Ilustrasi Pexels
Sejarah Masjid Al-Aqsa, Tempat Suci yang Berkaitan dengan Isra Mi’raj
Putri Purnama Sari • 26 September 2026 05:23
Jakarta: Masjid Al-Aqsa merupakan salah satu tempat suci yang memiliki kedudukan penting dalam sejarah Islam. Masjid ini berada di Kota Tua Yerusalem dan menjadi bagian dari kompleks Al-Haram Al-Syarif. Kawasan tersebut juga memiliki kaitan erat dengan peristiwa Isra dan Mi’raj Nabi Muhammad saw.
Masjid Al-Aqsa juga dikenal sebagai kiblat pertama umat Islam sebelum arah kiblat dipindahkan ke Ka’bah di Masjidil Haram, Makkah.
Istilah Masjid Al-Aqsa tidak hanya merujuk pada satu bangunan. Nama tersebut juga digunakan untuk menyebut keseluruhan kompleks yang di dalamnya terdapat sejumlah bangunan dan tempat penting, seperti Masjid Qibli, Qubatush Shakhrah atau Dome of the Rock, Mushala Marwani, serta area terbuka di sekitarnya.
Britannica juga mencatat bahwa istilah Al-Aqsa kerap digunakan untuk merujuk pada keseluruhan kompleks Al-Haram Al-Syarif.
Sejarah Masjid Al-Aqsa
Kawasan Baitul Maqdis yang menjadi lokasi kompleks Masjid Al-Aqsa memiliki sejarah panjang sebelum masa Islam. Dalam tradisi Islam, kawasan tersebut dikaitkan dengan para nabi terdahulu.
Setelah Islam datang, Al-Aqsa menjadi salah satu tempat suci utama umat Islam. Ketika Yerusalem berada di bawah pemerintahan Islam pada abad ke-7, kawasan tersebut kemudian berkembang sebagai pusat peribadatan umat Islam.
Pada masa Dinasti Umayyah, pembangunan kompleks Al-Aqsa semakin berkembang. Khalifah Abdul Malik bin Marwan membangun Qubatush Shakhrah atau Dome of the Rock, sementara pembangunan Masjid Al-Aqsa dilanjutkan dan dikembangkan pada masa putranya, Al-Walid.
Sejumlah kajian sejarah memang memiliki perbedaan mengenai pembagian peran Abdul Malik dan Al-Walid dalam pembangunan Masjid Al-Aqsa, tetapi keduanya terkait erat dengan pembangunan besar kompleks tersebut pada masa Umayyah.
Kompleks Al-Aqsa kemudian mengalami sejumlah kerusakan akibat gempa bumi dan beberapa kali menjalani pembangunan serta renovasi. Salah satu gempa besar terjadi pada 746 M yang menyebabkan kerusakan pada bangunan masjid. Berbagai perbaikan kemudian dilakukan oleh penguasa setelahnya.
Pada masa Perang Salib, Masjid Al-Aqsa sempat mengalami perubahan fungsi. Setelah Yerusalem direbut kembali oleh Salahuddin Al-Ayyubi pada 1187, fungsi kawasan tersebut sebagai tempat ibadah umat Islam dikembalikan.
Renovasi dan pemeliharaan kompleks Al-Aqsa kemudian terus berlangsung pada masa pemerintahan berikutnya, termasuk Mamluk dan Utsmaniyah.
Masjid Al-Aqsa dan Peristiwa Isra Mi’raj
Masjid Al-Aqsa memiliki kaitan erat dengan peristiwa Isra Mi’raj Nabi Muhammad saw. Dalam perjalanan Isra, Nabi Muhammad saw. diperjalankan pada malam hari dari Masjidil Haram di Makkah menuju Masjid Al-Aqsa di Yerusalem. Perjalanan tersebut kemudian dilanjutkan dengan Mi’raj.
Peristiwa Isra disebutkan secara langsung dalam Al-Qur’an Surah Al-Isra ayat 1:

Artinya: “Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.”
