Mendag Ajak India Perkuat Akses Pasar dan Investasi dengan Indonesia

Mendag Budi Santoso (kanan) dan Menteri Perdagangan dan Industri India Piyush Goyal (kiri). Foto: Dok Kemendag

Mendag Ajak India Perkuat Akses Pasar dan Investasi dengan Indonesia

8 August 2026 19:25

Jakarta: Menteri Perdagangan (Mendag) RI Budi Santoso dan Menteri Perdagangan dan Industri India Piyush Goyal membahas penguatan hubungan perdagangan bilateral melalui percepatan kerja sama perdagangan, peningkatan akses pasar, dan penguatan investasi antara kedua negara.

Mendag RI mengatakan India sebagai mitra dagang strategis di kawasan Asia Selatan yang memiliki potensi besar untuk terus dikembangkan. Karena itu, penguatan kerja sama perdagangan akan memberikan manfaat yang lebih besar bagi pelaku usaha kedua negara sekaligus memperkuat ketahanan rantai pasok regional.

"Indonesia mendukung terciptanya perdagangan yang semakin terbuka, fasilitatif, dan saling menguntungkan, sehingga mampu mendorong peningkatan perdagangan dan investasi kedua negara," ujar Budi dalam keterangan di Jakarta, dilansir dari Antara, Sabtu, 8 Agustus 2026.

Pertemuan yang dilaksanakan di sela-sela BRICS Tingkat Menteri Perdagangan, di Jaipur, India, Jumat, 7 Agustus 2026, kedua menteri membahas pelaksanaan Working Group on Trade and Investment (WGTI) Indonesia dan India.

Indonesia menyampaikan dukungan terhadap India sebagai tuan rumah penyelenggaraan WGTI kedua pada 2026, sebagaimana tindak lanjut Pernyataan Bersama para pemimpin Indonesia dan India saat kunjungan kenegaraan Perdana Menteri India Narendra Modi ke Jakarta pada 7 Juli 2026.


(Ilustrasi. Foto: Dok MI)

Bahas perkembangan perjanjian AITIGA

Selain itu, kedua negara membahas perkembangan reviu ASEAN-India Trade in Goods Agreement (AITIGA). Indonesia kembali menegaskan dukungannya terhadap target penyelesaian perundingan pada 2026 dengan tetap mengedepankan hasil yang lebih sederhana, ramah bagi dunia usaha (business-friendly), dan mampu memfasilitasi perdagangan secara lebih efektif.

Budi menjelaskan Indonesia berkomitmen memenuhi target liberalisasi akses pasar sebesar 80 persen sebagaimana telah disepakati dalam perundingan AITIGA Review. Angka tersebut meningkat signifikan dibandingkan tingkat liberalisasi Indonesia saat ini yang mencapai 41,9 persen.

Hingga Juli 2026, Indonesia telah menyampaikan penawaran akses pasar secara bertahap yang mencakup sekitar 57 persen dari target tersebut.

Pada kesempatan tersebut, Budi mengapresiasi tanggapan positif Pemerintah India terhadap usulan pembentukan Indonesia-India Preferential Trade Agreement (ID-IN PTA). Menurutnya, perjanjian perdagangan bilateral tersebut akan melengkapi AITIGA dengan menyediakan akses pasar yang lebih luas, mengurangi hambatan nontarif, serta memperkuat fasilitasi perdagangan.

Budi berharap, pembahasan teknis mengenai ID-IN PTA dapat segera dimulai setelah Review AITIGA mencapai konklusi substansial yang ditargetkan pada Oktober 2026.

Perdagangan RI-India tumbuh positif

Pada Januari-Juni 2026, total perdagangan kedua negara mencapai USD11,89 miliar, dengan ekspor Indonesia sebesar USD9,28 miliar dan impornya sebesar USD2,60 miliar. Pada periode ini, Indonesia mencatatkan surplus neraca dagang sebesar USD6,68 miliar dengan India.

Sementara itu, total perdagangan kedua negara pada 2025 mencapai USD23,13 miliar, dengan ekspor Indonesia tercatat sebesar USD18,30 miliar dan impornya sebesar USD4,84 miliar, sehingga Indonesia mencatatkan surplus sebesar USD13,46 miliar.

Ekspor utama Indonesia ke India, di antaranya adalah batu bara, minyak sawit, baja nirkarat, asam lemak monokarboksilat industri, dan korundum buatan. Sementara itu, impor Indonesia dari India meliputi daging kerbau, kacang tanah, kendaraan pengangkut barang, suku cadang dan aksesori traktor, serta tembakau mentah.