Ilustrasi. Foto: Dok Metrotvnews.com
Data 522 Pelajar Mengidap HIV, Ini Kata Dinkes Sidoarjo
Amaluddin • 23 July 2026 09:29
Sidoarjo: Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sidoarjo meluruskan informasi tentang 522 anak dan pelajar terindikasi terpapar HIV yang dirilis Yayasan Delta Crisis Center (DCC). Dinkes menegaskan, angka tersebut tidak bisa dimaknai sebagai 522 pelajar di Sidoarjo terpapar HIV.
Kepala Dinkes Kabupaten Sidoarjo, Lakshmie Herawati Yuwantina, mengatakan data DCC menggunakan pengelompokan usia yang lebih luas. Data itu mencakup anak usia dini, mahasiswa, dan kasus kumulatif selama bertahun-tahun. Karena itu, narasi 522 pelajar di Sidoarjo mengidap HIV tidak tepat.
"Kalau pelajar bisa kita klasifikasikan dari usia 11 sampai 17 tahun. Berdasarkan data kami, jumlahnya 60 kasus secara kumulatif sejak tahun 2001 hingga Juni 2026. Dari jumlah itu, tujuh orang telah meninggal dunia, sehingga saat ini terdapat 53 orang usia 11 sampai 17 tahun yang masih hidup dan mendapatkan pendampingan," kata Lakshmie, Kamis, 23 Juli 2026.
Data HIV di Sidoarjo per Juni 2026
Lakshmie menegaskan, data HIV harus dipahami dengan cermat agar tidak menimbulkan kesalahpahaman dan stigma terhadap anak dan pelajar.
Data Dinkes Kabupaten Sidoarjo mencatat:
Usia 11–17 Tahun:
-
60 kasus kumulatif sejak 2001 hingga Juni 2026
-
53 orang masih hidup dan menjalani pengobatan
-
7 orang meninggal dunia
Usia 0–10 Tahun:
-
117 kasus HIV
-
35 anak meninggal dunia
-
50 anak lost to follow-up (terputus pemantauan)
-
32 anak masih rutin terapi ARV

Ilustrasi AIDS. Foto: Dok. Medcom.id.
Lakshmie mengatakan, semua pasien yang masih menjalani terapi mendapat layanan medis dan pendampingan dari tenaga kesehatan serta komunitas pendamping.
"Prinsipnya, selain dari Dinas Kesehatan, ada komunitas pendamping yang terus memberikan dukungan agar mereka tetap disiplin menjalani terapi ARV sekaligus mengurangi stigma yang masih ada di masyarakat," ujarnya.
Lakshmie menjelaskan, terapi ARV yang rutin bisa menekan jumlah virus hingga tidak terdeteksi (undetectable). Risiko penularan ke orang lain pun sangat rendah. Ia mengingatkan ODHIV agar tidak berhenti minum obat meski kondisi kesehatan membaik.
"Harapannya, saat dilakukan pemeriksaan, viral load semakin rendah bahkan tidak terdeteksi sehingga tidak berisiko menularkan kepada orang lain. Karena itu pasien harus tetap rutin mengonsumsi ARV sesuai dosis dan jadwal," tegasnya.
Dinkes Kabupaten Sidoarjo mencatat 7.230 kasus HIV sejak 2001 hingga Juni 2026. Dari jumlah itu, 1.708 pasien meninggal dunia. Sebanyak 810 orang berstatus lost to follow-up. Rinciannya, 565 orang berdomisili di luar Sidoarjo, 52 orang menolak pengobatan, dan 193 orang tidak ditemukan meski sudah ditelusuri petugas kesehatan.
Sebelumnya, Yayasan Delta Crisis Center (DCC) merilis data hingga 1 Juli 2026. DCC mencatat 7.129 Orang dengan HIV (ODHIV) di Kabupaten Sidoarjo. Dari jumlah itu, 522 ODHIV berasal dari kelompok usia sekolah. Rinciannya, sekitar 13 anak PAUD/TK, 44 anak usia SD hingga SMP, dan 465 pelajar SMA hingga mahasiswa.
Direktur Program Yayasan DCC, Ferry Efendi, menjelaskan penularan HIV pada kelompok usia itu terjadi melalui berbagai jalur. Mulai dari penularan ibu ke anak saat hamil, melahirkan, atau menyusui. Lalu penggunaan jarum suntik pada penyalahgunaan narkotika, hingga hubungan seksual berisiko.
"HIV hanya menular melalui darah, hubungan seksual, penggunaan jarum suntik, dan ASI. Karena itu masyarakat perlu mendapatkan edukasi yang benar agar memahami cara penularan maupun pencegahannya," ujar Ferry.