Duta Besar RI untuk Takhta Suci Vatikan, Michael Trias Kuncahyono. Foto: Istimewa
Indonesia-Vatikan Tegaskan Persahabatan dan Toleransi
M Sholahadhin Azhar • 27 March 2026 23:55
Vatikan: Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) untuk Takhta Suci meluncurkan buku 'Bersama Mengarungi Zaman'. Peluncuran dalam rangka memperingati 75 tahun hubungan diplomatik Indonesia dan Vatikan. Buku tersebut menjadi penanda sejarah panjang persahabatan kedua pihak yang terjalin sejak 1947.
"Takhta Suci menjadi negara Eropa pertama yang memberikan pengakuan bagi kemerdekaan Indonesia. Pengakuan itu mendorong negara-negara lain di Eropa untuk melakukan hal serupa,” ujar
Duta Besar RI untuk Takhta Suci, Michael Trias Kuncahyono, dalam keterangan tertulis, Jumat, 27 Maret 2026.
Peluncuran buku yang memiliki judul bahasa Italia Insieme Attraverso I Tempi ini dihadiri sejumlah duta besar, pastor, dan suster. Buku tersebut juga diserahkan kepada John D. Putzer, Counsellor pada Sekretariat Negara Takhta Suci, yang hadir mewakili Paul Richard Gallagher selaku Secretary for Relations with States and International Organizations.
Dalam kesempatan itu, Putzer menilai hubungan Indonesia dan Takhta Suci bukan sekadar keberhasilan diplomatik. Melainkan mencerminkan pesan Paus Fransiskus tentang pentingnya menjadikan keberagaman sebagai sumber kekuatan.
"Indonesia menunjukan dan membuktikan bahwa perbedaan seharusnya bukan menjadi sumber konflik namun jalan untuk menghubungkan satu sama lain. Pesan ini sangat relevan untuk dunia masa kini,” tegas Putzer
.jpeg)
Duta Besar RI untuk Takhta Suci Vatikan, Michael Trias Kuncahyono. Foto: Istimewa
Indonesia berkomitmen untuk terus menjaga toleransi beragama dan memperkuat kerja sama dengan Takhta Suci. Khususnya dalam menyebarkan dan mempromosikan dialog serta perdamaian dunia.
“Indonesia siap untuk terus bekerja sama dengan Vatikan dalam mempromosikan toleransi, saling menghormati, keberagaman, dan dialog untuk menciptakan dunia yang lebih baik dan lebih damai” ucap Putzer.
Buku Bersama Mengarungi Zaman ditulis dalam tiga bahasa, yakni Indonesia, Italia, dan Inggris. Buku ini diharapkan tidak hanya menjadi simbol perayaan hubungan diplomatik, tetapi juga menjadi catatan sejarah yang menginspirasi kerja sama di masa depan.