Alat sensor Early Warning System (EWS) yang terinstalasi di Bendung Prisdo, Bekasi Timur, Kota Bekasi, Jumat , 6 Maret 2026. Dokumentasi/BNPB
Sistem Peringatan Dini Banjir di Kota Bekasi Gunakan Sensor Otomatis
Silvana Febiari • 7 March 2026 12:53
Kota Bekasi: Upaya mitigasi banjir di Kota Bekasi, Jawa Barat terus diperkuat melalui pengembangan sistem Early Warning System (EWS). Sistem ini juga dilengkapi dengan teknologi sensor otomatis.
"Sistem ini dikembangkan untuk meningkatkan kemampuan pemerintah daerah dan pemangku kepentingan dalam memantau kondisi hidrologi secara real time serta memberikan peringatan dini kepada masyarakat di wilayah rawan banjir," kata Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari dalam keterangan tertulis, Sabtu, 7 Maret 2026.
Dalam implementasinya, sensor dipasang di sejumlah titik strategis dari hulu hingga hilir sungai yang berpotensi memengaruhi banjir di Bekasi. Titik-titik tersebut meliputi:
- Hulu Sungai Cileungsi di Cibongas, Babakan Madang, Kabupaten Bogor
- Segmen tengah Sungai Cileungsi di Cileungsi, Kabupaten Bogor
- Titik pertemuan Sungai Cileungsi dan Cikeas (P2C)
- Bendung Prisdo, Bekasi Timur
- Sungai Cikeas di Gunung Putri, Kabupaten Bogor
"Titik-titik ini dipilih karena memiliki peran penting dalam memantau perubahan debit air yang dapat memicu banjir di wilayah permukiman di Kota Bekasi," ujar Abdul.

Alat sensor Early Warning System (EWS) yang terinstalasi di Bendung Prisdo, Bekasi Timur, Kota Bekasi, Jumat , 6 Maret 2026. Dokumentasi/BNPB
Selain pemasangan sensor pemantauan, sistem ini juga dilengkapi dengan perangkat sirine peringatan yang dipasang pada kawasan permukiman rawan banjir seperti Bekasi Jaya (Bekasi Timur), Jaka Kencana (Bekasi Selatan), Teluk Pucung (Bekasi Utara), dan Mitra Lestari (Jatiasih). Wilayah-wilayah tersebut dipilih karena memiliki riwayat banjir tinggi dan berada dekat aliran sungai utama, sehingga membutuhkan penyebaran peringatan dini yang cepat dan efektif.
"Pengembangan sistem ini mengintegrasikan berbagai perangkat teknologi pemantauan seperti sensor tinggi muka air Automatic Water Level Recorder (AWLR), sensor curah hujan, kamera pemantau, serta dashboard visualisasi data yang dapat menampilkan kondisi sungai secara langsung," jelas Abdul.
Data dari berbagai sensor akan diproses secara real time dan ditampilkan melalui sistem dashboard. Dengan cara ini, petugas dapat memantau dinamika debit air serta potensi banjir secara cepat dan akurat.
"Perangkat ini bekerja secara otomatis tanpa operator, sehingga diharapkan mampu memberikan peringatan dini secara cepat dan presisi kepada masyarakat jika terjadi peningkatan potensi banjir. Dengan informasi yang lebih awal, masyarakat dapat segera melakukan langkah antisipasi seperti evakuasi atau pengerahan sumber daya," ungkap Abdul.
Secara keseluruhan, pengembangan sistem peringatan dini banjir di Kota Bekasi menjadi langkah strategis untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat. Sistem ini juga memperkuat upaya pengurangan risiko bencana di wilayah perkotaan yang rentan terhadap banjir.
Ke depan, sistem ini dapat terus dikembangkan dengan menambah titik sensor, meningkatkan infrastruktur komunikasi, serta mengintegrasikannya dengan sistem informasi kebencanaan lainnya. Langkah ini bertujuan agar pemantauan risiko banjir bisa dilakukan secara lebih komprehensif.