Kelompok Ekstremis Bersenjata Serang Desa Nigeria Barat, 162 Orang Tewas

Ilustrasi: Medcom.id

Kelompok Ekstremis Bersenjata Serang Desa Nigeria Barat, 162 Orang Tewas

Muhammad Reyhansyah • 5 February 2026 12:23

Kwara: Kelompok ekstremis bersenjata menewaskan sedikitnya 162 orang dalam serangan terhadap dua desa di wilayah barat Nigeria, menurut seorang anggota parlemen setempat pada Rabu, 4 Februari 2026. Insiden ini menjadi salah satu serangan paling mematikan dalam beberapa bulan terakhir.

Serangan tersebut menyasar desa Woro dan Nuku di negara bagian Kwara pada Selasa malam. Anggota parlemen yang mewakili wilayah itu, Mohammed Omar Bio, mengatakan kepada The Associated Press bahwa aksi kekerasan tersebut dilakukan oleh Lakurawa, kelompok bersenjata yang berafiliasi dengan kelompok Islamic State.

Hingga kini, belum ada pihak yang mengklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut.

Sekretaris Palang Merah di negara bagian Kwara, Ayodeji Emmanuel Babaomo, mengatakan organisasinya belum dapat menjangkau lokasi kejadian. Ia menyebut wilayah tersebut sangat terpencil, berjarak sekitar delapan jam perjalanan dari ibu kota negara bagian dan berada dekat perbatasan Nigeria dengan Benin. Menurutnya, “puluhan orang tewas” dalam serangan itu.

Rekaman yang ditayangkan televisi lokal memperlihatkan jasad-jasad tergeletak berlumuran darah di tanah, sebagian dengan tangan terikat, serta rumah-rumah yang terbakar.

Gubernur Kwara, AbdulRahman AbdulRazaq, menyebut serangan itu sebagai “ungkapan pengecut dari frustrasi sel-sel teroris” sebagai respons terhadap operasi militer yang tengah berlangsung melawan kelompok ekstremis bersenjata di negara bagian tersebut.


Krisis Keamanan yang Kian Meluas

Dilansir dari France24, Kamis, 5 Februari 2026, Nigeria saat ini berada dalam cengkeraman krisis keamanan yang kompleks. Negara itu menghadapi pemberontakan kelompok militan Islam di wilayah timur laut, bersamaan dengan meningkatnya penculikan untuk tebusan oleh kelompok bersenjata di kawasan barat laut dan wilayah tengah utara dalam beberapa bulan terakhir.

Secara terpisah pada Selasa, kelompok bersenjata tak dikenal menewaskan sedikitnya 13 orang di desa Doma, negara bagian Katsina di barat laut Nigeria, menurut juru bicara kepolisian Abubakar Sadiq Aliyu. Tidak ada pihak yang mengaku bertanggung jawab atas serangan tersebut.

Pekan lalu, ekstremis Boko Haram di timur laut Nigeria juga menewaskan sedikitnya 36 orang dalam serangan terpisah yang menyasar sebuah lokasi konstruksi dan pangkalan militer.

Kelompok bersenjata yang beroperasi di Nigeria mencakup setidaknya dua kelompok yang berafiliasi dengan Islamic State (ISIS). Salah satunya adalah cabang Boko Haram yang dikenal sebagai Islamic State West Africa Province di timur laut, serta kelompok yang lebih jarang dikenal, Islamic State Sahel Province, yang secara lokal disebut Lakurawa dan aktif di wilayah barat laut.

Militer Nigeria sebelumnya menyatakan bahwa Lakurawa memiliki akar di negara tetangga Niger dan menjadi semakin aktif di komunitas perbatasan Nigeria setelah kudeta militer pada 2023.

Namun, peneliti dari Hudson Institute yang berbasis di Washington, James Barnett, mengatakan serangan di negara bagian Kwara kemungkinan besar dilakukan oleh Jama’atu Ahlis Sunna Lidda’awati wal-Jihad (JAS), salah satu faksi Boko Haram yang disebut bertanggung jawab atas sejumlah pembantaian sebelumnya di wilayah tersebut.

Pada Selasa, kepala Komando Afrika Amerika Serikat menyatakan bahwa AS telah mengirimkan sejumlah kecil perwira militer ke Nigeria sebagai bagian terbaru dari respons terhadap krisis keamanan. Pada Desember lalu, pasukan AS melancarkan serangan udara terhadap militan yang berafiliasi dengan Islamic State di Nigeria.

Sebagai negara dengan populasi terbesar di Afrika, Nigeria juga berada dalam sorotan diplomatik Amerika Serikat menyusul ancaman Presiden AS Donald Trump untuk menyerang negara tersebut, dengan tuduhan bahwa pemerintah Nigeria tidak berbuat cukup untuk melindungi warga Kristen.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Fajar Nugraha)