Ilustrasi. Foto: Freepik.
Bank Danamon Kaji Ekspansi Bisnis Paylater
Ade Hapsari Lestarini • 20 February 2026 09:24
Jakarta: PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN) membuka peluang untuk masuk ke bisnis paylater, sebagai upaya memperkuat penetrasi segmen ritel. Sampai saat ini, perseroan masih dalam tahap melakukan kajian model bisnis, serta skema penyaluran yang paling sesuai.
"Minat tentu selalu ada, karena paylater bagian dari kredit konsumsi. Tapi sampai sekarang kami masih mencari bentuk yang tepat untuk bisnis ini," ujar Wakil Direktur Utama Danamon Honggo Widjojo Kangmasto dalam Konferensi Pers Virtual Paparan Kinerja FY 2025 di Jakarta, dilansir Antara, Jumat, 20 Februari 2026.
Honggo mengatakan, layanan paylater pada dasarnya merupakan bagian dari kredit konsumsi yang potensial. Namun demikian, pihaknya memilih berhati-hati sebelum memutuskan ekspansi ke lini bisnis tersebut.
Ia menjelaskan, salah satu opsi yang dipertimbangkan perseroan yaitu penyaluran melalui entitas dalam grup, yakni Home Credit Indonesia. Perseroan juga membuka kemungkinan kolaborasi dengan ekosistem digital yang terhubung dengan jaringan strategis induk usaha.
Selain itu, perseroan menimbang peluang sinergi bersama ekosistem investasi yang dimiliki MUFG Group di sejumlah perusahaan rintisan (startup) di Indonesia, yang dapat mempercepat penetrasi pasar sekaligus meminimalkan risiko.

Wakil Direktur Utama Danamon Honggo Widjojo Kangmasto. Foto: Metrotvnews.com
Menunggu hasil kajian kelayakan bisnis
Namun demikian, perseroan menegaskan keputusan final terkait ekspansi paylater masih menunggu hasil kajian kelayakan bisnis, termasuk potensi risiko kredit, kesiapan infrastruktur digital, serta dinamika regulasi.
"Ke depan, bank tetap berfokus memperkuat posisi sebagai bank konvensional dengan kapabilitas digital, sembari terus mengeksplorasi peluang bisnis baru yang dapat memperluas basis nasabah ritel tanpa mengabaikan prinsip kehati-hatian," ujar Honggo.
Sepanjang 2025, Bank Danamon membukukan laba bersih tahun berjalan konsolidasian senilai Rp4 triliun, atau tumbuh 14 persen year on year (yoy) dibandingkan periode sama tahun sebelumnya.
Dari sisi intermediasi, perseroan mencatatkan total kredit dan trade finance konsolidasian sebesar Rp212,7 triliun per 31 Desember 2025, atau tumbuh sembilan persen (yoy). Pertumbuhan kredit terjadi di seluruh lini bisnis, termasuk enterprise banking, financial institutions, consumer banking, serta pembiayaan melalui Adira Finance.
Dana pihak ketiga (DPK) perseroan tumbuh 16 persen (yoy) menjadi Rp176,9 triliun, yang ditopang oleh peningkatan simpanan giro dan tabungan (CASA
Adapun, kualitas aset perseroan menunjukkan perbaikan, tercermin dari rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) yang turun menjadi 1,7 persen, atau lebih baik 20 basis poin dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara itu, Rasio Loan at Risk (LAR) turut membaik menjadi 8,3 persen, atau turun 230 basis poin secara tahunan.