Rumput Purun Naik Kelas, Anyaman Lokal Kini Masuk Pasar Modern

Pemanfaatan rumput purun menjadi produk bernilai tambah. Foto: Dok istimewa

Rumput Purun Naik Kelas, Anyaman Lokal Kini Masuk Pasar Modern

Eko Nordiansyah • 5 October 2026 14:04

Jakarta: Gaia Weave, sebuah wirausaha sosial yang memanfaatkan rumput purun (lepironia articulata) dari lahan basah Kalimantan Selatan (Kalsel) menjadi produk fungsional bernilai tambah. Inisiatif ini menghubungkan inovasi material, keterampilan tradisional, akses pasar, dan peluang ekonomi bagi masyarakat pedesaan.

Alexandra Christy Untono, siswi kelas 12 ACS Jakarta yang mengembangkan Gaia Weave mengatakan, purun telah lama dimanfaatkan masyarakat Kalimantan Selatan sebagai bahan anyaman dan tumbuh secara alami di lingkungan yang basah, termasuk kawasan gambut dan rawa.

“Purun tumbuh subur di lingkungan yang basah. Dengan menciptakan nilai ekonomi dari purun, kami ingin membantu membangun insentif agar masyarakat tetap melihat nilai dari lanskap tempat purun tumbuh,” ujar Alexandra dalam keterangannya, Senin, 5 Oktober 2026.

Di tengah kebutuhan untuk menjaga ekosistem gambut, ia mengungkapkan, purun menawarkan sebuah titik temu antara kepentingan lingkungan dan ekonomi masyarakat. Tanaman ini tumbuh subur pada kondisi lahan basah dan dapat dipanen dalam siklus tiga hingga enam bulan.

“Dengan memberikan nilai ekonomi yang lebih tinggi pada purun yang tumbuh di lanskap tersebut, pemanfaatannya dapat menjadi salah satu cara untuk memperkuat hubungan antara kesejahteraan masyarakat dan keberlanjutan lingkungan asal material,” kata dia.


(Gaia Weave, sebuah wirausaha sosial yang memanfaatkan rumput purun. Foto: Dok istimewa)

Pemberdayaan perajin perempuan

Gaia Weave yang didirikan Alexandra pada 2025 membangun model dari hulu hingga hilir. Awalnya, purun diproses dan dianyam oleh perajin lokal, lalu dikembangkan menjadi produk seperti tech organizer, document pouch, tas, aksesori, dan kebutuhan rumah tangga.

Saat ini, Gaia Weave bermitra dengan 126 perajin di 15 desa di Kalimantan Selatan dan memiliki kapasitas produksi sekitar 6.000 unit per bulan. Produk-produknya telah tersedia di lebih dari 100 gerai ritel, serta mulai digunakan pelanggan korporasi untuk kebutuhan merchandise, acara, dan hadiah karyawan.

Kemitraan Gaia Weave telah membantu meningkatkan pendapatan perajin dari sebelumnya sekitar Rp1 juta sampai Rp1,5 juta menjadi Rp2,7 juta hingga Rp3 juta per bulan. Bagi sebagian perajin yang tetap bekerja sebagai petani, kegiatan menganyam juga menjadi sumber penghasilan tambahan yang dapat dilakukan dari rumah.

Salah satu mitranya, Idang, sebelumnya mengandalkan pekerjaan tani musiman dengan penghasilan sekitar Rp40 ribu sampai Rp50 ribu per hari. Setelah bergabung dengan Gaia Weave, ia menganyam purun setelah bekerja di ladang dan memperoleh tambahan penghasilan sekitar Rp80 ribu sampai Rp100 ribu per hari.

“Setelah pulang dari sawah, saya biasanya melanjutkan dengan menganyam di rumah. Sekarang keterampilan yang sudah kami miliki bisa menjadi tambahan penghasilan, dan hasil anyaman kami digunakan menjadi produk yang dipakai lebih banyak orang,” ujar Idang.

Target perluasan bisnis dan dampak keberlanjutan

Gaia Weave menargetkan perluasan jaringan hingga lebih dari 1.000 perajin pada 2030, pengembangan kemitraan B2B, hingga pasar ekspor. Perusahaan juga berencana mengembangkan sistem ketertelusuran berbasis QR agar konsumen dapat mengetahui perjalanan produk dan informasi asal material.

Bagi Alexandra, tujuan akhirnya adalah menunjukkan bahwa inovasi material dapat menjadi jembatan antara kebutuhan pasar modern dan keberlanjutan masyarakat serta lingkungan. Menurut dia, Gaia Weave ingin membuktikan bahwa produk sehari-hari dapat menjadi bagian dari solusi.

“Ketika material, desain, dan rantai pasok dirancang dengan tepat, sebuah produk dapat menciptakan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekaligus mendorong kita untuk lebih menghargai alam tempat material tersebut berasal,” ujar Alexandra.

(Eko Nordiansyah)