Waste4Change sebut 38,62 juta kg sampah dialihkan dari TPA sepanjang 2025. Foto: dok Waste4Change.
Ekonomi Sirkular, 38,62 Juta Kg Sampah Dialihkan dari TPA pada 2025
Ade Hapsari Lestarini • 6 September 2026 08:44
Jakarta: Sebanyak 38,62 juta kilogram sampah berhasil dialihkan dari Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) sepanjang 2025 melalui berbagai inisiatif kolaborasi pengurangan sampah. Capaian tersebut menunjukkan pengelolaan sampah mulai menjadi bagian dari praktik keberlanjutan yang melibatkan sektor bisnis, pemerintah, dan masyarakat.
Waste4Change memberikan apresiasi kepada 42 mitra dan instansi melalui Award4Change atas kontribusi mereka dalam mendorong praktik pengelolaan sampah yang bertanggung jawab selama 2025.
Penghargaan tersebut diberikan dalam rangkaian Indonesia Green Building Festival 2026 di Jakarta. Tahun ini, Award4Change memberikan 43 apresiasi kepada 42 mitra dan instansi. Salah satu mitra menerima dua apresiasi atas kontribusi yang berbeda.
Apresiasi diberikan melalui empat kategori utama. Waste Management Improvement in Local Government mencakup kontribusi pemerintah daerah dalam memperkuat sistem, kapasitas, dan infrastruktur pengolahan sampah.
Selanjutnya, Strategic Partnership & Innovation Award menyoroti kemitraan strategis, inovasi, penerapan ekonomi sirkular, serta pengembangan masyarakat.
Sementara itu, Hospitality & Residential Excellence Award diberikan atas penerapan pengelolaan sampah di sektor hospitality, institusi pendidikan, dan kawasan perumahan.
Adapun Corporate & Commercial Excellence Award mengapresiasi organisasi yang mendorong praktik pengelolaan sampah di lingkungan korporasi, industri, gedung, dan kawasan komersial.
Chief Financial Officer Waste4Change Martinus D Adrian Manorek mengatakan pengelolaan sampah semakin berkaitan dengan bagaimana organisasi membangun sistem, melakukan investasi, dan mengukur dampak dari praktik keberlanjutannya.
"Keberlanjutan hari ini tidak lagi cukup berhenti pada komitmen. Organisasi semakin dituntut untuk menunjukkan bagaimana komitmen tersebut diterjemahkan ke dalam sistem, investasi, dan dampak yang dapat diukur," ujar Martinus dalam keterangan tertulis, Minggu, 6 September 2026.
Menurut dia, perkembangan tersebut menunjukkan pengelolaan sampah tidak lagi sekadar menjadi fungsi pendukung, tetapi mulai menjadi bagian dari keputusan strategis organisasi.
"Kami berharap praktik baik yang diapresiasi hari ini dapat mendorong lebih banyak pihak untuk mengambil langkah serupa dan mempercepat terbentuknya ekosistem ekonomi sirkular di Indonesia," lanjut dia.


Konsistensi pengelolaan sampah
Berbagai kontribusi yang mendapat apresiasi mencakup konsistensi pengelolaan sampah di sejumlah lokasi, pengurangan dan pengalihan sampah, pengembangan ekonomi sirkular, penerapan inovasi, hingga penguatan kolaborasi antara sektor bisnis, pemerintah, dan masyarakat.
Dalam pelaksanaannya, Award4Change tidak ditempatkan sebagai kompetisi atau pemeringkatan. Apresiasi diberikan sebagai bentuk pengakuan terhadap komitmen, pencapaian, inovasi, dan kolaborasi yang telah dilakukan dalam menghadapi persoalan persampahan.
Salah satu bentuk penerapan prinsip circularity juga terlihat dari material yang digunakan untuk membuat plakat apresiasi. Plakat tersebut dibuat menggunakan material daur ulang bernilai rendah melalui REPAIR Project by Waste4Change.
REPAIR Project merupakan inisiatif kolaborasi Waste4Change dan RiverRecycle untuk mengumpulkan sampah plastik bernilai rendah dari sungai dan mengolahnya kembali menjadi produk bernilai guna.
Pemanfaatan material tersebut membuat prinsip circularity tidak hanya menjadi tema dalam pemberian apresiasi, tetapi juga diterapkan pada produk yang diberikan kepada para penerima.
Capaian pengalihan 38,62 juta kilogram sampah dari TPA sepanjang 2025 juga memperlihatkan pentingnya kolaborasi dalam membangun sistem pengelolaan sampah. Upaya tersebut mencakup keterlibatan berbagai sektor dengan pendekatan yang berbeda, mulai dari pengurangan sampah hingga pemanfaatan kembali material.
Penyelenggaraan Award4Change dalam rangkaian Indonesia Green Building Festival 2026 turut menghubungkan pengelolaan sampah dengan agenda keberlanjutan yang lebih luas, termasuk upaya menghadapi perubahan iklim.
Chairperson Green Building Council Indonesia (GBCI) Ignesjz Kemalawarta mengatakan perubahan iklim membuat dunia usaha perlu meningkatkan kesiapan melalui penerapan praktik bisnis berkelanjutan.
"Perubahan iklim sudah menjadi kenyataan yang kita hadapi hari ini. Karena itu, kesiapan menghadapi masa depan harus dibangun sejak sekarang melalui praktik bisnis yang berkelanjutan dan kolaborasi nyata menuju net zero," ujar Ignesjz.
Ke depan, Waste4Change menyatakan akan melanjutkan kolaborasi dengan berbagai sektor untuk memperkuat penerapan pengelolaan sampah yang bertanggung jawab serta mendorong organisasi menerapkan praktik keberlanjutan sesuai dengan kebutuhan masing-masing.