Mantan duta besar Inggris untuk Amerika Serikat Peter Mandelson. (EPA)
Inggris Selidiki Eks Dubes Peter Mandelson Terkait Skandal Jeffrey Epstein
Muhammad Reyhansyah • 4 February 2026 14:07
London: Kepolisian Inggris telah meluncurkan penyelidikan kriminal terhadap mantan duta besar Inggris untuk Amerika Serikat (AS), Peter Mandelson pada Selasa kemarin, menyusul tuduhan bahwa ia membocorkan informasi rahasia kepada pelaku kejahatan seksual asal AS yang telah meninggal, Jeffrey Epstein.
Langkah tersebut diumumkan hanya beberapa jam setelah Mandelson mengundurkan diri dari majelis tinggi parlemen Inggris. Skandal terkait hubungannya dengan Epstein dinilai secara efektif mengakhiri karier politiknya yang telah berlangsung selama puluhan tahun.
“Metropolitan Police kini telah meluncurkan penyelidikan terhadap seorang pria berusia 72 tahun, mantan menteri pemerintah, atas dugaan pelanggaran penyalahgunaan jabatan publik,” kata Komandan Ella Marriott dari kepolisian London dalam sebuah pernyataan, dikutip dari Channel News Asia, Rabu, 4 Februari 2026.
Dokumen dan Dugaan Aliran Dana
Mandelson, tokoh sentral yang kerap memicu kontroversi dalam politik Inggris dan pernah dijuluki “Prince of Darkness”, kini menjadi bagian dari deretan bangsawan dan politisi yang terseret dalam pusaran skandal Epstein.Pekan lalu, Departemen Kehakiman AS merilis sejumlah dokumen yang berisi korespondensi email antara Epstein yang meninggal karena bunuh diri di penjara pada 2019 dengan berbagai tokoh berpengaruh. Dokumen-dokumen itu kerap menyingkap hubungan akrab, dugaan transaksi keuangan ilegal, serta foto-foto pribadi.
Catatan yang dirilis pada Jumat menunjukkan bahwa pada 2009, saat menjabat sebagai menteri bisnis, Mandelson meneruskan sebuah ringkasan ekonomi kepada Epstein yang sejatinya ditujukan untuk perdana menteri saat itu, Gordon Brown. Pesan tersebut disertai keterangan, “Catatan menarik yang sudah dikirim ke PM.”
Dalam email lain, Epstein yang dibebaskan dari penjara pada 2009 setelah menjalani hukuman 18 bulan atas kasus permintaan jasa seksual dari anak di bawah umur menghubungi Mandelson pada Mei 2010 untuk menanyakan rencana bailout Uni Eropa terhadap Yunani.
“Sumber-sumber memberi tahu saya soal dana talangan 500 miliar euro, hampir rampung (sic),” tulis Epstein. Mandelson membalas, “Seharusnya diumumkan malam ini.”
Dokumen juga menunjukkan Epstein diduga mentransfer total £55.000 dalam tiga kali pembayaran ke rekening yang terkait dengan Mandelson pada periode 2003–2004.
Mandelson mengatakan kepada BBC pada Minggu bahwa ia tidak mengingat adanya transfer dana tersebut dan mempertanyakan keaslian dokumen yang beredar.
Reaksi Pemerintah Inggris
Keputusan Mandelson mundur diambil tak lama setelah Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menyatakan bahwa ia telah “mengecewakan negaranya”. Menurut ringkasan resmi Downing Street, Starmer mengatakan kepada para menteri bahwa ia “terkejut” oleh pengungkapan terbaru terkait Mandelson.“Dugaan penerusan email yang berisi urusan pemerintah yang sangat sensitif merupakan tindakan yang memalukan,” kata Starmer. Ia menambahkan belum merasa “yakin bahwa keseluruhan informasi terkait hubungan Mandelson dengan Epstein telah sepenuhnya terungkap."
Starmer juga menegaskan pemerintah akan “bekerja sama” dengan setiap penyelidikan kepolisian. Kepolisian Metropolitan mengonfirmasi telah menerima “rujukan dari pemerintah Inggris”. Mantan perdana menteri Gordon Brown, yang menjabat saat Mandelson menjadi menteri bisnis pada 2008–2010, menyatakan telah mengirimkan informasi “yang relevan” kepada kepolisian.
Profesor hukum pidana dari London School of Economics, Jeremy Horder, mengatakan kepada AFP bahwa “korupsi dalam jabatan publik umumnya dipandang sebagai pelanggaran serius terhadap kepercayaan publik, dan vonis atas pelanggaran tersebut hampir selalu berujung pada hukuman penjara”.
Bayang-Bayang Panjang Skandal Epstein
Starmer sebelumnya menuai kritik atas keputusannya menunjuk Mandelson sebagai duta besar Inggris untuk Washington, sebelum mencopotnya pada September lalu kurang dari setahun sejak penunjukan karena kaitannya dengan Epstein.Skandal Epstein terus membayangi Washington dan Eropa, menyeret sejumlah nama besar di dunia politik. Dokumen yang sebelumnya dipublikasikan serta memoar anumerta Virginia Giuffre, salah satu penuduh Epstein, mendorong Raja Charles III tahun lalu mencabut seluruh gelar kerajaan Pangeran Andrew dan memerintahkannya meninggalkan kediaman resminya di Windsor.
Giuffre, yang meninggal karena bunuh diri tahun lalu, menuduh Andrew melakukan pelecehan seksual. Andrew membantah tuduhan tersebut, namun pada 2022 membayar penyelesaian senilai jutaan poundsterling tanpa mengakui kesalahan. Mantan istrinya, Sarah Ferguson, juga terseret dalam skandal ini melalui serangkaian email memalukan, dan yayasannya, “Sarah’s Trust," mengumumkan akan ditutup.
Di Amerika Serikat, Presiden Donald Trump sempat berupaya menghalangi pengungkapan berkas penyelidikan terkait Epstein, yang selama bertahun-tahun bergaul di lingkaran elite global.
Mantan presiden AS Bill Clinton dan istrinya, Hillary Clinton, dijadwalkan memberikan kesaksian dalam penyelidikan DPR AS pada 26 dan 27 Februari. Baik Trump maupun pasangan Clinton tidak dituduh melakukan pelanggaran pidana terkait Epstein.
Sementara itu, Komisi Eropa menyatakan akan meninjau apakah Mandelson yang menjabat sebagai komisioner perdagangan Uni Eropa pada 2004–2008 melanggar kode etik lembaga tersebut akibat hubungannya dengan Epstein.
Mandelson, yang dikenal sebagai arsitek di balik kebangkitan elektoral Partai Buruh pada era 1990-an di bawah Tony Blair, mengundurkan diri dari partai itu pada Minggu dengan alasan ingin menghindarkan Partai Buruh dari “rasa malu lebih lanjut” akibat rentetan pengungkapan tersebut.
Baca juga: Pangeran Edward Angkat Bicara soal Epstein, Pangeran Andrew Kembali Disorot