Angkatan Bersenjata Arab Saudi mempertunjukkan keahlian mereka selama parade militer pada tahun 2013. (EPA)
Arab Saudi Dilaporkan Siapkan Operasi Militer Melawan Houthi di Yaman
Riza Aslam Khaeron • 31 July 2026 17:48
Jakarta: Arab Saudi dilaporkan sedang mempersiapkan operasi militer besar-besaran terhadap kelompok Houthi melalui jalur laut dan potensi jalur darat di Yaman tengah.
Langkah ini dilakukan untuk membebaskan jalur ekspor minyak Saudi di wilayah selatan Laut Merah dari cengkeraman Houthi, menurut sumber-sumber setempat kepada The Guardian.
Sebelumnya, Kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran dan menguasai ibu kota Sana'a serta sebagian besar pesisir Laut Merah, sebelumnya mengumumkan blokade terhadap kapal-kapal Arab Saudi pada 20 Juli. Meski demikian, Houthi membantah berencana memungut biaya dari seluruh kapal yang melintas.
Kelompok tersebut menyatakan akan mencabut blokade jika Arab Saudi juga menghentikan blokadenya terhadap Yaman, sekaligus menegaskan bahwa sengketa ini berfokus pada masa depan Yaman dan tidak berkaitan langsung dengan Iran.
Pertempuran sengit antara Houthi dan pasukan Arab Saudi kembali meningkat dalam dua pekan terakhir, ditandai dengan serangan Houthi ke sejumlah fasilitas milik Saudi Aramco.
Serangan ke wilayah Saudi tersebut terjadi hanya beberapa jam setelah jet tempur Saudi membombardir area yang dikuasai Houthi di Pelabuhan Hodeidah, serta menyusul insiden serangan terhadap kapal komersial Saudi ketiga di Laut Merah.
Bersamaan dengan laporan The Guardian, pasukan Saudi dari wilayah timur Yaman dilaporkan melakukan pergerakan yang disinyalir sebagai bagian dari persiapan serangan darat tersebut.
Sumber-sumber militer Yaman kepada media tersebut juga mencatat adanya konsentrasi pasukan yang diduga dipersiapkan untuk melancarkan serangan ke Al-Bayda, wilayah di bagian tengah-selatan Yaman yang dikuasai Houthi sejak 2020–2021.
Riyadh Bentuk Koalisi

Pendukung Houthi di Yaman. (Anadolu)
Guna merespons blokade maritim Houthi, Riyadh dilaporkan berupaya membentuk koalisi angkatan laut guna melindungi jalur pelayaran dari serangan Houthi di Laut Merah dan Selat Bab al-Mandab.
Kementerian Pertahanan Saudi pada Kamis, 30 Juli 2026 menyatakan bahwa 14 negara, termasuk Turki, Pakistan, Mesir, Sudan, dan Djibouti, telah merilis pernyataan bersama yang mendukung pembentukan koalisi pertahanan maritim multinasional tersebut.
Riyadh turut mengajak Amerika Serikat serta sejumlah negara Eropa, seperti Jerman, Prancis, Inggris, dan Italia, untuk bergabung dalam koalisi Laut Merah.
Saat ini, Uni Eropa sebenarnya telah menjalankan misi perlindungan maritim bernama Aspides di kawasan tersebut. Namun, hingga kini masih belum dipastikan apakah aksi Houthi merupakan blokade pelayaran secara umum atau khusus ditujukan kepada kapal-kapal Arab Saudi.
Peran Laut Merah untuk Arab Saudi

Selat Bab el-Mandeb yang menjadi pintu masuk ke Laut Merah. Foto: Press TV
Sebelumnya, pada 25 Juli, pasukan Houthi mengklaim telah menyerang fasilitas transportasi minyak yang "sensitif" di wilayah Arab Saudi.
Fasilitas tersebut menghubungkan ladang minyak di provinsi timur dengan pusat ekspor di Laut Merah. Apabila akses Laut Merah bagi pelayaran Saudi lumpuh bersamaan dengan adanya potensi blokade di Selat Hormuz di sisi timur Semenanjung Arab, pasokan dan ekspor minyak kerajaan diperkirakan akan terganggu secara signifikan.
Sebelum blokade Iran dimulai, sebanyak 80% ekspor minyak mentah Arab Saudi dikirim melalui Selat Hormuz. Kondisi ini membuat peran jalur Laut Merah menjadi sangat krusial, mengingat lebih dari separuh pasokan minyak Saudi saat ini diangkut melalui jalur darat menuju terminal pengapalan di kota pelabuhan Yanbu.
Serangan AS-Saudi ke Irak
Sementara itu, serangan udara Arab Saudi di Irak pada Rabu, 29 Juli 2026 menewaskan sedikitnya 20 orang. Serangan tersebut dilancarkan sebagai balasan atas aksi milisi Irak terhadap fasilitas minyak Saudi. Donald Trump menyatakan bahwa operasi gabungan AS-Saudi ini digelar atas persetujuan pemerintah Irak, meskipun klaim tersebut belum dikonfirmasi oleh pihak Baghdad.Persaingan Arab Saudi dan kelompok Houthi dalam memperebutkan kendali atas Yaman telah berlangsung selama lebih dari satu dekade, dan stabilitas kawasan yang rapuh kian memburuk dalam sebulan terakhir.
Eskalasi konflik di Yaman dinilai berpotensi mereda jika negara-negara Teluk dan Iran berhasil mencapai kesepakatan terkait pembukaan kembali Selat Hormuz. Saat ini, perundingan yang dimediasi Oman dengan pihak Iran masih berjalan, di mana Teheran menuntut agar seluruh lalu lintas pelayaran melewati rute utara yang mendekati pesisir pantai Iran.