Ilustrasi, gedung Bank Mandiri Taspen. Foto: dok Bank Mandiri Taspen.
Perkuat Modal Organik, Mandiri Taspen Bidik Naik Jadi Bank KBMI 3 di 2028
Misbahol Munir • 4 July 2026 23:48
Bali: PT Bank Mandiri Taspen atau Bank Mantap optimistis dapat naik kelas menjadi bank kategori Kelompok Bank Berdasarkan Modal Inti (KBMI) 3 pada 2028 tanpa melakukan penambahan modal melalui rights issue. Perseroan mengandalkan pertumbuhan modal secara organik yang ditopang peningkatan laba dan kebijakan dividen yang konservatif.
Head of Strategic dan Performance Management Department Bank Mandiri Taspen Agus Syaiful Anwar mengatakan kebutuhan modal perseroan saat ini telah dipenuhi dari laba ditahan. Sejak 2020, Bank Mandiri Taspen tidak lagi bergantung pada suntikan modal dari pemegang saham.
"Sampai saat ini kebutuhan modal kami sudah dipenuhi secara organik. Capital Adequacy Ratio (CAR) kami juga sudah di atas 30 persen, jauh di atas rata-rata industri maupun ketentuan regulator," kata Agus dalam acara Media Insight: Moving Closer Growing Stronger di Media Learning Center Bank Mandiri Taspen, Bali, Sabtu, 4 Juli 2026.
Ia menjelaskan, pada periode 2017 hingga 2020 Bank Mandiri Taspen masih melakukan penambahan modal melalui rights issue yang didukung oleh pemegang saham, yakni Bank Mandiri dan PT Taspen. Namun, setelah kinerja keuangan membaik, ekspansi bisnis dapat dibiayai dari permodalan internal.
| Baca juga: Bank Mandiri Taspen Pertahankan Target Kredit di Tengah Tekanan Likuiditas |
.jpg)
(Ilustrasi. Foto: Medcom.id)
Modal inti capai Rp10 triliun
Menurut Agus, posisi modal inti perseroan saat ini telah mencapai sekitar Rp10 triliun atau masih berada di KBMI 2. Sementara itu, untuk masuk kategori KBMI 3, bank harus memiliki modal inti minimal Rp14 triliun.
Perseroan optimistis target tersebut dapat dicapai dalam tiga tahun ke depan apabila kinerja laba tetap terjaga. Pada 2025, Bank Mandiri Taspen membukukan laba sekitar Rp1,58 triliun dengan kebijakan pembagian dividen (dividend payout ratio) sebesar 10 persen. Sebagian besar laba tersebut kembali dicatat sebagai laba ditahan untuk memperkuat struktur permodalan.
"Kalau performa tetap terjaga, bahkan meningkat menjadi Rp1,7 triliun, lalu Rp2 triliun hingga Rp2,5 triliun dalam beberapa tahun ke depan, kami sangat percaya diri bisa naik ke KBMI 3 pada 2028 secara organik," kata Agus.
Ia menambahkan, strategi penguatan modal melalui laba ditahan dinilai lebih berkelanjutan karena mampu mendukung ekspansi bisnis tanpa harus menambah modal dari pemegang saham maupun melakukan aksi korporasi di pasar modal.