Ilustrasi. Foto: Dok MI
BI: Prospek Ekonomi Global Belum Kuat, Ketidakpastian Tetap Tinggi
Eko Nordiansyah • 23 September 2026 16:47
Jakarta: Bank Indonesia (BI) memandang prospek perekonomian global belum kuat, disertai dengan ketidakpastian pasar keuangan yang tetap tinggi.
Tensi perang di Timur Tengah yang kembali meningkat semakin mendorong tingginya harga minyak yang sempat menyentuh USD132 dolar AS, sebelum kemudian kembali turun ke level di bawah USD100 per barel pada 22 September 2026. Harga berbagai komoditas dunia turut mengalami kenaikan.
"Pertumbuhan ekonomi global 2026 diprakirakan masih lemah sekitar tiga persen dan diikuti tekanan inflasi yang meningkat menjadi sekitar empat persen," kata Gubernur BI Destry Damayanti dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI di Jakarta, dikutip dari Antara, Rabu, 23 September 2026.
(1).jpeg)
(Ilustrasi. Foto: Dok Metrotvnews.com)
Kebijakan moneter global lebih ketat
Destry mencatat bahwa kebijakan moneter global menjadi lebih ketat, termasuk kenaikan suku bunga kebijakan moneter AS atau Fed Funds Rate (FFR) menjadi 3,75 persen hingga empat persen pada September 2026, dengan kemungkinan peningkatan kembali yang masih tinggi.Imbal hasil atau yield US Treasury juga meningkat seiring ekspektasi kenaikan Fed Funds Rate dan defisit anggaran pemerintah Amerika Serikat (AS) yang besar.
Lebih lanjut, referensi investor global terhadap investasi portofolio ke negara emerging market tertahan dan berdampak pada tetap kuatnya indeks mata uang dolar AS terhadap negara maju dan negara berkembang.
“Kondisi ini mengharuskan penguatan respon dan sinergi kebijakan fiskal dan moneter guna memperkuat ketahanan eksternal, menjaga stabilitas, dan mendorong pertumbuhan ekonomi domestik,” kata Destry.