Kobaran api terlihat dari sejumlah titik dan dengan cepat menjalar ke area padang savana serta semak belukar yang kering akibat musim kemarau. Munculnya kembali api diduga berasal dari bara yang masih tersisa di dalam lapisan tanah dan akar tanaman, kemudian memicu titik-titik api baru saat tiupan angin cukup kencang melanda kawasan tersebut.
Puluhan petugas gabungan dari BNPB, BPBD, TNI, Polri, Polhut TNBTS, Manggala Agni, relawan, serta masyarakat sekitar langsung diterjunkan untuk melakukan pemadaman dan mencegah api meluas ke kawasan lain. Pemadaman dilakukan secara darat dengan membuat sekat bakar serta menyemprotkan air ke titik-titik yang masih menyala.
Untuk mempercepat penanganan, tiga helikopter water bombing kembali dikerahkan. Helikopter tersebut secara bergantian menjatuhkan ribuan liter air ke area yang sulit dijangkau petugas darat, khususnya di sekitar Lembah Dingklik yang menjadi salah satu titik terparah kebakaran.
Hingga Selasa siang, petugas masih berupaya melokalisasi api agar tidak merembet ke kawasan hutan yang lebih luas maupun mendekati permukiman warga. Kondisi angin yang berubah-ubah dan vegetasi kering menjadi tantangan utama dalam upaya pemadaman.
Petugas juga terus melakukan pendinginan di sejumlah titik rawan untuk mencegah munculnya kembali api, mengingat dalam beberapa hari terakhir kebakaran di kawasan Bromo kerap kembali menyala meski sempat dinyatakan padam. Masyarakat diimbau untuk tetap waspada dan segera melapor jika melihat titik api di sekitar kawasan tersebut.
