Ekspor Industri Tuna Indonesia Tembus USD1 Miliar

Ikan tuna. Foto: dok MI/Panca Syukarni.

Ekspor Industri Tuna Indonesia Tembus USD1 Miliar

Husen Miftahudin • 5 May 2026 20:10

Jakarta: Industri tuna Indonesia memasuki fase baru transformasi dengan nilai ekspor yang telah melampaui USD1 miliar pada 2025. Capaian tersebut membuktikan sektor ini tidak lagi sekadar bertumpu pada volume produksi, tetapi mulai bergerak menuju industri bernilai tambah yang menggabungkan keberlanjutan, inovasi, dan pendekatan berbasis pasar.
 
"Industri tuna Indonesia tidak bisa lagi bergantung pada volume tangkapan semata. Dengan tekanan terhadap stok yang semakin nyata, kita perlu beralih ke pendekatan berbasis nilai, di mana setiap ikan dimanfaatkan secara optimal," kata Indonesia Tuna Consortium Lead Thilma Komaling, dikutip dari keterangan tertulis, Selasa, 5 Mei 2026.
 
"Saat ini, hingga 40 persen sampai 50 persen bagian tuna belum dimanfaatkan secara maksimal, padahal memiliki potensi ekonomi tinggi. Melalui pendekatan 100 persen utilization, kita dapat meningkatkan nilai tanpa menambah tekanan terhadap sumber daya," tambah dia.
 
Momentum ini menjadi sorotan dalam Tuna Talks 2026, yang diselenggarakan oleh Tuna Consortium dalam rangka World Tuna Day pada Sabtu, 2 Mei 2026, di Jakarta. Mengusung tema "From Ocean Science to (Pop) Culture: Reimagining Indonesia’s Tuna Future", forum ini mempertemukan pemangku kepentingan lintas sektor; mulai dari pemerintah, industri, akademisi, hingga pelaku ekonomi kreatif; untuk membahas arah masa depan industri tuna Indonesia.
 
Berdasarkan data Kementerian Perdagangan, kinerja ekspor tuna Indonesia menunjukkan tren positif dalam beberapa tahun terakhir, dengan pertumbuhan sekitar 7,46 persen sepanjang 2021-2025. Amerika Serikat, Thailand, dan Jepang menjadi pasar utama dengan komposisi ekspor masing-masing sebesar 19,59 persen; 16,38 persen; dan 15,58 persen dari total nilai ekspor tuna Indonesia sebesar USD,038 miliar pada 2025.
 
Hal mencerminkan posisi strategis Indonesia dalam rantai pasok global. Produk bernilai tambah seperti tuna olahan dan fillet kini mendominasi ekspor, menandakan pergeseran dari komoditas mentah menuju produk dengan nilai ekonomi lebih tinggi.
 
"Dengan nilai ekspor yang telah melampaui USD1 miliar pada 2025, sektor tuna memiliki potensi besar untuk terus berkembang melalui diversifikasi produk, peningkatan kualitas, dan penguatan akses pasar global," jelas Direktur Pengembangan Ekspor Jasa dan Produk Kreatif, Kementerian Perdagangan Ari Satria.
 

Baca juga: Menaker: Ratifikasi ILO 188 Pastikan Perlindungan Pekerja Perikanan


(Ilustrasi. Foto: dok MI)
 

Perkuat tata kelola perikanan tuna

 
Seiring meningkatnya permintaan global terhadap produk seafood berkelanjutan, aspek tata kelola dan transparansi menjadi faktor kunci. Pemerintah Indonesia terus memperkuat pengelolaan perikanan tuna melalui pendekatan berbasis kuota, pengawasan, serta sertifikasi internasional.
 
"Pemerintah terus memperkuat tata kelola perikanan tuna melalui regulasi berbasis kuota, pengawasan, dan sertifikasi internasional, guna memastikan keberlanjutan sumber daya sekaligus menjaga daya saing Indonesia di pasar global," ungkap Direktur Pengelolaan Sumber Daya Ikan, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Syarif Abd. Raup.
 
Di sisi lain, pemanfaatan teknologi dan data mulai memainkan peran penting dalam mendukung transformasi industri. Inisiatif berbasis digital dan kecerdasan buatan memungkinkan pengumpulan data perikanan yang lebih akurat dan transparan, yang menjadi fondasi penting dalam pengelolaan stok ikan dan peningkatan kepercayaan pasar.
 
"Pemanfaatan teknologi seperti sistem digital dan artificial intelligence memungkinkan kita mengumpulkan data perikanan secara lebih akurat dan real-time. Ini penting untuk memastikan pengelolaan stok ikan yang berkelanjutan sekaligus mendukung transparansi dalam rantai pasok," sambung Shinta Yuniarta dari Yayasan Konservasi Alam Nusantara.
 
Selain penguatan tata kelola dan data, inovasi menjadi kunci dalam meningkatkan nilai tambah industri. Pendekatan pemanfaatan menyeluruh (100 persen utilization) mulai didorong untuk memastikan setiap bagian tuna dapat memberikan nilai ekonomi.
 
Dalam praktik konvensional, diperkirakan hingga 40 persen sampai 50 persen bagian tuna belum dimanfaatkan secara optimal, padahal bagian seperti kulit, tulang, dan sisik memiliki nilai ekonomi tinggi. Kolagen dari kulit tuna, misalnya, berada dalam industri global yang diproyeksikan melampaui USD9 miliar pada 2030, sementara produk turunan seperti gelatin, biopeptida, dan bahan farmasi memiliki nilai jual lebih tinggi dibandingkan produk segar atau beku.
 
Pendekatan ini membuka peluang untuk menghasilkan nilai ekonomi berlipat dari satu ekor tuna tanpa meningkatkan tekanan terhadap stok, sekaligus memperkuat arah transformasi industri menuju model yang lebih efisien dan berkelanjutan.
 
"Kami melihat potensi besar dari pemanfaatan tuna secara menyeluruh, termasuk melalui pengembangan collagen yang dapat diaplikasikan dalam berbagai produk pangan dan kesehatan. Kolaborasi ini menjadi langkah awal untuk membawa inovasi tersebut lebih dekat ke masyarakat," jelas Founder & CEO Collabit Michella Irawan.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Husen Miftahudin)