Direktur Pemberdayaan Pesantren, Direktorat Jenderal Pesantren Kemenag, Yusi Damayanti. Dok Kemenag.
Pesantren Didorong Jadi Pelopor Pengelolaan Sampah Berkelanjutan
Arga Sumantri • 6 November 2026 21:59
Jakarta: Kementerian Agama (Kemenag) mendorong pesantren menjadi pelopor pengelolaan sampah berkelanjutan. Selain menjalankan fungsi pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat, pesantren sangat potensial menjadi pelopor perubahan perilaku peduli lingkungan.
Hal ini disampaikan Direktur Pemberdayaan Pesantren, Direktorat Jenderal Pesantren Kemenag, Yusi Damayanti, dalam Lokalatih Daring Santri Ecosopreneur pada Jumat, 6 November 2026. Kegiatan ini diikuti pimpinan 58 pondok pesantren pelopor Gerakan Nasional Ecopesantren, pimpinan 1.914 pondok pesantren pilot pendampingan Program Pesantren Ramah Anak, dan berbagai stakeholder terkait.
"Hari ini kita arahkan pesantren fokus pada pengelolaan sampah dan keberlanjutan lingkungan hidup," kata Yusi dalam keterangan tertulis, Jumat, 6 November 2026.
Ia menjelaskan, puluhan ribu santri dapat tinggal dan beraktivitas di satu tempat selama 24 jam. Kondisi ini membuat potensi timbulan sampah plastik dari kegiatan sehari-hari menjadi sangat tinggi.
"Gerakan Ecopesantren bukan sekadar membuat lingkungan bersih dan hijau, melainkan membangun perubahan perilaku, kebiasaan, dan sistem pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan," jelas Yusi.
Direktorat Pemberdayaan Pesantren memperkenalkan konsep Santri Ecopreneur serta Riset dan Inovasi Santri Ecopreneur (RISE) Club sebagai wadah santri untuk meneliti, berinovasi, dan mencari solusi atas persoalan lingkungan. Program ini juga menekankan penguatan tiga kapasitas mental santri, yaitu ketangguhan, daya lenting, dan keluwesan berpikir.
"Perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil yang dilakukan secara konsisten, dari kamar santri, ruang belajar, dapur, tempat wudu, halaman, kebun, hingga masyarakat sekitar. Kita tidak harus menunggu semua fasilitas lengkap atau semua persoalan selesai untuk memulai," ungkapnya.
Ia menambahkan, gerakan ini akan diperluas melalui kolaborasi dengan kementerian, lembaga, akademisi, mitra, dan organisasi masyarakat sipil, serta kunjungan dan pemetaan kondisi awal pesantren di berbagai provinsi.
Bibit Gratis hingga Bank Sampah
Sekretaris Direktorat Jenderal Pengelolaan DAS dan Rehabilitasi Hutan Kementerian Kehutanan, Muhammad Zainal Arifin, memaparkan kiprah kementeriannya dalam pemulihan lingkungan yang juga melibatkan pesantren."Dalam sepuluh tahun terakhir, Kementerian Kehutanan telah merehabilitasi lebih dari 2 juta hektare lahan di seluruh Indonesia, dan pondok pesantren terlibat secara intensif dalam pemulihan lingkungan tersebut," ungkap Zainal.
Kementerian Kehutanan kini memiliki 59 pusat persemaian, terdiri atas 50 persemaian berkapasitas 500 ribu hingga 1 juta batang per tahun dan 9 persemaian besar berkapasitas 5 hingga 10 juta batang per tahun.
"Seluruh pusat persemaian tersebut siap menyediakan bibit gratis yang dapat dimanfaatkan masyarakat, termasuk pesantren, untuk rehabilitasi di dalam maupun di luar kawasan hutan, baik melalui pola agroforestri maupun program Kebun Bibit Rakyat," kata dia.

Santri ilustrasi. Dok Kemenag.
Zainal menjelaskan kebakaran di lahan gambut, terutama di Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Riau, dan Jambi, sulit dipadamkan karena siklus hidrologi air gambut belum terjaga dengan baik. Ia mendorong pesantren membangun Instalasi Pemanenan Air Hujan (IPAH) untuk menjaga ketersediaan, kualitas, dan kuantitas air bersih menghadapi kemarau dan perubahan iklim.
"Saat ini kami sedang menyusun draf perjanjian kerja sama dengan Direktorat Jenderal Pesantren untuk mengintegrasikan kerja sama pemulihan lingkungan dan konservasi air," tambahnya.
Direktur Pengurangan Sampah dan Pengembangan Ekonomi Sirkular Kementerian Lingkungan Hidup, Agus Rusly, menyampaikan jumlah santri sekitar empat juta orang dengan potensi timbulan sampah hampir 2 ribu ton per hari. Apabila dikelola dengan baik, hal ini justru akan menjadi kekuatan menuju Indonesia Emas 2045.
Ia menceritakan kerja sama KLH dengan rumah ibadah lintas agama melalui penempatan dropbox sampah anorganik yang hasilnya masuk ke kas rumah ibadah. Model serupa direncanakan untuk diterapkan di lingkungan pondok pesantren.
"Sampah anorganik yang sudah dipilah santri harus ada saluran penampungnya atau off-taker. Dengan begitu, hasil pengumpulan tidak terbengkalai dan semangat para santri dalam memilah sampah tetap terjaga," ujar Agus.
Lokalatih Santri Ecosocpreneur rencananya digelar rutin setiap Jumat dengan materi dan pembahasan tantangan praktis di lapangan. Melalui rangkaian kegiatan ini, pesantren diharapkan tumbuh menjadi pelopor gerakan lingkungan sekaligus pusat lahirnya santri wirausaha yang peduli pada keberlanjutan bumi.
Lokalatih ini bertujuan meningkatkan pengetahuan, kapasitas, dan keterampilan santri dalam mengembangkan jiwa kewirausahaan sosial dan lingkungan. Selain itu, mendorong lahirnya inisiatif usaha yang kreatif, inovatif, dan berkelanjutan berbasis potensi pesantren dan masyarakat sekitar.