Trump tuduh Iran miliki rudal yang bisa gapai AS. Foto: EFE
Klaim Trump soal Rudal Iran Tak Didukung Intelijen AS
Fajar Nugraha • 27 February 2026 17:05
Washington: Klaim Presiden Donald Trump bahwa Iran segera memiliki rudal yang mampu menjangkau Amerika Serikat (AS) tidak didukung laporan intelijen.
Tiga sumber yang mengetahui laporan tersebut menyebut pernyataan itu berlebihan.
Dalam pidato kenegaraan di Kongres pada Selasa, 24 Februari 2026, Trump mengatakan Teheran sedang mengembangkan rudal yang akan segera mencapai wilayah AS.
Namun, dua sumber menyebut tidak ada perubahan pada penilaian 2025 dari Defense Intelligence Agency yang memperkirakan Iran baru dapat mengembangkan rudal balistik antarbenua yang layak secara militer paling cepat pada 2035.
Juru bicara Gedung Putih Anna Kelly membela pernyataan Trump dan menyoroti ancaman dari Iran. Sementara itu, Menteri Luar Negeri Marco Rubio menyatakan bahwa Iran berada di jalur untuk suatu hari mampu mengembangkan senjata yang dapat menjangkau daratan utama AS.
The New York Times melaporkan badan intelijen AS menilai Iran masih bertahun-tahun lagi dari kemampuan menyerang wilayah Amerika.
Sumber juga menyebut bahkan dengan bantuan teknologi dari Tiongkok atau Korea Utara, Iran diperkirakan membutuhkan waktu hingga delapan tahun untuk menghasilkan rudal operasional setingkat ICBM (rudal balistik antar benua).
Iran membantah tengah mengembangkan senjata nuklir maupun rudal jarak jauh.
“Kami tidak mengembangkan rudal jarak jauh. Kami sengaja membatasi jangkauan di bawah 2.000 kilometer,” ucap Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi, dikutip dari media Channel News Asia, Jumat, 27 Februari 2026.
Komunitas intelijen AS dan International Atomic Energy Agency (IAEA) menyatakan Iran telah menghentikan program pengembangan senjata nuklir pada 2003. Meski demikian, IAEA mencatat Teheran terus memperkaya uranium hingga mendekati tingkat senjata dalam beberapa tahun terakhir.
Pakar keamanan nuklir David Albright menilai Iran masih jauh dari kemampuan memasang hulu ledak nuklir pada rudal dengan kendaraan masuk ulang yang memadai. Ia menyebut program peluncuran satelit Iran memang memberi potensi teknis, tetapi masih membutuhkan banyak pengembangan tambahan.
(Keysa Qanita)