Safriady adalah pemerhati isu strategis. Foto: Dok/Metrotvnews.com
74 Tahun Kopassus: Menjawab Tantangan Hybrid Warfare dan Multidomain Operation Warfare
Safriady • 16 April 2026 10:37
Perjalanan 74 tahun (16 April 1952 - 16 April 2026) Komando Pasukan Khusus (Kopassus) tidak sekadar mencerminkan usia sebuah satuan elite, melainkan evolusi kapasitas militer Indonesia dalam merespons dinamika ancaman yang semakin kompleks. Peringatan tahun ini bertemakan "Garda Senyap Untuk Negeri". Dari operasi konvensional hingga penugasan kontra-terorisme, Kopassus telah membangun reputasi sebagai pasukan dengan fleksibilitas tinggi. Namun, lanskap keamanan global abad ke-21 menghadirkan spektrum ancaman baru yang tidak lagi linear. Hybrid warfare dan multidomain operation (MDO) kini menjadi kerangka utama dalam memahami konflik modern dan di titik inilah tantangan strategis Kopassus mengemuka.
Hybrid warfare merupakan bentuk peperangan yang menggabungkan instrumen militer dan non-militer secara simultan. Ancaman ini tidak hanya hadir dalam bentuk kekuatan bersenjata, tetapi juga melalui disinformasi, perang siber, tekanan ekonomi, hingga manipulasi sosial-politik. Dalam konteks ini, garis antara perang dan damai menjadi kabur. Negara atau aktor non-negara dapat melemahkan lawan tanpa deklarasi perang formal. Fenomena ini telah terlihat dalam berbagai konflik global, di mana operasi militer hanya menjadi salah satu dari sekian banyak instrumen yang digunakan.
Bagi Kopassus, yang selama ini dikenal unggul dalam operasi khusus berbasis fisik, seperti infiltrasi, sabotase, dan pembebasan sandera tantangan hybrid warfare menuntut redefinisi kapabilitas. Keunggulan tak lagi cukup diukur dari kemampuan tempur di medan konvensional, tetapi juga dari kapasitas adaptasi terhadap domain non-kinetik. Ini mencakup kemampuan analisis intelijen berbasis data, penguasaan teknologi informasi, hingga keterlibatan dalam operasi psikologis yang terintegrasi.
Sejalan dengan itu, konsep multidomain operation warfare memperluas kompleksitas medan tempur. Jika sebelumnya operasi militer terbagi dalam domain darat, laut, dan udara, kini berkembang menjadi lima domain utama yaitu darat, laut, udara, siber, dan ruang angkasa. MDO menekankan integrasi lintas domain secara simultan untuk menciptakan efek strategis yang maksimal. Dalam praktiknya, sebuah operasi tidak lagi berdiri sendiri, melainkan terhubung dalam jaringan sistem yang saling mendukung secara real-time.
Baca Juga :
Implikasi bagi Kopassus sangat signifikan. Sebagai satuan yang sering menjadi ujung tombak operasi strategis, Kopassus dituntut untuk tidak hanya mampu beroperasi di darat, tetapi juga memahami dinamika domain lain. Misalnya, operasi infiltrasi kini dapat didukung oleh intelijen siber untuk memetakan target secara presisi. Demikian pula, pengintaian dapat diperkuat dengan pemanfaatan satelit atau drone berbasis kecerdasan buatan. Ini menuntut integrasi teknologi yang sebelumnya tidak menjadi fokus utama dalam doktrin operasi khusus.
Namun demikian, transformasi menuju kesiapan menghadapi hybrid warfare dan MDO bukan tanpa kendala. Tantangan pertama terletak pada aspek sumber daya manusia. Kopassus harus mengembangkan prajurit yang tidak hanya tangguh secara fisik, tetapi juga memiliki literasi digital dan kemampuan analitis yang tinggi. Ini memerlukan perubahan dalam sistem pendidikan dan pelatihan, termasuk kurikulum yang mengakomodasi teknologi mutakhir seperti kecerdasan buatan, big data, dan keamanan siber.
Kedua, terdapat tantangan dalam aspek interoperabilitas. MDO mensyaratkan koordinasi yang erat antar matra TNI serta dengan lembaga sipil terkait. Dalam konteks Indonesia, yang memiliki struktur birokrasi kompleks, integrasi ini seringkali menghadapi hambatan struktural dan kultural. Kopassus, sebagai bagian dari TNI Angkatan Darat, perlu memperkuat sinergi dengan TNI AL, TNI AU, serta institusi lain seperti Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) dan Badan Intelijen Negara (BIN). Tanpa koordinasi yang efektif, potensi MDO tidak akan tercapai secara optimal.
Ketiga, modernisasi alutsista dan teknologi menjadi kebutuhan mendesak. Hybrid warfare dan MDO sangat bergantung pada superioritas informasi dan teknologi. Dalam hal ini, investasi pada sistem komunikasi canggih, perangkat penginderaan, serta platform berbasis AI menjadi krusial. Namun, keterbatasan anggaran pertahanan Indonesia seringkali menjadi faktor penghambat. Oleh karena itu, diperlukan strategi pengadaan yang adaptif, termasuk kerja sama internasional dan pengembangan industri pertahanan dalam negeri.
Di tengah berbagai tantangan tersebut, Kopassus memiliki modal historis yang kuat. Pengalaman panjang dalam operasi asimetris memberikan fondasi penting untuk beradaptasi dengan konsep hybrid warfare. Selain itu, kultur organisasi yang menekankan kecepatan, ketepatan, dan kerahasiaan menjadi keunggulan dalam menghadapi dinamika konflik modern. Yang diperlukan adalah akselerasi transformasi agar keunggulan tersebut tetap relevan dalam konteks kekinian.
Momentum 74 tahun Kopassus harus menjadi titik refleksi sekaligus akselerasi. Transformasi tidak bisa bersifat gradual semata, melainkan memerlukan lompatan strategis. Ini mencakup reformulasi doktrin operasi, peningkatan kualitas SDM, serta integrasi teknologi secara menyeluruh. Tanpa langkah-langkah tersebut, risiko ketertinggalan dalam menghadapi ancaman modern akan semakin besar.
Pada akhirnya, keberhasilan Kopassus dalam menjawab tantangan hybrid warfare dan multidomain operation warfare akan sangat bergantung pada kemampuannya untuk beradaptasi tanpa kehilangan jati diri. Sebagai satuan elite, Kopassus tidak hanya dituntut untuk menjadi yang terkuat, tetapi juga yang paling adaptif. Dalam dunia yang semakin kompleks dan tidak pasti, fleksibilitas dan inovasi menjadi kunci utama. Dan di situlah masa depan Kopassus akan ditentukan.
Dirgahayu Kopassus Ke 74, "Berani, Benar, Berhasil"
*Penulis adalah Pemerhati Isu Startegis dan Doktor Ilmu Komunikasi Unpad