Ilustrasi pertambangan/Media Indonesia
Penguatan Data dan Verifikasi Lapangan Kunci Jalannya ESG Sektor Batu Bara
Achmad Zulfikar Fazli • 13 May 2026 20:39
Jakarta: Praktik Environmental, Social, and Governance (ESG) di sektor batu bara perlu dipantau secara menyeluruh. Tidak hanya dari sisi emisi operasional perusahaan, tetapi juga rantai pasok hingga dampak penggunaan energi di hilir.
“Sering kali perusahaan hanya melihat emisi langsung atau listriknya saja. Padahal kita juga harus melihat emisi dari transportasi, limbah B3, hingga bagaimana batu bara itu digunakan di pembangkit,” kata Ahli Life Cycle Expert Panel KESGI, Jessica Hanafi, dalam Media Workshop & Kolaborasi Liputan bertajuk Mengawal ESG dan Transisi Energi di Sektor Pertambangan di Jakarta, Rabu, 13 Mei 2026.
Jessica menjelaskan pendekatan dekarbonisasi sektor batu bara harus mempertimbangkan seluruh siklus hidup industri, mulai dari proses produksi, distribusi, hingga dampak setelah energi digunakan. Oleh karena itu, perusahaan perlu memiliki sistem pengelolaan data dan monitoring yang kuat agar target pengurangan emisi dapat diukur secara kredibel.
Selain aspek lingkungan, Jessica menilai dimensi sosial menjadi tantangan penting dalam implementasi ESG sektor pertambangan. Menurut dia, isu kesehatan pekerja dan masyarakat sekitar tambang belum banyak mendapat perhatian dalam laporan keberlanjutan perusahaan.
“Kecelakaan kerja mungkin sudah mulai ditekan, tapi isu seperti gangguan pernapasan akibat paparan debu tambang masih jarang dibahas secara serius dalam laporan ESG,” ujar dia.
Jessica mengingatkan agenda transisi energi perlu mempertimbangkan dampak sosial-ekonomi terhadap pekerja dan masyarakat yang selama ini bergantung pada sektor pertambangan. “Kita juga harus memikirkan apa yang terjadi terhadap pekerja dan masyarakat sekitar tambang ketika transisi berlangsung. Jangan sampai wilayah tambang menjadi kota mati ketika industri berhenti,” ujar dia.
Dalam kesempatan yang sama, Direktur Eksekutif The PRAKARSA, Victoria Fanggidae, menilai tantangan utama implementasi ESG di Indonesia masih terletak pada kesenjangan antara komitmen perusahaan dan kondisi di lapangan.
“ESG yang baik itu bisa diukur, diverifikasi, dan dirasakan. Kalau tidak ada semuanya, ya itu hanya narasi,” ujar Victoria.
Menurut dia, masyarakat sipil memiliki peran penting untuk memverifikasi berbagai klaim ESG perusahaan, terutama terkait dampak sosial dan lingkungan yang dirasakan masyarakat sekitar tambang. Menurut dia, jurnalis perlu melihat lebih jauh dari sekadar laporan keberlanjutan perusahaan dengan melakukan verifikasi lapangan dan memeriksa data independen.
“Jurnalis penting untuk mengecek apakah mekanisme keluhan benar-benar berjalan, apakah dampak kesehatan atau sosialnya benar-benar dipantau,” ujar Victoria.
Baca Juga:
Banyak Tantangan, Pelaku Industri Pertambangan Didorong Semakin Adaptif |

Ilustrasi: Media Workshop & Kolaborasi Liputan bertajuk Mengawal ESG dan Transisi Energi di Sektor Pertambangan. Dok. Istimewa
Sementara itu, Program Manager for Climate & Circular Economy IBCSD, Lusye Marthalia, mengatakan kesiapan perusahaan sektor batu bara dalam menerapkan ESG masih sangat beragam, terutama antara perusahaan besar dan kecil.
“Perusahaan-perusahaan besar umumnya sudah lebih terlihat implementasi ESG-nya karena tuntutan kepatuhan dan pelaporan. Tapi perusahaan tambang yang lebih kecil masih menghadapi tantangan besar, bahkan untuk memahami penghitungan emisi dan strategi dekarbonisasi,” kata Lusye.
Tantangan implementasi ESG, lanjut Lusye, tidak hanya terkait regulasi, tetapi kapasitas internal perusahaan, mulai dari pengukuran emisi, penyusunan target dekarbonisasi, hingga integrasi ESG dalam pengambilan keputusan perusahaan. Dia juga menekankan pentingnya dukungan manajemen puncak dalam implementasi ESG di sektor pertambangan.
“Kalau top management tidak memahami ESG, biasanya implementasinya berhenti di tengah jalan. Karena itu, capacity building untuk level direksi menjadi sangat penting,” ujar dia.
Selain itu, Lusye menilai transisi menuju industri rendah karbon membutuhkan dukungan pembiayaan dan insentif yang lebih kuat, baik dari internal perusahaan maupun pemerintah.
“Transisi menuju emisi rendah itu membutuhkan investasi awal, mulai dari audit, pengukuran, sampai teknologi bersih. Karena itu, perlu ada mekanisme pembiayaan dan insentif yang mendukung agar perusahaan melihat ESG bukan hanya sebagai kepatuhan, tetapi juga nilai tambah,” kata dia.
Kegiatan ini juga memperkenalkan peserta pada penggunaan dashboard KESGI sebagai alat analisis untuk membaca praktik ESG sektor batu bara secara lebih sistematis dan berbasis data. Communication Strategist Katadata Green, C. Bregas Pranoto, menjelaskan salah satu tantangan terbesar dalam membaca praktik ESG adalah data yang tersebar di berbagai laporan perusahaan dengan standar pelaporan yang berbeda-beda.
“Meskipun sumber data ESG cukup banyak dan sebagian sudah dipublikasikan melalui sustainability report, namun data itu tersebar dan standar pelaporannya berbeda-beda. Akibatnya, akan lebih sulit melihat keterkaitan antar-data maupun membandingkan kinerja perusahaan,” ujar Bregas.
Melalui dashboard KESGI, pihaknya mencoba menyusun dan mengelompokkan data tersebut agar lebih mudah diakses dan dianalisis secara sektoral maupun pada level perusahaan. KESGI memuat penilaian ESG dari berbagai sektor industri, termasuk sektor batu bara, dengan pendekatan berbasis pilar, topik, dan indikator.
“Dashboard ini tidak hanya menampilkan skor ESG, tetapi juga mencoba membuat data-data tersebut bercerita melalui visualisasi yang lebih mudah dipahami,” kata dia.
Pengguna dapat melihat perkembangan skor ESG perusahaan dari tahun ke tahun, membandingkan kinerja antarperusahaan, hingga menelusuri indikator spesifik seperti emisi, konsumsi energi, transparansi tata kelola, maupun aspek sosial perusahaan.
“Jadi kita tidak hanya melihat skor akhirnya, tetapi juga bisa menelusuri indikator apa yang membuat skor perusahaan naik atau turun, mana aspek yang sudah berkembang, dan mana yang masih tertinggal,” ujar dia.