Menko Perekonomian Airlangga Hartarto. Foto: dok Kemenko Perekonomian.
Kejar Ekonomi 6%, Pemerintah Pecut Pertumbuhan Investasi
Husen Miftahudin • 24 August 2026 15:29
Jakarta: Pemerintah mendorong pertumbuhan investasi melampaui pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) sebagai salah satu strategi mengejar pertumbuhan ekonomi mendekati enam persen hingga akhir 2026.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan langkah tersebut diperlukan untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi setelah Indonesia mencatat pertumbuhan 5,45 persen pada semester I-2026.
"Semester I ini kita tumbuh 5,45 persen, dan ini adalah pertumbuhan tertinggi dalam 13 tahun terakhir, termasuk di antara negara G20. Jadi menjelang sampai akhir tahun Bapak Presiden meminta kita mendorong supaya mendekati 6 persen di akhir tahun. Dan tentu ini bisa menjadi tantangan dan juga harus kerja keras," ujar Airlangga dalam keterangannya di Jakarta, dikutip dari Antara, Senin, 24 Agustus 2026.
Airlangga mengatakan peningkatan investasi menjadi salah satu kunci untuk menciptakan tambahan pertumbuhan ekonomi. Investasi perlu tumbuh lebih cepat dibandingkan PDB dan diarahkan pada proyek dengan nilai tambah tinggi.
Pemerintah juga akan mengoptimalkan rantai nilai dalam negeri agar aktivitas investasi memberikan dampak yang lebih besar terhadap perekonomian.
Selain investasi, peningkatan produktivitas sumber daya manusia dan penguatan ekspor bernilai tambah menjadi bagian dari strategi pemerintah. Upaya tersebut akan didukung peningkatan efisiensi logistik.
Fundamental ekonomi Indonesia tetap terjaga
Pemerintah mengakui, perekonomian Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan eksternal yang dapat memengaruhi perdagangan dan investasi. Tantangan tersebut meliputi dinamika geopolitik, konflik di sejumlah kawasan, ketidakpastian di Selat Hormuz, serta perang dagang.
Meski menghadapi tekanan global, Airlangga memastikan fundamental ekonomi Indonesia tetap terjaga. Hal tersebut tercermin dari pendapatan negara yang tumbuh 21,3 persen secara tahunan (year on year/yoy), sedangkan belanja negara meningkat 18,2 persen secara tahunan. Sementara itu, defisit anggaran tercatat 0,91 persen terhadap PDB.
Untuk 2027, pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar enam persen. Asumsi makro lainnya meliputi inflasi 2,5 persen, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) 10 tahun sebesar 6,9 persen, serta nilai tukar Rp17.500 per USD.
Pemerintah merencanakan pendapatan negara sebesar Rp3.426 triliun dan belanja negara Rp4.097,2 triliun. Pembiayaan ditetapkan sebesar Rp671,2 triliun dengan defisit sekitar 2,4 persen terhadap PDB.
Dari sisi kesejahteraan, pemerintah menargetkan tingkat pengangguran terbuka sebesar 4,30-4,87 persen, tingkat kemiskinan 6,0-6,5 persen, serta rasio gini 0,362-0,367.
(Ilustrasi. Foto: Medcom.id)
Hilirisasi hingga AI jadi mesin pertumbuhan baru
Pemerintah juga mengembangkan sejumlah sektor yang ditetapkan sebagai mesin pertumbuhan baru. Sektor tersebut mencakup hilirisasi, swasembada energi melalui implementasi B50, pengembangan bank emas atau bullion, pengelolaan devisa hasil ekspor sumber daya alam (DHE SDA), serta pengembangan semikonduktor dan kecerdasan artifisial (AI).
Airlangga menekankan pencapaian target pertumbuhan membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, akademisi, dan pemangku kepentingan.
"Kita harus bekerja bersama, sehingga dengan bersama-sama ini apa yang kita capai betul-betul bisa dinikmati oleh seluruh stakeholders," tegas Airlangga.
"Jadi dengan fundamental ekonomi yang kuat, kebijakan fiskal yang prudent, kebersamaan antara pemerintah dan dunia usaha, kami ingin mendorong bahwa ke depan kita bisa menjaga ketahanan perekonomian dan juga mendorong pertumbuhan yang lebih tinggi dan inklusif," tambah dia menekankan.