Dokumen Rahasia New York Bongkar Mantan Pemimpin Bohong soal Kualitas Udara Usai 9/11

Wali Kota New York City Zohran Mamdani Foto: The New York Times

Dokumen Rahasia New York Bongkar Mantan Pemimpin Bohong soal Kualitas Udara Usai 9/11

Fajar Nugraha • 11 September 2026 10:07

New York: Wali Kota New York, Amerika Serikat (AS) Zohran Mamdani mengatakan bahwa warganya jatuh sakit "karena para pemimpin yang mereka percayai telah berbohong."

Pada Selasa 8 September 2026, ia merilis 170.000 halaman catatan terkait dampak serangan tersebut.

Tuduhan Zohran Mamdani meliputi mantan pemimpin Kota New York berbohong mengenai keamanan kualitas udara setelah serangan teroris 11 September, yang mengakibatkan warga dan pekerja menderita penyakit serius bertahun-tahun kemudian.

"Orang-orang jatuh sakit karena para pemimpin yang mereka percayai berbohong dan mengatakan bahwa aman bagi mereka untuk menghirup udara beracun," ujarnya dalam konferensi pers di Balai Kota, dikelilingi oleh para politisi, kerabat korban tewas pada 11 September, serta para advokat kesehatan bagi mereka yang kini menderita penyakit yang muncul bertahun-tahun setelah serangan tersebut.

"Seiring berlalunya waktu dan bertambahnya korban jiwa, kita harus menghadapi dampak dari peristiwa 11 September setiap kali ada lagi warga New York yang direnggut dari kita terlalu dini," kata Mamdani dalam acara tersebut, seperti dikutip dari The New York Times, Jumat 11 September 2026.

Mamdani menyebutkan dokumen lebih dari 170.000 halaman dokumen terkait kualitas udara beracun di sekitar lokasi runtuhnya menara kembar.

Mamdani menolak untuk menyebutkan siapa yang menurutnya telah membohongi publik dan apa sebenarnya kebohongan tersebut, meskipun ia ditanya berulang kali. Namun, pada minggu-minggu dan bulan-bulan setelah 11 September, pejabat kota dan federal—termasuk Rudolph W. Giuliani (wali kota saat serangan terjadi) dan Christine Todd Whitman (administrator Badan Perlindungan Lingkungan/EPA)—meyakinkan warga New York bahwa udara di sekitar Ground Zero aman untuk dihirup.

Akan tetapi, dokumen-dokumen yang ditinjau oleh The New York Times sebelum dirilis mengungkap berbagai kejadian di mana zat karsinogen (pemicu kanker) terdeteksi di area tersebut selama berbulan-bulan setelah serangan.

Sebuah audit dari November 2001, yang didasarkan pada informasi dari Departemen Perlindungan Lingkungan kota, mengonfirmasi adanya peningkatan kadar benzena (zat karsinogen) di dekat *Ground Zero* pada bulan tersebut, serta peningkatan konsentrasi asbes di udara wilayah Staten Island.

Sepuluh bulan setelah serangan, asbes masih ditemukan di sekitar 15 John Street, sebuah gedung yang berjarak kurang dari satu mil dari World Trade Center. Dokumen-dokumen tersebut tersimpan dalam 68 kotak di sebuah kantor pemerintah kota, tersembunyi dari pandangan publik selama lebih dari dua dekade dan baru ditemukan tahun lalu. Perilisan dokumen ini menyelesaikan gugatan hukum yang menuntut pembukaan dokumen tersebut, yang diajukan oleh organisasi advokasi 9/11 Health Watch.

Selama 12 bulan ke depan, para pejabat kota berencana untuk meninjau, menyunting, dan memublikasikan lebih banyak lagi dokumen, menurut wali kota dan pengacara utama kota, Steven Banks.

Juru bicara Giuliani tidak menanggapi permintaan komentar. Salah satu dokumen yang dirilis adalah memo yang disiapkan untuk wakil wali kota saat itu, Robert Harding; memo tersebut memperlihatkan para pejabat kota mendiskusikan potensi pertanggungjawaban hukum akibat buruknya kualitas udara.

Juru bicara Michael R. Bloomberg, yang menjabat sebagai wali kota empat bulan setelah serangan tersebut, menolak berkomentar.

Mamdani mencatat pada Selasa bahwa jumlah orang yang meninggal akibat penyakit terkait serangan tersebut telah melampaui jumlah 2.977 orang yang tewas pada hari kejadian itu sendiri—peristiwa yang genap berusia 25 tahun pada hari Jumat ini.

"Situasinya akan berbeda jika pemerintah berdiri mendampingi para penyintas dan menyediakan segala kebutuhan mereka di setiap tahapan prosesnya. Namun, kenyataannya jauh sekali dari hal tersebut," tambah Mandani.

Di antara dokumen-dokumen tersebut terdapat peta beranotasi dan lembar kerja yang merinci konsentrasi berbagai zat beracun di berbagai lokasi, serta hasil uji laboratorium yang ditugaskan oleh instansi pemerintah kota dan pengelola gedung selama proses pembersihan berlangsung.

Di 90 Church Street, sebuah gedung perkantoran besar, debu dan puing dari menara kembar masuk ke dalam gedung saat jendela-jendela pecah dan terdorong ke arah dalam. Kebakaran sempat terjadi setidaknya di empat lantai.

Pada 12 November 2001, salah satu penyewa gedung menerima laporan dari perusahaan yang disewa untuk melakukan penilaian lingkungan. Asbes ditemukan dalam puing dan debu yang mengendap di seluruh penjuru gedung.

