SeaBank mendorong pelestarian pesisir dan pemberdayaan perempuan melalui penanaman mangrove, literasi keuangan, dan akuaponik di Pulau Pari. (Dok. SeaBank Indonesia)
SeaBank Dorong Pelestarian Pesisir dan Pemberdayaan Perempuan di Pulau Pari
Duta Erlangga • 7 October 2026 18:07
Jakarta: Menjaga kelestarian ekosistem pesisir sekaligus memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat menjadi fokus program “Women of the Sea: The Blue Economy Development” di Pulau Pari, Kepulauan Seribu.
Program SeaBank bersama Yayasan Pandu Laut tersebut mencakup pemulihan lingkungan pesisir, penanaman mangrove, aksi bersih pantai, literasi keuangan, hingga pengenalan sistem akuaponik kepada masyarakat.
Aksi pemulihan lingkungan dipusatkan di Pantai Rengge, Pulau Pari, yang menjadi salah satu destinasi wisata di kawasan Kepulauan Seribu. Sebelumnya, abrasi di kawasan ini telah mengikis garis pantai hingga sembilan meter dari daratan.

SeaBank Indonesia melakukan penanaman 1.000 mangrove di Pulau Pari, Kepulauan Seribu. (Dok. SeaBank Indonesia)
Kondisi tersebut mendorong penanaman 1.000 mangrove sebagai upaya membantu melindungi kawasan pantai dari abrasi dan dampak perubahan iklim. Kegiatan ini melanjutkan penanaman 1.000 mangrove yang telah dilakukan SeaBank pada Agustus 2022 di kawasan sekitar.
Selain penanaman mangrove, aksi bersih pantai atau beach clean up juga dilakukan untuk mencegah pencemaran sampah plastik laut sekaligus mengedukasi warga dan wisatawan mengenai tata kelola sampah yang bertanggung jawab.

SeaBank Indonesia menggelar aksi bersih-bersih pantai atau beach clean up. (Dok. SeaBank Indonesia)
Tak hanya lingkungan, program tersebut juga menyentuh aspek pemberdayaan ekonomi masyarakat. SeaBank menggelar literasi keuangan bagi pelaku usaha mikro rumahan, khususnya perempuan yang turut menggerakkan ekonomi keluarga melalui sektor pariwisata, seperti pengelolaan homestay, penyewaan perahu, hingga kuliner lokal.

SeaBank menggelar literasi keuangan bagi pelaku usaha mikro rumahan. (Dok. SeaBank Indonesia)
Direktur Keuangan SeaBank Indonesia Lindawati Octaviani mengatakan edukasi tersebut dirancang agar mudah dipahami dengan mengenalkan konsep pengelolaan sumber daya yang disebutnya O-T-W, yakni otak yang kreatif, tenaga kerja yang produktif, serta pemanfaatan waktu secara optimal.
Menurut Lindawati, perempuan memiliki peran penting dalam mengelola keluarga sekaligus menggerakkan aktivitas ekonomi di lingkungan mereka.
“Jadi di sini kita ngomongin financial literacy sendiri itu bukan sekadar mengenai uang, tapi bagaimana kita belajar untuk mengelola kehidupan yang lebih baik, di mana
Tuhan kasih kita semua, ya, secara adil. aku singkatnya OTW: Otak Untuk Berfikir Secara Kreatif, ya, makanya ibu-ibu ini sangat kreatif, mereka punya inisiatif untuk menghasilkan uang demi keluarganya, lalu punya tenaga untuk bekerja, mereka bangun pagi-pagi ngurusin anak, ngurusin usahanya, lalu bikin makanan ya,” kata Linda, Selasa, 6 Oktober 2026.
Kegiatan literasi keuangan tersebut mendapat sambutan dari warga Pulau Pari. Asmaniah mengaku mendapatkan pengetahuan baru mengenai cara mengatur keuangan yang sebelumnya belum dilakukan secara terperinci.
“Sangat senang ya, karena ibu-ibu di sini jadi ada kesempatan untuk mengelola keuangannya. Kan selama ini kita kalau dapat uang, enggak pernah dirinci nih buat apa, buat apa, kaya gitu ya. Selalu tahu sekian pengeluarannya,” ujarnya.
Senada dengan warga lainnya, Deli, menilai kegiatan tersebut memberikan tambahan pengetahuan bagi perempuan yang selama ini turut mengelola keuangan keluarga.
“Jadi ada tambahan ilmu yang kita dapat. Sebagai perempuan yang biasanya kita mengurus keuangan, kaya gitu ya, jadi ada tambahan ilmu. Pengalaman bisa berkumpul dengan kawan-kawan, dari Jakarta, diberikan pengalaman kepada ibu di sini, jadi tahu cara mengelolanya,” katanya.
Selain literasi keuangan, program tersebut juga diarahkan pada penguatan potensi masyarakat melalui akses keuangan digital dan pemberdayaan lingkungan.
Direktur Utama SeaBank Indonesia Sasmaya Tuhuleley mengatakan kehadiran SeaBank di Pulau Pari ditujukan untuk menjadi mitra bagi warga yang bekerja di sektor pariwisata. Ia melihat potensi ekonomi masyarakat setempat dapat terus dikembangkan seiring dengan upaya menjaga lingkungan.

