Ilustrasi, drum minyak. Foto: Freepik.
Harga Minyak Tergelincir, Brent Dibanderol USD65/Barel
Husen Miftahudin • 15 January 2026 08:48
Houston: Harga minyak dunia turun pada perdagangan Rabu waktu setempat (Kamis WIB) setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan penindakan keras Iran terhadap protes nasional mereda. Kondisi ini mengurangi kekhawatiran terhadap gangguan pasokan dan tindakan militer Iran.
Mengutip Investing.com, Kamis, 15 Januari 2026, harga minyak mentah Brent berjangka turun 0,7 persen menjadi USD65,03 per barel. Sementara harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS diperdagangkan pada USD60,78 per barel, turun USD1,24, atau dua persen dari penutupan hari sebelumnya.
Harga WTI sempat ditutup lebih tinggi lebih dari satu persen, kemudian kehilangan sebagian besar kenaikan tersebut setelah pernyataan Trump meredakan kekhawatiran tentang potensi serangan AS terhadap Iran dan gangguan pasokan.
Trump mengatakan, ia telah diberitahu penindakan keras Iran terhadap protes nasional telah mereda dan ia yakin saat ini tidak ada rencana untuk eksekusi skala besar.

(Ilustrasi pergerakan harga minyak. Foto: dok ICDX)
Mengutip Investing.com, Kamis, 15 Januari 2026, harga minyak mentah Brent berjangka turun 0,7 persen menjadi USD65,03 per barel. Sementara harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS diperdagangkan pada USD60,78 per barel, turun USD1,24, atau dua persen dari penutupan hari sebelumnya.
Harga WTI sempat ditutup lebih tinggi lebih dari satu persen, kemudian kehilangan sebagian besar kenaikan tersebut setelah pernyataan Trump meredakan kekhawatiran tentang potensi serangan AS terhadap Iran dan gangguan pasokan.
Trump mengatakan, ia telah diberitahu penindakan keras Iran terhadap protes nasional telah mereda dan ia yakin saat ini tidak ada rencana untuk eksekusi skala besar.
| Baca juga: Harga Minyak Dunia Melejit hingga Sentuh Level Tertinggi 2 Bulan |
.jpg)
(Ilustrasi pergerakan harga minyak. Foto: dok ICDX)
Risiko geopolitik sudah dikalkulasi
Suvro Sarkar, seorang analis energi di DBS Bank, mengatakan pasar telah memperhitungkan sebagian besar risiko geopolitik yang terkait dengan ketegangan di Iran.
"Harga minyak telah memperhitungkan cukup banyak premi risiko geopolitik selama beberapa hari terakhir di tengah meningkatnya gejolak di Iran, yang diperparah oleh serangan pesawat tak berawak di Laut Hitam," kata dia, mengutip Yahoo Finance.
"Kecuali kita melihat eskalasi lebih lanjut dan kemungkinan gangguan nyata dalam aliran minyak, pasar dapat terkonsolidasi pada level ini dan menunggu langkah selanjutnya dalam tatanan dunia yang kompleks," tambah Sarkar.
Ia mengatakan peningkatan besar dalam persediaan minyak mentah dan produk AS, yang dilaporkan oleh American Petroleum Institute pada Selasa malam, juga membebani harga.
Menurut API, berdasarkan sumber pasar, persediaan minyak mentah AS meningkat sebesar 5,23 juta barel pada pekan yang berakhir pada 9 Januari.
Tekanan tambahan pada harga datang dari Venezuela, di mana negara anggota Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) tersebut telah mulai membalikkan pemotongan produksi minyak yang dilakukan di bawah embargo AS seiring dengan dimulainya kembali ekspor minyak mentah.
Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun Google News Metrotvnews.com