Ilustrasi: WMO
Daftar Negara Eropa dengan Suhu Panas Ekstrem, Capai Lebih 40 Derajat Celsius
Riza Aslam Khaeron • 3 July 2026 17:08
Jakarta: Gelombang panas ekstrem yang melanda Eropa pada akhir Juni 2026 telah memecahkan rekor suhu di puluhan negara sekaligus, memaksa otoritas cuaca di berbagai penjuru benua mengeluarkan peringatan merah tertinggi, sebuah langkah darurat yang belum pernah dilakukan sebelumnya.
Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) mencatat bahwa gelombang panas ini telah berdampak langsung pada lebih dari 150 juta orang di seluruh Eropa. Suhu ekstrem ini juga dikaitkan dengan lebih dari 1.300 kematian berlebih (excess deaths) yang terjadi sejak 21 Juni 2026 per 29 Juni 2026."Dalam 50 tahun sejak gelombang panas bersejarah pada tahun 1976, Eropa secara keseluruhan telah menghangat sekitar dua derajat Celsius. Benua ini merupakan wilayah yang paling cepat memanas di dunia, dan intensitas suhu ekstremnya pun terus meningkat," ujar John Kennedy, Kepala Informasi Iklim di WMO, seperti dikutip dari laman resmi organisasi tersebut.
Mengutip laman WMO, Berikut adalah daftar rekor suhu yang pecah oleh gelombang panas kali ini di sejumlah negara Eropa:
Prancis
.jpg)
Ilustrasi: Fabian Reck/Pexels
Prancis menjadi salah satu negara yang mengalami dampak terparah dari gelombang panas ini. Pada 24 Juni 2026, suhu rata-rata nasional kala itu menyentuh angka 30 derajat Celsius, melampaui rekor terpanas sebelumnya pada Juli 2019 dan Agustus 2003.
Suhu tertinggi di tingkat lokal tercatat di kota Pulluau, Prancis barat, yang melonjak hingga 43,8 derajat Celsius. Suhu pada malam hari pun mencetak rekor nasional baru yang tidak biasa, yakni sebesar 22 derajat Celsius.
Akibat situasi ekstrem ini, sebanyak 58 departemen, mencakup hampir seluruh wilayah Prancis, ditetapkan dalam status peringatan merah tertinggi (Red Alert). Di tengah situasi darurat ini, dilaporkan ada 48 korban jiwa akibat tenggelam saat mencoba mendinginkan diri dari sengatan panas yang tak tertahankan.
Spanyol
Spanyol mencatatkan hari-hari terpanas sepanjang bulan Juni dalam sejarahnya pada tanggal 23 dan 24 Juni 2026.Di berbagai wilayah, jarum termometer secara konsisten menembus angka di atas 40 derajat Celsius. Kota Bilbao, misalnya, mencatat suhu ekstrem sebesar 42,7 derajat Celsius yang menjadi suhu Juni tertinggi sepanjang sejarah kota tersebut.
Jerman
Jerman didera lonjakan suhu ekstrem yang memecahkan rekor tertinggi sepanjang masa selama tiga hari berturut-turut. Di Kota Coschen yang terletak di Jerman timur dekat perbatasan Polandia, suhu udara melonjak hingga 41,7 derajat Celsius pada 28 Juni.Secara keseluruhan, ada 252 stasiun cuaca di Jerman yang melaporkan rekor suhu tertinggi sepanjang masa, dengan 46 stasiun di antaranya mencatat suhu di atas 40 derajat Celsius hingga tanggal 27 Juni.
Fenomena ini juga terjadi pada malam hari; sebuah stasiun di Sachsen Timur mencatat suhu minimum malam hari yang sangat tinggi, yaitu 29,4 derajat Celsius.
Inggris
Inggris juga tidak luput dari cuaca ekstrem setelah memecahkan rekor suhu Juni tertinggi selama tiga hari berturut-turut. Rekor tertinggi sementara tercatat di wilayah Inggris selatan dengan suhu mencapai 37,3 derajat Celsius pada 25 Juni.Hungaria
Hungaria mencetak rekor suhu baru untuk bulan Juni sebesar 40,7 derajat Celsius di dekat ibu kota Budapest pada 28 Juni 2026.Polandia dan Ceko
Di saat yang sama seperti Hungaria, Polandia secara tentatif mencatatkan rekor suhu tertinggi sepanjang masa sebesar 40,5 derajat Celsius, disusul oleh Republik Ceko.Austria
Austria mencatatkan rekor suhu Juni baru setelah termometer menyentuh angka 40,0 derajat Celsius di Kota Wina.Belanda
Belanda mencatatkan rekor baru suhu nasional sebesar 39,4 derajat Celsius pada bulan Juni.Swiss
Swiss mencatatkan rekor suhu baru untuk bulan Juni setelah suhu udara mencapai 39 derajat Celsius di kota Basel yang terletak di wilayah utara.Denmark
Denmark memecahkan rekor suhu tertinggi sepanjang masa setelah mencatat suhu 37,0 derajat Celsius di dua lokasi berbeda sekaligus, menumbangkan rekor lama yang sebelumnya bertahan kokoh sejak tahun 1975.| Baca Juga: Gelombang Panas Menyerang, Museum Louvre Prancis Tutup Lebih Cepat |
Gelombang Panas Sebagai The Silent Killer
Panas ekstrem kerap dijuluki sebagai "the silent killer" atau pembunuh senyap karena bahayanya yang tidak langsung terlihat dan korbannya yang sering kali luput dari pencatatan yang akurat.Mengutip WMO, secara global diperkirakan ada sekitar 489.000 kematian yang berhubungan dengan panas setiap tahunnya sepanjang periode 2000 hingga 2019.
Suhu panas pada malam hari dapat membahayakan tubuh. Berdasarkan penjelasan dari Kantor Bersama Iklim dan Kesehatan WHO-WMO, malam hari merupakan waktu krusial bagi tubuh manusia untuk memulihkan diri.
Saat kita tidur, suhu inti tubuh kita akan turun, sistem kardiovaskular beristirahat, dan akumulasi stres akibat siang hari yang panas mulai mereda. Namun, ketika suhu malam hari tetap hangat, proses pemulihan penting tersebut tidak dapat terjadi.
"Hari yang mencapai 38°C tetapi turun menjadi 18°C ??di malam hari sangat berbeda dengan hari yang mencapai 36°C dan tetap di atas 25°C sepanjang malam. Skenario kedua membawa risiko kesehatan yang jauh lebih tinggi," ucap Armel Castellan, Penasihat Teknis Layanan Panas Ekstrem dari Kantor Bersama Iklim dan Kesehatan WHO-WMO
Tanpa adanya penurunan suhu malam hari, tubuh manusia dipaksa bekerja keras tanpa henti, yang pada akhirnya meningkatkan risiko kegagalan organ.
Kelompok yang paling rentan menghadapi ancaman fatal ini meliputi lansia, anak-anak, ibu hamil, pekerja luar ruangan, serta individu yang memiliki riwayat penyakit kronis.