Direktur Utama SeaBank Indonesia Sasmaya Tuhuleley. (Dok. SeaBank Indonesia)
Sasmaya juga menilai penerapan prinsip environmental, social, and governance atau ESG menjadi bagian penting dalam keberlanjutan kegiatan usaha, termasuk dalam menjaga ekosistem pesisir Pulau Pari.
“Kita tahu bahwa setiap unit usaha atau bisnis itu untuk bisnis yang berkelanjutan harus menjalankan prinsip-prinsip ESG (Environmental, Social, and Governance) dan kita tahu bahwa untuk mendukung kelestarian alam yang ada di Pulau Pari ini, Pulau Pari kan memiliki pantai yang bersih, ekosistem mangrove yang tertata supaya bisa bukan hanya mencegah abrasi terhadap Pulau Pari tapi juga diharapkan dapat menarik wisatawan untuk datang ke sini,” jelasnya.
Menurut Sasmaya, lingkungan pesisir yang terjaga juga dapat mendukung aktivitas pariwisata dan perekonomian masyarakat.
“Dengan kedatangan wisatawan, kita berharap ekonomi yang ada di Pulau Pari ini bisa berkembang, bertumbuh, dan membantu masyarakat di sini,” katanya.
Penguatan ekonomi masyarakat juga dilakukan melalui pengenalan sistem akuaponik. Sistem tersebut diperkenalkan sebagai salah satu solusi efisiensi pangan di tengah keterbatasan air dan lahan di wilayah kepulauan.
Sasmaya menjelaskan, pendekatan tersebut diharapkan dapat memberikan alternatif bagi masyarakat Pulau Pari dalam mengembangkan kegiatan pertanian.
“Mengenai akuaponik ya, bahwa kita ingin tahu bawah pertanian itu banyak bentuknya, dan khusus untuk pulau-pulau ini mungkin untuk pertanian yang berbasis tanah itu mungkin sulit karena masalah air dan lahan dan lain-lain. Tapi dengan hidroponik ini atau akuaponik, kita berharap bisa masyarakat-apa, efisiensi terhadap pertanian ini bisa dinikmati juga oleh masyarakat yang ada di Pulau Pari,” jelasnya.
Rangkaian kegiatan tersebut memperlihatkan pendekatan yang tidak hanya berfokus pada pemulihan lingkungan, tetapi juga peningkatan kapasitas masyarakat. Penanaman mangrove dan aksi bersih pantai berjalan beriringan dengan literasi keuangan serta pengenalan teknologi pangan.
Melalui program tersebut, perempuan di Pulau Pari juga mendapat ruang untuk memperkuat perannya dalam pengelolaan ekonomi keluarga dan aktivitas usaha yang menopang kehidupan masyarakat pesisir.