Pilu Kasus Siswa SD Bunuh Diri di NTT, Puan Singgung Pentingnya Isu Mental dan Psikologi Anak

Puan Maharani menyoroti kasus pilu siswa SD di Ngada, NTT, yang bunuh diri. Ia menekankan pentingnya kesehatan mental anak dan sistem pendidikan ramah anak. (Foto: Dok.)

Pilu Kasus Siswa SD Bunuh Diri di NTT, Puan Singgung Pentingnya Isu Mental dan Psikologi Anak

Patrick Pinaria • 4 February 2026 18:30

Jakarta: Ketua DPR RI Puan Maharani menyoroti kasus siswa SD di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang bunuh diri karena tak bisa membeli buku dan alat tulis untuk belajar di sekolah. Ia pun menyoroti pentingnya isu kesehatan dan psikologi anak yang harus menjadi perhatian bersama.

"Kasus kematian anak di Kabupaten Ngada tersebut tentunya merupakan duka yang cukup memilukan dan harus menjadi pembelajaran," kata Puan, Rabu, 4 Februari 2026.

Seperti diketahui, seorang siswa kelas IV sekolah dasar (SD) di Kecamatan Jerebuu, Ngada, berinisial YBR (10) meninggal dunia karena gantung diri disebabkan kecewa tidak dibelikan buku tulis dan pulpen untuk sekolah. Sang ibu yang janda tidak mampu membelikan kebutuhan dasar sekolah YBR akibat sangat miskin.

Puan pun menilai, kebutuhan dasar anak yang tidak mampu terpenuhi ini menjadi sebuah teguran bagi Negara.

Puan menilai, program pendidikan dari Pemerintah tak cukup hanya dengan memberikan layanan sekolah gratis. Sebab kebutuhan penunjang sekolah seperti alat tulis bisa menjadi persoalan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu.

"Program-program pendidikan terutama beasiswa dan bantuan pendidikan harus bisa mengatasi persoalan ini," imbuh Puan.

"Sekolah harus bisa memetakan latar belakang anak didiknya, dan memastikan setiap kebutuhan pendidikan dapat diberikan," lanjut Puan.

Puan juga menyoroti pentingnya isu kesehatan mental anak. "

Kasus di NTT ini menjadi satu contoh lagi betapa psikologi anak dapat berpengaruh terhadap karakter dan keputusan mereka. Kesehatan mental anak harus menjadi perhatian," ungkap mantan Menko PMK itu.

Puan berharap meninggalnya YBR dapat menjadi pembelajaran untuk semua pihak. Terutama bagi Pemerintah dalam hal program dan sistem pendidikan nasional.
 



"Peristiwa ini harus menjadi titik balik untuk mengevaluasi sistem pendidikan yang ramah anak dan mampu menjaga kesehatan anak didik secara menyeluruh termasuk kesehatan mental dan psikologi," papar Puan.

Puan mendorong isu kesehatan mental dan psikologi bagi anak di sekolah untuk lebih diperkuat.

"Pendidikan yang baik harus mampu memberikan ruang nyaman bagi anak saat belajar. Bagaimana sekolah turut memperhatikan personal dan ekonomi siswanya," jelas perempuan pertama yang menjabat sebagai Ketua DPR RI itu.

Puan juga meminta Pemerintah untuk lebih menjangkau masyarakat di daerah untuk program-program bantuan sosial. Ia menyatakan kepedulian sosial di lingkungan sekolah harus jadi satu peta jalan dalam sistem pendidikan.

"Kita perlu lihat persoalan di Ngada secara jauh lagi, kasus ini muncul karena kemiskinan. Sehingga negara harus menghilangkan akar masalah kemiskinan," ungkap Puan.

Semasa hidup, YBR tinggal bersama neneknya yang berusia 80 tahun di pondok kecil nan reot. YBR dititipkan oleh ibunya yang bekerja sebagai petani dan buruh serabutan. Ibunya harus menafkahi lima orang anaknya, dan tidak mampu membelikan alat tulis dan buku seharga Rp10.000 saat diminta YBR.

Oleh karena itu, Puan mendorong agar program pendidikan diselaraskan dengan program-program bantuan sosial karena saling berkesinambungan.

"Program-program Pemerintah harus diarahkan untuk mengatasi persoalan mendasar dalam kasus ini, yaitu kemiskinan," tegas cucu Bung Karno tersebut.

"Jangan sampai ada nyawa generasi muda Indonesia yang hilang lagi, hanya karena merasa tertekan karena tidak mampu membeli buku dan pulpen," pungkas Puan.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Rosa Anggreati)