Head of Asia-Pacific (ex-China) Global Head of Central Banks, World Gold Council (WGC), Shaokai Fan. Foto: Dok WGC
Ini Alasan Investor Emas Tetap Tenang saat Harga Terkoreksi
Eko Nordiansyah • 5 February 2026 13:15
Jakarta: Head of Asia-Pacific (ex-China) Global Head of Central Banks, World Gold Council (WGC), Shaokai Fan, memberikan pandangannya terkait dinamika harga emas yang kian fluktuatif. Shaokai, menekankan memprediksi pergerakan pasar secara akurat adalah tantangan besar. Menurutnya, aktifnya pergerakan harga emas saat ini sejalan dengan meningkatnya jumlah investor.
"Semakin bertambahnya jumlah investor tentunya juga akan disertai dengan spekulasi dan meningkatnya volatilitas. Terkait koreksi, memang sedikit sulit untuk diprediksi secara pasti," ujar Shaokai dalam sesi tanya jawab dengan awak media, dikutip Kamis, 5 Februari 2026.
Melihat ke belakang, Shaokai menunjuk data kuartal keempat 2025 sebagai referensi penting. Meski sempat terjadi koreksi tipis pada Oktober 2025, angka pembelian emas justru melonjak di seluruh kategori, mulai dari emas batangan, koin, hingga Exchange Traded Fund (ETF).
“Apabila kita berkaca pada data historis pada bulan Oktober juga terjadi sedikit koreksi pada harga emas, dan sebetulnya secara data pembelian emas di kuartal empat 2025 justru malah meningkat dan ini terjadi lintas kategori, untuk koin, ETF dan juga emas batang,” ungkap dia.
Tren ini tidak hanya didorong oleh investor ritel, tetapi juga oleh aksi borong bank sentral. Shaokai mengatakan bahwa investor cenderung tidak panik saat harga terkoreksi, melainkan memanfaatkan penurunan tersebut sebagai peluang untuk menambah portofolio.
Proyeksi di 2026
Memasuki 2026, WGC melihat indikasi kuat permintaan emas akan terus meningkat. Fenomena antrean pembeli emas di berbagai gerai menjadi bukti nyata tingginya minat pasar."Dari sisi permintaan, sepertinya akan terus meningkat. Kita mendengar banyak pembeli yang bahkan harus mengantre untuk mendapatkan emas," ujar dia.
Mengenai faktor risiko yang dapat menekan atau mendorong harga, ia menyoroti kebijakan ekonomi Amerika Serikat sebagai variabel kunci. Dirinya menjelaskan, jika Amerika Serikat berhasil memulihkan ekonomi tanpa memicu inflasi, namun The Fed tetap menahan suku bunga (tidak memangkasnya), hal ini akan memberikan dukungan kuat bagi harga emas.
“Terkait dengan faktor-faktor potensial yang dapat berdampak ke harga emas, tentunya salah satu faktor pendorong utama adalah Amerika Serikat (AS). Apabila AS dapat mendorong pemulihan ekonomi tanpa meningkatkan inflasi dan The Fed tidak memangkas suku bunga, maka tentunya ini akan berkontribusi positif ke harga emas,” kata dia.
Meski demikian, ia memprediksi berdasarkan sentimen pasar saat ini, kecil kemungkinan The Fed akan mengambil langkah yang sepenuhnya kaku di tengah dinamika ekonomi global. (Surya Mahmuda)
.jpg)