Ketika Kritik dan Kebebasan Berekspresi Menuntut Batasan Etis di Ruang Publik

Poster Mens Rea Pandji Pragiwaksono. Foto: Instagram @pandji.pragiwaksono.

Ketika Kritik dan Kebebasan Berekspresi Menuntut Batasan Etis di Ruang Publik

Whisnu Mardiansyah • 10 January 2026 21:10

Jakarta: Kebebasan berekspresi merupakan hak fundamental yang dilindungi konstitusi, termasuk dalam bentuk seni komedi yang kerap menjadi cermin kritik sosial. Namun, ruang publik Indonesia yang majemuk menuntut kesadaran akan batasan etis yang tak tertulis.

Seni satire, meski dilindungi, berada dalam dialektika dengan prinsip toleransi ketika menyentuh ranah sensitif seperti agama, suku, ras, dan antargolongan (SARA). Di sinilah seniman ditantang untuk berekspresi di atas garis tipis antara kritik yang mencerahkan dan ekspresi yang melukai, antara kebebasan kreatif dan tanggung jawab sosial dalam masyarakat yang beragam.

Komika Pandji Pragiwaksono kembali menjadi sorotan publik setelah pertunjukan stand-up comedy terbarunya bertajuk "Mens Rea". Pertunjukan yang digelar di sejumlah kota dan ditayangkan di platform digital ini menuai polemik karena materi yang dibawakan dinilai menyentuh persoalan sensitif dalam etika berekspresi di ruang publik.

Founder Indonesian Cyber, Muannas Alaidid, menyampaikan kritik keras terhadap materi komedi Pandji. Ia menilai candaan soal ibadah salat dalam pertunjukan tersebut telah melampaui batas kebebasan berekspresi.
 


Dalam unggahan di akun media sosial Instagram dan X @muannas_alaidid pada Sabtu, 10 Januari 2026, Muannas menyebut materi Pandji menjadikan salat sebagai bahan lelucon di ruang publik tidak etis.

Ia mempertanyakan kelayakan menjadikan salat sebagai bahan satire politik. Baginya, tindakan tersebut tidak pantas, melanggar etika toleransi, dan berpotensi melukai perasaan umat Islam.

Muannas mengingatkan bahwa salat adalah perintah langsung dari Allah SWT dan merupakan tiang agama Islam. Ibadah ini memiliki kedudukan sangat mulia dan menjadi amalan pertama yang dihisab di akhirat.

"Kelak nanti, salat menjadi ibadah yang pertama kali dihisab. Berbagai keutamaan salat membuatnya ibadah ini menjadi tiang agama Islam," ujarnya.


Pandji Pragiwaksono (Foto: instagram/pandji.pragiwakasono)

Muannas menilai Pandji telah melampaui batas toleransi dalam berekspresi di ruang publik yang majemuk. Ia menyerukan sikap tegas. "Tentu semua ada batasannya dan Pandji jelas-jelas telah menjadi bagian orang yang melewati batas," pungkas Muannas.

Kritik ini memantik perdebatan publik yang lebih luas mengenai batas kebebasan berekspresi dalam komedi, keseimbangan antara hak berpendapat dan penghormatan terhadap keyakinan, serta tanggung jawab etika seorang publik figur dalam masyarakat multikultural seperti Indonesia. Polemik ini menguji sejauh mana ruang dialog kebudayaan dapat menampung ekspresi kritis tanpa mengorbankan harmoni sosial.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Whisnu M)