Ketika Piala Presiden 2026 Menghidupkan UMKM dan Ekonomi Keluarga

UMKM Piala Presiden, dok: Instagram @tsamaradki dan @maruararsirait

Ketika Piala Presiden 2026 Menghidupkan UMKM dan Ekonomi Keluarga

Putri Purnama Sari • 8 August 2026 11:19

Jakarta: Piala Presiden 2026 telah berakhir dengan Persebaya Surabaya keluar sebagai juara. Namun, di balik riuhnya pertandingan dan sorak-sorai suporter, ada kisah lain yang tak kalah menarik. Turnamen pramusim sepak bola ini ternyata menjadi ruang bagi ratusan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk mengembangkan usahanya sekaligus memperkuat ekonomi keluarga.

Aroma makanan hangat, minuman segar, hingga aneka jajanan khas menyambut ribuan penonton yang datang ke stadion. Para pelaku UMKM sibuk melayani pembeli di setiap stan. Banyak di antaranya adalah perempuan yang berjualan demi menopang ekonomi keluarga.

Piala Presiden 2026 bukan sekadar menghadirkan tontonan olahraga. Turnamen ini juga membuktikan bahwa sepak bola mampu menjadi penggerak ekonomi kerakyatan dengan memberikan ruang bagi UMKM lokal untuk tumbuh.

Sejak awal penyelenggaraan, Panitia Piala Presiden 2026 menegaskan turnamen tidak hanya mengejar kualitas pertandingan, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Komitmen tersebut diwujudkan dengan melibatkan ratusan UMKM lokal di Bandung, Surabaya, dan Bali yang telah melalui proses kurasi untuk memasarkan produknya.

"UMKM dibagi menjadi tiga kategori, yaitu UMKM lokal yang sudah cukup dikenal, UMKM yang sedang naik kelas, dan UMKM baru yang sedang berkembang. Tiga kategori tersebut menjadi dasar kami dalam memilih UMKM yang terlibat," kata Ketua Organizing Committee (OC) Piala Presiden 2026, Tsamara Amany di Bali, Jumat, 7 Agustus 2026. 
 

Ketika Sepak Bola Menggerakkan Ekonomi Kerakyatan


Dok: Instagram @maruararsirait

Kesuksesan sebuah turnamen olahraga umumnya diukur dari kualitas pertandingan, jumlah penonton, atau antusiasme suporter. Namun, Piala Presiden 2026 menghadirkan makna yang lebih luas.

Penyelenggara menyediakan fasilitas stan secara gratis bagi pelaku UMKM tanpa biaya sewa maupun pungutan lainnya. Kebijakan tersebut membuka kesempatan bagi para pedagang untuk menjangkau ribuan calon pelanggan yang datang ke stadion.

Hasilnya pun cukup menggembirakan. Lebih dari 165 pelaku UMKM yang berpartisipasi di Bandung, Surabaya, dan Bali berhasil mencatatkan total transaksi hingga Rp1,6 miliar sepanjang penyelenggaraan turnamen.

Angka tersebut menunjukkan bahwa sebuah kompetisi sepak bola tidak hanya menghadirkan hiburan bagi masyarakat, tetapi juga memberikan dampak ekonomi yang dirasakan langsung pelaku usaha kecil dan menengah.

UMKM Perempuan Menjadi Wajah Ekonomi Keluarga

Terdapat satu kesamaan yang menarik perhatian di balik ramainya aktivitas perdagangan selama Piala Presiden 2026, yakni banyaknya stan yang dikelola oleh perempuan. Mereka datang sejak pagi untuk menyiapkan bahan dagangan, melayani pelanggan hingga pertandingan usai, lalu kembali membereskan perlengkapan sebelum pulang ke rumah.

Namun, perjuangan mereka tidak dilakukan sendirian. Dalam berbagai stan UMKM, terlihat anggota keluarga ikut mengambil peran. Ada suami yang bertugas mencari bahan baku dan menjaga persediaan dagangan, sementara sang istri fokus melayani pembeli. Ada pula kerabat yang membantu menjadi kasir ketika antrean semakin panjang.

Bahkan, terdapat seorang anak perempuan berusia 11 tahun yang memilih menghabiskan waktu liburnya untuk membantu sang ibu melayani pelanggan di stan. Pemandangan tersebut memperlihatkan bahwa UMKM bukan sekadar usaha milik individu, melainkan perjuangan bersama seluruh anggota keluarga.

