Ilustrasi. Foto: Anadolu Agency.
Begini Strategi Aviasi Indonesia Demi Mengokohkan Penerbangan Nasional
Husen Miftahudin • 18 February 2026 17:09
Jakarta: Dunia aviasi Indonesia kini menjadi sorotan nasional dengan hadirnya keputusan merger antara tiga maskapai yaitu Garuda Indonesia, Pelita Air, dan Citilink. Pada fase ini, konsolidasi dalam dunia aviasi seringkali dipersepsikan sebagai jalan pintas yang efisien.
"Padahal, penyatuan atau merger maskapai tidak selalu identik dengan penguatan strategi. Hal yang justru terlupakan adalah bagaimana peran setiap maskapai dirancang untuk saling melengkapi, bukan saling meniadakan," ungkap praktisi aviasi Dian Ediono dalam keterangan tertulis, Jakarta, Rabu, 18 Februari 2026.
Menurut dia, setiap fase krisis dalam industri penerbangan selalu akan melahirkan dua pilihan, yakni bertahan dengan struktur lama atau justru merancang ulang fondasi bisnisnya. Melihat peran maskapai saat ini serta kebutuhan masyarakat, Indonesia berada pada pilihan kedua. Dimana hadirnya integrasi maskapai bukan lagi sebuah pertanyaan "perlu atau tidak", melainkan "bagaimana bentuk terbaiknya".
| Baca juga: Pemerintah Kasih Diskon Tiket Pesawat Domestik hingga 18%, Ini Jadwalnya |
Strategi 1 group 3 tier maskapai nasional
Dian menggambarkan konsep yang tepat dan dapat menjadi solusi bagi dunia maskapai nasional, yaitu 1 Group yang memiliki 3 Tier Maskapai Nasional. Konsep ini digambarkan seperti piramida dengan urutan puncak yaitu Garuda Indonesia (Premium), kemudian pada bagian tengah yaitu Pelita Air (Mid-Service), dan bagian bawah yaitu Citilink (LCC).
Transisi dari sistem 2 tingkat menjadi 3 tingkat ini bertujuan untuk menutup celah yang saat ini dieksploitasi oleh pihak asing, menyeimbangkan layanan rute dengan harga yang efisien, serta konektivitas yang berkelanjutan tanpa bergantung pada pihak lain.
Struktur piramida ini tidak hanya memaksimalkan target pelayanan dan penjualan, tetapi juga mengatasi kanibalisme internal dan memastikan setiap pelanggan mendapatkan layanan yang tepat sesuai dengan segmentasinya.dra
Pada puncak piramida, yaitu Garuda Indonesia, sebagai maskapai nasional, sangat cocok untuk diterapkan sebagai maskapai penerbangan kelas premium dengan target pelanggan yaitu pemerintahan, diplomat, BUMN, dan traveler corporate premium. Namun, perlu diperhatikan Garuda Indonesia harus keluar dari perang harga dan menghindari kompromi yang didorong oleh biaya dengan berfokus pada standar SkyTeam.
Untuk bagian tengah piramida, yaitu Pelita Air, sebagai The Value Bridge akan bergerak sebagai "penengah" antara LCC dan Premium dengan menyerap hilangnya permintaan yang saat ini dikuasai oleh pihak asing. Pelita Air dapat menargetkan pelanggannya pada industri energi, pertambangan, dan sektor konstruksi atau traveler secondary middle class.
"Dengan layanan yang terjangkau namun premium, layanan Pelita Air sangat cocok untuk para pelanggan yang membutuhkan penerbangan medium service dengan harga terjangkau," papar dia.
Sedangkan pada bagian bawah, yaitu Citilink, sebagai The Value Engine. Sebagai maskapai berbiaya hemat (LCC) di bawah Garuda Indonesia Group, terutama menggunakan armada pesawat Airbus A320 (baik tipe CEO maupun NEO) untuk penerbangan domestik dan internasional jarak pendek-menengah.
Dengan menawarkan harga yang lebih terjangkau, para pelanggan yang menyukai perjalanan santai sangat cocok untuk para pekerja atau pelanggan yang sensitif terhadap harga tiket.

(Ilustrasi. Foto: dok Istimewa)
Perlu jadi fundamental penerbangan
Menurut Dian, Konsep 1 Group 3 Tier maskapai bukan sekadar strategi yang saling menguntungkan bagi tiga maskapai, Garuda Indonesia, Pelita Air, dan Citilink, melainkan juga menjadi bentuk sinergi operasional sekaligus strategi pertahanan menghadapi kompetitor.
Dari sisi operasional, kolaborasi ini tidak hanya menjawab pertanyaan tentang bagaimana mengatasi kompetisi internal, tetapi juga menghadirkan solusi yang lebih hemat dan efisien dalam pengelolaan fasilitas perawatan. Melalui integrasi MRO, sentralisasi pengadaan, infrastruktur IT, serta pelatihan pilot dan kru, ketiga maskapai dapat saling memperkuat kualitas layanan, mulai dari kesiapan armada hingga pengalaman pelanggan.
Sementara itu, dalam konteks strategi pertahanan, sinergi ini memperkuat posisi maskapai nasional sebagai pilihan utama masyarakat, sekaligus membatasi ruang gerak kompetitor untuk memonopoli pasar penerbangan di Indonesia.
"Dengan demikian, konsep 1 Group 3 Tier merupakan langkah strategis untuk menavigasi lanskap industri penerbangan Indonesia yang kompleks. Dukungan penuh terhadap integrasi entitas yang berbeda namun saling melengkapi ini menjadi kunci untuk memastikan masa depan penerbangan nasional yang lebih kuat dan berkelanjutan," tegas dia.
Dian kembali menegaskan, saat ini maskapai nasional tidak membutuhkan penggabungan yang menyederhanakan pasar, melainkan untuk memperluas pasar kepada seluruh segmen penumpang.
"Dengan konsep 1 Group 3 Tier ini, selain memperkuat layanan udara nasional, memperluas kapasitas nasional dan menjaga ciri khas serta keberagaman dari masing-masing maskapai, tentunya sektor penerbangan nasional dapat terus mendukung agenda besar pemerintah dalam menciptakan konektivitas udara yang inklusif serta berkelanjutan ke depannya," tutup Dian.