Trump Tolak Minta Maaf Kepada Paus Leo XIV Terkait Kritik Perang Iran

Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Foto: Anadolu

Trump Tolak Minta Maaf Kepada Paus Leo XIV Terkait Kritik Perang Iran

Muhammad Reyhansyah • 14 April 2026 16:32

Washington: Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menolak untuk meminta maaf kepada Paus Leo XIV setelah melontarkan kritik terhadap pemimpin Gereja Katolik tersebut terkait sikapnya terhadap perang di Iran. 

Ia juga mencoba menjelaskan unggahan media sosial kontroversial yang menampilkan dirinya menyerupai figur religius.

Dalam sesi tanya jawab dengan wartawan di Gedung Putih, Trump menyatakan bahwa kritiknya merupakan respons atas pernyataan Paus yang menentang kebijakan AS terhadap Iran.

“Dia sangat menentang apa yang saya lakukan terkait Iran, dan Anda tidak bisa membiarkan Iran memiliki senjata nuklir. Paus Leo tidak akan senang dengan hasil akhirnya,” ujar Trump, dikutip dari AsiaOne, Selasa, 14 April 2026.

Ia menambahkan bahwa dirinya tidak akan meminta maaf. “Saya pikir dia sangat lemah dalam urusan kejahatan dan hal-hal lain, jadi saya tidak akan meminta maaf,” katanya.

Trump juga menegaskan bahwa Paus terlebih dahulu menyampaikan kritik secara terbuka. “Dia yang memulainya secara publik. Saya hanya merespons Paus Leo,” ujar Trump.

Paus Leo sebelumnya menanggapi kritik Trump dengan menegaskan bahwa seruan Vatikan untuk perdamaian didasarkan pada ajaran Injil dan tidak ditujukan sebagai serangan personal.

“Menempatkan pesan saya sejajar dengan apa yang dilakukan presiden menunjukkan ketidakpahaman terhadap pesan Injil,” ujar Paus Leo dalam wawancara dengan The Associated Press saat berada di pesawat menuju Aljazair. 

“Saya akan tetap menjalankan misi Gereja di dunia saat ini,” lanjut Paus Leo.

Ia juga menegaskan tidak merasa takut terhadap pemerintahan Trump dan akan terus menyuarakan penolakan terhadap perang. “Saya akan terus bersuara lantang menentang perang, mendorong perdamaian, dialog, dan multilateralisme untuk mencari solusi,” kata Paus Leo.

Pertukaran pernyataan antara kedua tokoh ini semakin memperdalam ketegangan di tengah konflik AS dengan Iran yang telah memasuki minggu ketujuh.

Kontroversi Unggahan Trump

Trump juga menanggapi kritik terhadap unggahan media sosial yang kini telah dihapus, yang menampilkan dirinya mengenakan jubah bergaya religius sambil menyentuh seorang pria seolah melakukan penyembuhan.

“Saya memang mengunggahnya, dan saya mengira itu menggambarkan saya sebagai dokter yang berkaitan dengan Palang Merah. Itu dimaksudkan sebagai saya sebagai dokter yang membuat orang menjadi lebih baik. Dan saya memang membuat orang menjadi jauh lebih baik,” ujar Trump.

Ia menyalahkan “media palsu” atas interpretasi yang berkembang, meskipun unggahan tersebut menuai kritik luas, termasuk dari sebagian pendukung evangelisnya sendiri.

Bahkan Presiden Iran Masoud Pezeshkian turut mengecam unggahan tersebut, menyebutnya sebagai bentuk penodaan terhadap Yesus, sekaligus menyatakan dukungan terhadap Paus.

Unggahan itu dihapus dari akun Trump pada Senin pagi, meski tidak dijelaskan secara rinci bagaimana hal tersebut terjadi.

Kritik Berlanjut

Trump sebelumnya juga menyatakan bahwa Paus “tidak melakukan pekerjaan dengan baik” dan kembali menegaskan bahwa dirinya “bukan penggemar Paus Leo.”

Paus Leo, dalam doa bersama di Basilika Santo Petrus pada Sabtu, menyebut perang di Iran dipicu oleh “ilusi kemahakuasaan,” bertepatan dengan dimulainya perundingan antara AS dan Iran di Pakistan dalam suasana gencatan senjata yang rapuh.

Wakil Presiden JD Vance, yang memimpin delegasi AS dalam pembicaraan tersebut, menyebut unggahan Trump sebagai “lelucon” dan mengatakan bahwa presiden hanya mengekspresikan dirinya secara spontan di media sosial.

Sementara itu, Uskup Agung Paul S. Coakley menyatakan kekecewaannya terhadap pernyataan Trump.

“Paus Leo bukanlah rivalnya; Paus juga bukan seorang politisi,” ujarnya. “Ia adalah Wakil Kristus yang berbicara berdasarkan kebenaran Injil dan demi keselamatan jiwa.”

Ketegangan antara Gedung Putih dan Vatikan pun terus meningkat, di tengah perbedaan tajam pandangan mengenai perang dan kebijakan internasional.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Fajar Nugraha)