Ditemukan pula beberapa zat beracun lainnya, termasuk dioksin—zat yang dikaitkan dengan kanker—yang terdeteksi dalam ke-11 sampel yang diambil. Zat beracun lain, seperti merkuri, bahkan ditemukan masuk hingga ke dalam lemari arsip. Laporan tersebut merekomendasikan agar semua material berpori—termasuk karpet dan ubin langit-langit—dibuang.

Dokumen-dokumen yang dirilis tersebut juga memuat draf penyelidikan dan audit terkait respons terhadap kualitas udara pascaserangan, serta korespondensi surel antarinstansi yang membahas mengenai apa yang perlu diukur dan kapan, serta informasi apa yang harus disampaikan kepada publik.

Surel yang saling dikirimkan oleh para pejabat kesehatan pada 11 Oktober 2001 menunjukkan adanya perdebatan mengenai zat beracun atau berbahaya apa saja yang perlu disertakan dalam pengujian kualitas udara.

Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), magnesium adalah salah satu zat yang membuat debu World Trade Center berbahaya jika terhirup.

Draf rencana pengujian tersebut mencatat bahwa pengujian udara ambien saja untuk mendeteksi zat beracun tidaklah memadai. Rencana itu juga mengharuskan pengujian sampel debu yang telah mengendap di dalam rumah warga.

Dokumen-dokumen lain menunjukkan bahwa pejabat kesehatan dan lingkungan terkejut dengan kadar zat beracun yang mereka deteksi sebulan setelah serangan terjadi.

Dalam surel tertanggal 15 Oktober 2001, pejabat dari Dinas Perlindungan Lingkungan (Department of Environmental Protection) kota tersebut menyatakan bahwa kadar dioksin tidak menurun sebagaimana yang diharapkan. Hal itu kemungkinan disebabkan oleh kebakaran bawah tanah yang terus berlangsung di lokasi World Trade Center selama tiga bulan.

Dalam surel tersebut, para pejabat menyebutkan bahwa EPA telah melaporkan kadar dioksin yang lebih tinggi di empat lokasi yang sedang dipantau. Surel itu juga menyatakan bahwa "kadar benzena yang tinggi kembali ditemukan."

"Kini terdapat kekhawatiran yang lebih besar terkait dioksin dibandingkan sebelumnya, karena EPA tidak menyangka kita akan menghadapi masalah dioksin selama ini. Mereka mengira api sudah akan padam," demikian bunyi surel yang ditulis oleh seorang pejabat Dinas Perlindungan Lingkungan tersebut.

Menyesatkan warga

Meskipun dokumen-dokumen tersebut tampaknya mengindikasikan bahwa pejabat pemerintah menyesatkan masyarakat mengenai kualitas udara, belum jelas apakah pengungkapan informasi ini akan membuat pemerintah kota berisiko digugat oleh pihak-pihak yang terdampak.

Andrew Carboy, seorang pengacara untuk 9/11 Health Watch, mengatakan bahwa siapa pun yang menerima dana dari Dana Kompensasi Korban 11 September (September 11th Victim Compensation Fund) milik pemerintah federal telah menyetujui untuk tidak menggugat pemerintah kota. Ia juga mengatakan bahwa keputusan pengadilan banding yang menguatkan argumen lama pemerintah kota—bahwa serangan tersebut merupakan "tindakan perang"—memberikan perlindungan hukum tambahan.

Jelas bahwa pejabat kota mengetahui adanya zat beracun yang terdeteksi di kawasan permukiman yang jaraknya cukup jauh dari World Trade Center. Pada tanggal 14 September 2001, pemerintah kota telah menetapkan sejumlah lokasi pengambilan sampel asbes, termasuk satu lokasi di East Village yang berjarak lebih dari sekitar 1,6 km. Menurut sebuah surel tertanggal 1 Oktober, kadar asbes yang terdeteksi di lokasi tersebut terkadang melampaui ambang batas yang ditetapkan pemerintah kota.

Pada saat itu, Dr. Philip Landrigan menjabat sebagai profesor kedokteran preventif di Mount Sinai, Manhattan, yang memiliki program besar di bidang kesehatan kerja dan lingkungan.

Ia mencatat bahwa meskipun pejabat kota dan pemerintah federal menetapkan ambang batas konsentrasi asbes dalam sampel debu dan udara untuk menentukan area dan bangunan mana yang boleh ditempati kembali, dari sudut pandang medis, "tidak ada tingkat risiko asbes yang dianggap aman."

Paparan asbes, ujarnya, menyebabkan kerusakan secara perlahan seiring berjalannya waktu.

"Polutan yang dampaknya paling langsung terasa berbahaya bagi manusia adalah debu semen yang telah hancur menjadi partikel halus," kata Dr. Landrigan.

Polutan ini kurang mendapat perhatian publik, namun belakangan diidentifikasi oleh para peneliti sebagai penyebab "batuk World Trade Center"—kondisi batuk parah dan sulit disembuhkan yang dialami oleh para petugas penyelamatan dan pemulihan.

"Menghirup debu dari World Trade Center itu ibarat menghirup Drano," tambah Dr. Landrigan.

Turut mendampingi Mamdani dalam konferensi pers di Balai Kota pada hari Selasa itu adalah komedian Jon Stewart, yang telah menjadi pendukung vokal bagi kesehatan para penyintas peristiwa 11 September.

Dalam sambutannya, Stewart menyayangkan betapa beratnya "perjuangan" untuk membuat orang memahami hal yang tampaknya sudah diketahui oleh semua penduduk kawasan Lower Manhattan: "bahwa ada racun di udara, di permukaan tanah, di ambang jendela, di dalam unit AC, serta yang menempel pada hewan peliharaan dan pakaian Anda—dan racun itu bertahan di sana selama berbulan-bulan."

"Semua orang tahu," pungkas Stewart.

(Fajar Nugraha)