Hunian Sementara Jadi Harapan Baru Warga Terdampak Bencana di Aceh Tengah

Ilustrasi sejumlah warga penyintas bencana melintas di depan tenda darurat pinggir jalan lintas Kabupaten Aceh Timur dan Gayo Lues di Desa Pepelah, Kecamatan Pining, Gayo Lues, Aceh. ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas/nz

Hunian Sementara Jadi Harapan Baru Warga Terdampak Bencana di Aceh Tengah

Deny Irwanto • 17 March 2026 18:24

Aceh: Upaya pemulihan pascabencana terus dilakukan di Desa Gewat, Kecamatan Linge, Kabupaten Aceh Tengah, setelah banjir bandang melanda pada akhir November 2025. Pembangunan hunian sementara (huntara) mulai dilakukan sebagai langkah awal membantu warga mendapatkan tempat tinggal yang lebih aman dan layak.

Dekan Fakultas Teknik Universitas Indonesia, Kemas Ridwan Kurniawan, menyampaikan pembangunan huntara ini merupakan wujud kontribusi perguruan tinggi membantu masyarakat bangkit dari bencana.

"Sebagai institusi pendidikan teknik, FTUI memiliki tanggung jawab untuk menghadirkan solusi berbasis keilmuan yang dapat memberikan manfaat langsung bagi masyarakat. Kami berharap hunian sementara ini dapat membantu warga memiliki tempat tinggal yang aman dan nyaman sambil menata kembali kehidupan mereka," kata Kemas dalam keterangan pers dikutip, Selasa, 17 Maret 2026.

Kemas menjelaskan pembangunan huntara dimulai sejak 7 Maret 2026 dengan target 12 unit hunian bagi warga terdampak. Hingga kini, satu unit telah berdiri, sementara proses pembersihan lahan untuk pembangunan unit lainnya masih berlangsung. Sebagian unit ditargetkan rampung sebelum Hari Raya Idul Fitri, sementara sisanya akan diselesaikan setelah masa libur Lebaran.

Sebelumnya tim survei yang dipimpin Ketua Ikatan Alumni FTUI, Farrizky Astrawinata, bersama Ketua Satuan Tugas Kebencanaan FTUI, Ardiyansyah, meninjau langsung kondisi desa yang masih terdampak. Dalam kunjungan tersebut, bantuan paket sembako juga disalurkan kepada warga.


Ilustrasi sejumlah warga penyintas bencana melintas di depan tenda darurat pinggir jalan lintas di Desa Pepelah, Kecamatan Pining, Gayo Lues, Aceh. ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas.

Desa Gewat sendiri masih menghadapi tantangan akses pascabencana. Perjalanan menuju lokasi harus ditempuh melalui jalur darat yang cukup panjang, dengan kondisi infrastruktur yang masih dalam tahap pemulihan akibat longsor.

Huntara yang dibangun mengusung desain rumah panggung berukuran 4 x 7,2 meter, terinspirasi dari rumah adat masyarakat Gayo, Uma Pitu Ruang. Selain mempertimbangkan kearifan lokal, desain ini juga mengedepankan efisiensi material serta kemudahan dalam proses pembangunan.

Struktur bangunan dirancang modular agar dapat dibangun lebih cepat dengan melibatkan partisipasi masyarakat secara gotong royong. Konsep rumah panggung juga membantu menjaga sirkulasi udara serta melindungi bangunan dari kelembapan tanah.

Lebih dari sekadar tempat tinggal sementara, hunian ini dirancang sebagai hunian berkembang, yang memungkinkan penambahan ruang secara bertahap sesuai kebutuhan warga di masa mendatang.

Pembangunan dilakukan secara kolaboratif bersama masyarakat Desa Gewat dengan pendampingan teknis dari Dompet Dhuafa serta dukungan dari pemerintah daerah setempat.

Reje Desa Gewat, Sandi Suardi, menyampaikan apresiasi atas bantuan yang diberikan kepada warganya.

"Kami sangat berterima kasih atas perhatian dan kepedulian dari FTUI serta para mitra yang telah membantu masyarakat Desa Gewat. Kehadiran hunian sementara ini sangat berarti bagi warga kami untuk dapat kembali menjalani kehidupan dengan lebih tenang sambil membangun kembali masa depan," ungkapnya.

Melalui kolaborasi berbagai pihak, pembangunan huntara ini diharapkan menjadi langkah awal dalam memulihkan kehidupan masyarakat Desa Gewat, sekaligus memberi harapan baru bagi warga untuk menata kembali masa depan mereka.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Deny Irwanto)