Fakta-Fakta Piala Dunia 2026: dari Tiket Mahal hingga Masalah Visa AS

Wasit Somalia Omar Abdulkadir Artan yang ditolak masuk AS. (Anadolu)

Fakta-Fakta Piala Dunia 2026: dari Tiket Mahal hingga Masalah Visa AS

Riza Aslam Khaeron • 12 June 2026 20:05

Jakarta: Piala Dunia 2026 yang resmi dimulai pada 11 Juni 2026 menjadi edisi terbesar dalam sejarah turnamen sepak bola sejagat. Tiga negara bertindak sebagai tuan rumah yaitu Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.

FIFA menyebut edisi kali ini sebagai Piala Dunia pertama yang menampilkan 48 tim nasional serta memainkan total 104 pertandingan di 16 kota penyelenggara. Turnamen akbar ini dimulai pada 11 Juni dan akan berlangsung hingga 19 Juli 2026.

Namun, sorotan publik tidak hanya tertuju pada jalannya laga di lapangan hijau. Sejumlah isu di luar pertandingan ikut mencuat, mulai dari harga tiket yang dianggap terlalu mahal, fenomena kursi kosong di stadion, polemik imigrasi terhadap wasit asal Somalia, hingga aturan ketat botol air untuk para penonton.

Metrotvnews.com telah merangkum berbagai polemik Piala Dunia 2026. Berikut adalah rincian fakta-fakta menarik seputar Piala Dunia 2026:
 

1. Harga Tiket Dianggap Terlalu Mahal

Salah satu isu terbesar yang membayangi Piala Dunia 2026 adalah harga tiket masuk yang melonjak tinggi. Kebijakan harga ini menjadi salah satu kontroversi paling ramai yang menerpa turnamen dengan format baru 48 tim tersebut.

FIFA sebelumnya memperkenalkan kategori tiket Supporter Entry Tier seharga 60 dolar AS (sekitar Rp1 juta) untuk semua pertandingan, termasuk laga final. Namun, tiket murah ini jumlahnya sangat terbatas karena hanya menjadi bagian dari alokasi untuk Asosiasi Anggota Peserta (PMA).

Sebagian besar tiket umum dijual dengan harga fantastis hingga di atas 1.000 dolar AS (sekitar Rp18 juta). Bahkan, tiket kelas premium untuk laga final dibanderol dengan harga yang sangat mencengangkan, yakni mencapai 32.970 dolar AS (sekitar Rp534 juta).

Kritik publik makin menguat setelah laga Korea Selatan melawan Republik Ceko di Guadalajara memperlihatkan banyak kursi kosong di tribun penonton. Padahal, FIFA mencatat jumlah penonton resmi mencapai 44.985 orang dari total kapasitas stadion yang berkisar 46.000 kursi.

Kelompok suporter menilai tingginya harga tiket membuat pencinta sepak bola dari kalangan biasa tersisih dan tidak bisa menikmati turnamen secara langsung.
 

2. Wasit Somalia Ditolak Masuk Amerika Serikat

Fakta lain yang memicu kontroversi adalah kasus yang menimpa Omar Abdulkadir Artan, wasit asal Somalia yang semula diproyeksikan bertugas memimpin pertandingan di Piala Dunia 2026.

Langkahnya terganjal oleh kebijakan administrasi pemerintahan Donald Trump, mengingat Somalia merupakan salah satu dari 12 negara yang masuk dalam daftar larangan perjalanan (travel ban) ke Amerika Serikat.

Artan ditolak masuk ke Amerika Serikat saat tiba di Bandara Internasional Miami, meskipun ia dilaporkan mengantongi visa resmi dan sah dari FIFA. Namun, pihak FIFA sendiri tampaknya tidak memiliki kekuatan hukum untuk menganulir keputusan ketat dari otoritas imigrasi AS tersebut.

Artan akhirnya dipulangkan kembali ke negaranya dan langsung mendapat sambutan meriah setibanya di Mogadishu.

Sebagai bentuk dukungan, UEFA dan CAF kemudian menunjuk Artan untuk memimpin laga bergengsi Piala Super UEFA pada 12 Agustus 2026 di Salzburg, Austria.

"Sepak bola diciptakan untuk menghubungkan orang-orang, dan UEFA ingin menunjukkan rasa hormatnya kepada Omar serta kemampuan kepemimpinannya yang luar biasa di lapangan yang telah membuatnya layak mendapatkan nominasi bergengsi ini," ujar Presiden UEFA, Aleksander Ceferin, seperti dikutip dari The Guardian.
 
