Pemandangan udara rumah-rumah yang rusak di desa Delight setelah banjir bandang, di distrik Nuwakot, Nepal. 27 Agustus 2026. (EFE/EPA/NARENDRA SHRESTHA)
Banjir Bandang di Nepal-Tibet Tewaskan Ratusan Orang, Apa Penyebabnya?
Riza Aslam Khaeron • 30 August 2026 15:24
Jakarta: Hujan deras dan longsoran es dahsyat memicu banjir bandang di kawasan perbatasan Nepal dan Tibet pada Rabu, 26 Agustus 2026. Bencana ini menewaskan ratusan orang dan menyebabkan ribuan lainnya hilang.
Berdasarkan pembaruan data hingga Minggu, 30 Agustus 2026 pukul 14.00 WIB, pejabat setempat melaporkan sedikitnya 734 orang tewas dan lebih dari 2.400 orang masih dinyatakan hilang di Nepal. Sementara itu, media pemerintah Tiongkok melaporkan jumlah korban tewas di Tibet mencapai 16 orang, dengan 546 orang lainnya hilang.
Lantas apa penyebab dari bencana yang tengah melanda di sekitar pegunungan Himalaya tersebut? Berikut ulasannya.
Apa Penyebab Banjir di Nepal?

Citra sungai Trishuli, sebelum dan sesudah banjir hari Rabu. (Dok. Planet Labs via BBC)
Mengutip The Guardian, awalnya, Menteri Luar Negeri Nepal, Shisir Khanal, menyampaikan pada Rabu bahwa laporan awal mengindikasikan banjir kemungkinan dipicu oleh gempa bumi yang memicu tanah longsor di area tersebut.
Namun, Survei Geologi AS (USGS) kemudian mengklarifikasi bahwa runtuhnya gletser merupakan penyebab utama terjadinya peristiwa seismik sekaligus banjir tersebut.
USGS mencatat getaran akibat runtuhnya gletser terdeteksi sebagai peristiwa seismik berkekuatan magnitudo 5,2 di dekat perbatasan Nepal dan Tiongkok pada pukul 08.37 waktu setempat.
Daniel Shugar, ahli geomorfologi dan profesor madya di Universitas Calgary, Kanada, menjelaskan bahwa analisis satelit awal menunjukkan bongkahan es seluas 0,2 kilometer persegi "runtuh sekitar 1,2 km secara vertikal."
"Apa yang bisa saya lihat dalam citra satelit dari Planet Labs, bagian bawah gletser pecah pada ketinggian sekitar 5.200 meter dan jatuh ke dasar lembah sekitar 1.200 meter di bawahnya," katanya.
Citra satelit sebelum dan sesudah kejadian mengindikasikan adanya pencairan salju dalam jumlah signifikan kurun 24 jam sebelum bencana terjadi.
Longsoran es dan batuan dari gletser tersebut dilaporkan menyebabkan luapan lumpur, air, dan puing-puing besar yang membobol tanggul Sungai Trishuli (dikenal juga sebagai Bhotekoshi), sungai yang mengalir di wilayah perbatasan antara Tiongkok dan Nepal.
Terjangan arus merusak permukiman, jembatan, akses jalan, hingga fasilitas pembangkit listrik. Dampak terparah dilaporkan terjadi terjadi di sekitaran Sungai Lhende Khola, anak sungai Trishuli.
Kenapa Gletser Runtuh?
Penyebab pasti runtuhnya gletser tersebut memang belum dapat dipastikan secara menyeluruh. Namun, sejumlah ahli menunjuk pemanasan global sebagai salah satu faktor utama penentu melelehnya es di kawasan Pegunungan Himalaya."Logikanya adalah ketika planet menghangat, gletser akan menyusut dan terjadi pencairan salju dalam jumlah besar," ujar Dr. Simon Cook, pakar gletser dari University of Dundee, kepada BBC.
"Kondisi ini akan meningkatkan risiko terjadinya tanah longsor, aliran puing, air lelehan glasial, luapan danau, hingga gletser yang runtuh. Sebab, pemanasan iklim pada akhirnya melumpuhkan kestabilan lingkungan pegunungan tinggi tersebut," tambahnya.
Ini bukan pertama kalinya wilayah sekitaran pegunungan Himalaya terdampak banjir bandang akibat pencairan es Himalaya.
Peristiwa serupa juga pernah terjadi pada 2021 di Uttarakhand, India, ketika gletser Himalaya pecah dan memicu banjir bandang yang menewaskan atau menghilangkan sekitar 200 orang.
Pemanasan Global dan Pencairan Es Himalaya
Berdasarkan The Guardian, kawasan Himalaya yang membentang di Nepal, India, Tiongkok, Bhutan, dan Pakistan mengalami laju pemanasan dua kali lebih cepat dibandingkan rata-rata global.Kondisi ini meningkatkan risiko longsoran salju, tanah longsor, dan banjir. Laporan PBB tahun 2023 mencatat bahwa wilayah pegunungan Nepal telah kehilangan hampir sepertiga cadangan es dalam kurun waktu 30 tahun terakhir akibat pemanasan global.
Penilaian pada tahun yang sama menemukan bahwa gletser di kawasan Hindu Kush Himalaya menyusut 65% lebih cepat sepanjang periode 2011–2020 dibandingkan dekade sebelumnya.
Meski tidak menjadi penyebab langsung dalam peristiwa Rabu lalu, kawasan pegunungan juga menghadapi risiko banjir luapan danau glasial. Danau glasial terbentuk di belakang tanggul alami akibat pencairan gletser dan berpotensi memicu banjir bandang jika dinding tanggulnya jebol.
Secara global, lebih dari 12.000 kematian tercatat akibat banjir luapan danau glasial. Data PBB menunjukkan Nepal memiliki lebih dari 2.000 danau glasial, dengan 21 di antaranya dikategorikan berpotensi bahaya.
Hingga saat ini, hampir 20.000 personel pasukan keamanan telah dikerahkan dalam operasi penyelamatan di perbatasan Nepal-Tibet. Namun, PBB melaporkan bahwa kondisi medan yang ekstrem serta curah hujan yang tinggi menjadi hambatan utama dalam penyaluran bantuan logistik.