melainkan membutuhkan sinergi lintas sektor agar semakin banyak material dapat kembali ke rantai daur ulang dan memberikan manfaat bagi lingkungan.
Komitmen tersebut sejalan dengan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 75 Tahun 2019 tentang Peta Jalan Pengurangan Sampah oleh Produsen. Regulasi tersebut mendorong produsen berperan aktif dalam mengurangi sampah melalui prinsip 3R sekaligus mendukung implementasi Extended Producer Responsibility (EPR).
Direktur Ekonomi Sirkular dan Pengelolaan Sampah Kementerian Lingkungan Hidup Agus Rusly mengatakan transformasi dari ekonomi linear menuju ekonomi sirkular menjadi langkah penting untuk menjawab tantangan pengelolaan sampah di Indonesia.
"Implementasi EPR menjadi instrumen penting untuk memastikan produsen turut bertanggung jawab terhadap kemasan pascakonsumsi yang mereka hasilkan. Keberhasilan agenda ini membutuhkan kolaborasi yang kuat antara pemerintah, industri, pelaku pengelolaan sampah, dan masyarakat," kata Agus.
Sementara itu, General Manager IPRO Reza Andreanto mengatakan kemasan tidak berhenti menjadi limbah setelah digunakan konsumen. Menurut dia, melalui sistem pengumpulan terpilah dan daur ulang, semakin banyak kemasan yang dapat dipulihkan sehingga mengurangi kebocoran sampah ke lingkungan maupun tempat pembuangan akhir.
Founder Kita Olah Indonesia Andriansyah menambahkan, pengelolaan sampah yang efektif juga mampu menciptakan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
"Collection for recycling bukan hanya tentang mengumpulkan material yang dapat didaur ulang. Program ini juga menciptakan peluang ekonomi bagi komunitas pengelola sampah, pengepul, dan mitra daur ulang," ujar dia.
ABC Indonesia berharap kolaborasi yang melibatkan pemerintah, industri, organisasi pengelola sampah, komunitas, dan masyarakat dapat meningkatkan jumlah kemasan pascakonsumsi yang kembali masuk ke rantai daur ulang. Langkah tersebut diharapkan mendukung terciptanya sistem pengelolaan sumber daya yang lebih efisien dan berkelanjutan.