Nicolas Maduro turun dari helikopter untuk diadili di pengadilan Manhattan. Foto: The New York Times
Mencari Tahu Kekayaan Mantan Penguasa Venezuela Nicolas Maduro
Fajar Nugraha • 6 January 2026 17:49
Jakarta: Kekayaan mantan Presiden Venezuela Nicolas Maduro kembali menjadi perhatian internasional di tengah situasi politik dan ekonomi negaranya yang terus berada dalam tekanan. Maduro saat ini di Amerika Serikat (AS) dan didakwa di pengadilan Manhattan atas tuduhan narkoterorisme, setelah diculik dari Venezuela pada 3 Januari 2026.
Kekuasaan Maduro pun langsung hancur ketika pasukan AS menyerang Venezuela dan menculik Maduro. Laporan media internasional menyoroti estimasi harta pribadi Maduro yang kerap diperdebatkan, terutama karena minimnya transparansi data keuangan pejabat tinggi di Venezuela.
Nicolas Maduro menjabat sebagai presiden Venezuela sejak 2013, menggantikan Hugo Chávez. Sebelum mencapai posisi puncak pemerintahan, Maduro meniti karier politik dari latar belakang sederhana sebagai sopir bus dan aktivis serikat pekerja.
Perjalanan politik tersebut sering dijadikan narasi resmi untuk menggambarkan dirinya sebagai pemimpin yang dekat dengan rakyat, termasuk dalam isu kekayaan pribadi.
Menurut laporan The Economic Times, tidak terdapat catatan resmi yang secara terbuka memaparkan total aset Nicolas Maduro. Namun, sejumlah lembaga pemantau kekayaan tokoh publik internasional memperkirakan kekayaan bersih Maduro berada di kisaran sekitar USD2 juta atau sekitar Rp33 Miliar. Angka ini dihitung berdasarkan gaji resmi selama bertahun-tahun menjabat di pemerintahan serta aset yang diketahui secara publik.
Maduro sendiri pernah menyatakan bahwa gaji resminya sebagai presiden tergolong kecil jika dibandingkan dengan pemimpin negara lain. Ia mengklaim menerima pendapatan dalam jumlah terbatas akibat kondisi ekonomi nasional dan kebijakan pengendalian keuangan negara.
Pernyataan tersebut menimbulkan respons beragam, terutama karena Venezuela tengah menghadapi krisis ekonomi berkepanjangan, inflasi tinggi, dan penurunan daya beli masyarakat.
Perkiraan kekayaan Maduro juga tidak lepas dari kritik dan tuduhan yang datang dari luar negeri. Beberapa negara dan lembaga internasional menuding adanya praktik penyalahgunaan kekuasaan dan pengelolaan sumber daya negara yang tidak transparan.
Meski demikian, hingga kini belum ada laporan audit internasional independen yang secara resmi mengonfirmasi tuduhan tersebut terhadap kekayaan pribadi sang presiden.
Isu kekayaan Nicolas Maduro menjadi semakin sensitif karena kontras dengan kondisi rakyat Venezuela. Negara yang memiliki cadangan minyak terbesar di dunia itu mengalami penurunan produksi energi, keterbatasan layanan publik, serta arus migrasi besar-besaran. Dalam konteks ini, besaran harta presiden sering dipandang sebagai simbol ketimpangan antara elite politik dan masyarakat umum.
Media internasional mencatat bahwa keterbatasan akses terhadap data keuangan pejabat tinggi membuat estimasi kekayaan Maduro sulit diverifikasi. Situasi ini memperkuat persepsi global bahwa transparansi keuangan masih menjadi tantangan besar dalam sistem pemerintahan Venezuela.
Kekayaan Presiden Nicolas Maduro tetap menjadi topik yang sarat perdebatan di tingkat internasional. Perkiraan harta yang beredar mencerminkan keterbatasan informasi publik dan kompleksitas sistem politik Venezuela. Di tengah krisis ekonomi nasional, isu ini tidak hanya menyangkut angka kekayaan, tetapi juga kepercayaan publik terhadap kepemimpinan negara.
(Keysa Qanita)