Gedung BRIN. Foto: Humas BRIN.
BRIN Prediksi Awal Puasa Ramadan Jatuh pada 19 Februari 2026
Putri Purnama Sari • 10 February 2026 12:08
Jakarta: Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memprediksi 1 Ramadan 1447 Hijriah berpotensi jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026. Perkiraan tersebut didasarkan pada perhitungan astronomi terkait posisi bulan (hilal) serta kriteria visibilitas hilal lokal yang berlaku di Indonesia.
Peneliti Pusat Riset Antariksa BRIN, Thomas Djamaluddin, menyampaikan bahwa awal Ramadan 2026 berpotensi terjadi perbedaan penetapan. Hal ini disebabkan oleh perbedaan pendekatan dalam menentukan awal bulan hijriah, yakni antara konsep hilal global dan hilal lokal.
Sebelumnya, Muhammadiyah telah menetapkan 1 Ramadan 1447 H jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026. Penetapan tersebut mengacu pada Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) sebagaimana tertuang dalam Maklumat Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nomor 2/MLM/I.0/E/2025.
Sementara itu, Pemerintah Indonesia hingga kini belum menetapkan secara resmi awal puasa. Kementerian Agama (Kemenag) dijadwalkan menggelar sidang isbat penentuan 1 Ramadan 1447 H pada Selasa, 17 Februari 2026, bertempat di Auditorium HM Rasjidi, Kantor Kemenag, Jakarta.
Dalam sidang tersebut, Kemenag akan memaparkan data hisab astronomi serta laporan hasil rukyatul hilal dari 96 titik pengamatan yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Keputusan awal Ramadan akan ditetapkan setelah dilakukan pembahasan bersama para pemangku kepentingan.
Thomas menjelaskan, potensi perbedaan penetapan awal Ramadan tahun ini bukan semata-mata karena perbedaan hasil pengamatan hilal, melainkan perbedaan metode penentuan awal bulan yang digunakan.
“Ada potensi perbedaan penentuan awal Ramadan. Sumber perbedaannya terletak pada penggunaan konsep hilal lokal dan hilal global,” ujar Thomas, yang dikutip Selasa, 10 Februari 2026.

Pantauan hilal. Foto: Medcom.id/Rhobi Shani.
Ia memprediksi pemerintah bersama mayoritas organisasi masyarakat Islam di Indonesia akan menetapkan 1 Ramadan pada 19 Februari 2026. Hal ini dikarenakan posisi hilal di kawasan Asia Tenggara saat matahari terbenam pada 17 Februari 2026 diperkirakan belum memenuhi kriteria MABIMS, yaitu tinggi hilal minimal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat.
Perbedaan penetapan awal puasa seperti ini dinilai sebagai hal yang lazim terjadi di Indonesia, mengingat adanya perbedaan metode yang digunakan, baik melalui rukyat, hisab lokal, maupun hisab global.
Meski demikian, prediksi BRIN tersebut masih bersifat perkiraan. Keputusan resmi awal Ramadan 1447 H tetap menunggu hasil sidang isbat yang akan digelar oleh Kementerian Agama.