Ayat tersebut menjadi salah satu landasan utama mengenai hubungan Masjid Al-Aqsa dengan perjalanan Isra Nabi Muhammad saw.
Masjid Al-Aqsa Pernah Mengalami Kerusakan dan Renovasi
Sepanjang sejarahnya, kompleks Masjid Al-Aqsa mengalami berbagai kerusakan dan pembangunan kembali, termasuk akibat gempa bumi.
Pada 746 M, gempa bumi menyebabkan kerusakan pada bangunan masjid. Setelah itu, pembangunan kembali dilakukan pada masa pemerintahan Abbasiyah. Kompleks tersebut kembali mengalami kerusakan akibat gempa pada abad ke-11 dan kemudian menjalani pembangunan serta perbaikan.
Seiring pergantian kekuasaan di Yerusalem, kompleks Al-Aqsa juga mengalami perubahan dan renovasi pada berbagai periode. Struktur bangunan dan elemen arsitekturnya terus dipelihara hingga masa modern.
Kondisi Terkini Masjid Al-Aqsa
Hingga September 2026, kondisi kompleks Masjid Al-Aqsa masih menjadi perhatian di tengah ketegangan dan pembatasan akses di kawasan Yerusalem.
Pada 20 dan 21 September 2026, situasi di kompleks Al-Aqsa kembali menjadi sorotan. Kantor berita Palestina WAFA melaporkan sebanyak 458 orang memasuki kompleks Masjid Al-Aqsa pada 21 September melalui Gerbang Maghribi dengan pengawalan pasukan Israel.
Kegubernuran Yerusalem kemudian melaporkan bahwa pada 20 dan 21 September terdapat total 1.678 orang yang memasuki kompleks tersebut. Menurut laporan itu, jumlah tersebut terdiri dari 992 orang pada 20 September dan 686 orang pada 21 September.
Situasi tersebut berlangsung bertepatan dengan peringatan Yom Kippur. Perkembangan di kompleks Al-Aqsa kemudian mendapat perhatian dari sejumlah pihak, termasuk negara-negara Arab. Mesir, misalnya, menyatakan kekhawatiran terhadap tindakan yang dinilai dapat memengaruhi status quo historis dan hukum di kawasan tersebut.
Sebelumnya, pada April 2026, Masjid Al-Aqsa juga menjadi perhatian setelah ditutup selama sekitar 40 hari. Berdasarkan laporan WAFA, kompleks tersebut kembali dibuka untuk jamaah pada 9 April 2026 setelah penutupan yang dimulai pada 28 Februari.
Dengan perkembangan tersebut, aktivitas ibadah di kompleks Masjid Al-Aqsa tetap berlangsung dalam situasi yang sensitif. Akses jamaah serta perkembangan keamanan di sekitar kompleks menjadi perhatian masyarakat Palestina dan berbagai pihak di dunia internasional.
Makna Masjid Al-Aqsa bagi Umat Islam
Masjid Al-Aqsa tidak hanya memiliki nilai sejarah, tetapi juga kedudukan penting dalam ajaran Islam. Al-Aqsa termasuk salah satu dari tiga masjid yang memiliki keutamaan khusus bagi umat Islam, bersama Masjidil Haram dan Masjid Nabawi.
Keberadaan Al-Aqsa juga berkaitan langsung dengan peristiwa Isra Nabi Muhammad SAW sebagaimana disebutkan dalam Surah Al-Isra ayat 1. Selain itu, kawasan tersebut menjadi bagian dari sejarah awal umat Islam sebagai arah kiblat sebelum kiblat dipindahkan ke Ka’bah di Masjidil Haram.
Sejarah panjang Masjid Al-Aqsa memperlihatkan kedudukannya sebagai salah satu tempat penting dalam perjalanan peradaban Islam. Hingga kini, Al-Aqsa tetap memiliki makna spiritual dan historis yang besar bagi umat Islam di berbagai penjuru dunia.