Gotong Royong Menjadi Kekuatan UMKM


Tsamara Amany dan pelaku UMKM, dok: Instagram @tsamaradki

Keberhasilan sebuah usaha kecil sering kali diukur dari besarnya omzet. Namun, kisah para pelaku UMKM di Piala Presiden 2026 memperlihatkan bahwa ada modal lain yang tidak kalah penting, yakni gotong royong.

Dukungan keluarga menjadi energi utama bagi para pelaku usaha untuk terus bertahan dan berkembang. Suami, istri, anak, hingga kerabat saling berbagi tugas agar usaha tetap berjalan dengan baik. Semangat kebersamaan inilah yang menjadi wajah nyata ekonomi kerakyatan di Indonesia.

Perempuan memang menjadi garda terdepan dalam menjalankan usaha. Namun, keberhasilan mereka tidak terlepas dari peran keluarga yang memberikan dukungan penuh.

Piala Presiden Tak Hanya Melahirkan Juara di Lapangan

Persebaya Surabaya memang berhasil mengangkat trofi juara Piala Presiden 2026. Akan tetapi, kemenangan sesungguhnya juga dirasakan oleh para pelaku UMKM yang memperoleh kesempatan memperluas pasar dan meningkatkan pendapatan mereka.

Turnamen ini membuktikan bahwa olahraga dapat menjadi instrumen pemberdayaan masyarakat apabila diselenggarakan dengan melibatkan pelaku ekonomi lokal. Kehadiran UMKM di sekitar stadion bukan hanya melengkapi kemeriahan pertandingan, tetapi menciptakan manfaat ekonomi yang berkelanjutan bagi masyarakat.


Ketua Steering Committee Piala Presiden, Maruarar Sirait. (Metrotvnews.com/ Roni Kurniawan)

Ketua Steering Committee Piala Presiden, Maruarar Sirait menegaskan, penyelenggaraan turnamen memang harus memberi manfaat yang lebih luas daripada sekadar menghadirkan tontonan sepak bola.

"UMKM ini merupakan penunjang roda perekonomian. Sesuai arahan Presiden Prabowo, UMKM ini harus mendapatkan kesempatan, harus mendapatkan keuntungan," ujar Maruarar saat meninjau gerai-gerai UMKM di Stadion I Wayan Dipta, Kamis, 6 Agustus 2026.

Sepak Bola dan UMKM, Kolaborasi untuk Masa Depan

Piala Presiden 2026 meninggalkan warisan yang lebih dari sekadar hasil pertandingan atau daftar juara. Turnamen ini memperlihatkan bagaimana sepak bola mampu menghadirkan dampak sosial dan ekonomi yang nyata.

Model penyelenggaraan seperti ini menunjukkan bahwa olahraga dapat menjadi instrumen pemberdayaan ekonomi masyarakat. Terlebih, perputaran uang bagi UMKM hingga menjelang laga final kemarin mencapai Rp1,5 miliar dan menjadi salah satu bukti roda ekonomi bergerak.

"Kita kan senang kalau UMKM-nya maju. Jadi harus bikin orang lain bahagia," lanjut Maruarar.  Ketika ribuan suporter memadati stadion untuk mendukung tim kesayangannya, para pelaku UMKM memperoleh kesempatan memperkenalkan produknya kepada pasar yang lebih luas. Di balik setiap makanan yang terjual dan setiap minuman yang disajikan, terdapat harapan agar usaha kecil terus berkembang.

Lebih dari itu, kisah para perempuan tangguh yang didukung suami, anak, dan keluarga menjadi bukti bahwa ekonomi kerakyatan tumbuh dari semangat gotong royong.

Saat peluit panjang pertandingan dibunyikan dan stadion mulai lengang, para pedagang perlahan membereskan dagangannya. Mereka memang tidak membawa pulang trofi seperti para pemain juara di lapangan.

Namun, mereka pulang dengan sesuatu yang tak kalah berharga yaitu tambahan penghasilan, pelanggan baru, dan harapan bahwa usaha kecil yang mereka bangun bersama keluarga akan terus berkembang.

Karena pada akhirnya, di balik gemuruh Piala Presiden 2026, kemenangan tidak hanya diraih di atas lapangan, tetapi juga hadir di meja-meja sederhana para pelaku UMKM yang menjaga denyut ekonomi rakyat.

(Putri Purnama Sari)