Baca Juga:
Simak! Panduan Resmi Urus Izin Nobar Piala Dunia 2026
 

3. Timnas Iran Masih Belum Mendapatkan Visa

Isu terkait keikutsertaan Iran telah menjadi polemik sejak beberapa bulan lalu, terutama semenjak tensi geopolitik memanas setelah AS dan Israel menyerang Iran hingga memicu perang di Timur Tengah pada 28 Februari 2026.

Salah satu kontroversi baru muncul ketika Federasi Sepak Bola Iran mengklaim bahwa alokasi tiket untuk para pendukung mereka dicabut secara sepihak oleh panitia hanya beberapa hari sebelum turnamen dimulai.

Adapun terkait masalah visa Tim Nasional Iran, di mana sejumlah staf penting termasuk direktur eksekutif, sekretaris jenderal, dan direktur media belum juga mendapatkan visa hingga menjelang laga perdana dimulai. Dilaporkan ada sekitar 14 anggota staf delegasi Iran yang ditolak visanya untuk memasuki wilayah Amerika Serikat.

Akibat kendala ini, Iran terpaksa memindahkan basis pemusatan latihan mereka ke Tijuana, Meksiko, dari rencana awal di Tucson, Arizona. Masalah visa ini juga memaksa Iran membatalkan laga uji coba persahabatan melawan Grenada menjelang bergulirnya Piala Dunia.
 

4. Larangan Membawa Botol Air Pakai Ulang


Gabungan tangkapan layar dari video yang menunjukkan kepala operasional FIFA 2026, Heimo Schirgi, menjelaskan botol air mana yang diperbolehkan dan tidak diperbolehkan. (X/@FIFA via Arab News)

FIFA juga mendapat sorotan tajam karena aturan ketat terkait wadah minuman bagi penonton di stadion. Pada awalnya, penonton dilarang membawa botol minum pakai ulang (reusable) ke dalam area stadion. Aturan ini menuai protes keras mengingat sebagian besar pertandingan digelar di tengah kondisi musim panas Amerika Utara yang menyengat.

Suhu di beberapa kota tuan rumah diperkirakan berkisar antara 26 hingga 28 derajat Celsius. Kondisi cuaca yang sangat panas ini membuat kemudahan akses air minum menjadi hal yang krusial bagi keselamatan penonton.

Setelah menerima gelombang kritik, FIFA akhirnya melonggarkan aturan tersebut. Penonton di stadion-stadion Amerika Serikat dan Kanada kini diperbolehkan membawa satu botol plastik sekali pakai yang masih tersegel dengan ukuran maksimal 20 ons atau sekitar 590 ml.

Kendati demikian, wadah minum berbahan keras yang dapat ditutup kembali tetap dilarang demi alasan keamanan.

"Yang tidak diperbolehkan adalah wadah air berbahan keras yang dapat ditutup kembali, karena benda tersebut dapat menimbulkan risiko terhadap keselamatan dan keamanan penonton di dalam stadion," jelas Chief Operating Officer Piala Dunia 2026, Heimo Schirgi, seperti dikutip dari The Guardian pada 6 Juni 2026.

FIFA juga menyatakan bahwa kota-kota penyelenggara telah menyiapkan langkah mitigasi cuaca panas, seperti menyediakan stasiun hidrasi gratis, area pendingin tubuh, dan tenda penyejuk di sekitar stadion.
 

5. Presiden Federasi Sepak Bola Palestina Tidak Mendapatkan Visa

Kontroversi terkait izin masuk tidak hanya menimpa delegasi Iran dn Somalia. Presiden Federasi Sepak Bola Palestina, Jibril Rajoub, dikabarkan juga tidak mendapatkan visa untuk menghadiri rangkaian acara Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat. Ia dilaporkan hanya bisa berada di Meksiko untuk menyaksikan laga pembuka dan tidak diizinkan menyeberang ke wilayah AS.

"Saya rasa sangat tidak adil jika hak seluruh pelaku sepak bola di dunia untuk menghadiri perhelatan ini disalahgunakan atau bahkan dirampas," ujar tokoh politik veteran Palestina tersebut dalam sebuah wawancara dengan The Associated Press.

Piala Dunia kali ini pada akhirnya tidak luput dari bayang-bayang geopolitik serta dinamika politik domestik negara tuan rumah. Isu-isu ini tampaknya akan terus membayangi kemeriahan pesta sepak bola terbesar di dunia ini hingga partai final nanti.

(Muhamad Marup)