D-8 Halal Expo Indonesia Resmi Dibuka, Targetkan Volume Dagang hingga Rp9 Kuadriliun

Pameran D-8 Halal Expo Indonesia 2026 resmi dibuka di Jakarta, Rabu, 8 Juli 2026. (Metrotvnews.com)

D-8 Halal Expo Indonesia Resmi Dibuka, Targetkan Volume Dagang hingga Rp9 Kuadriliun

Willy Haryono • 8 July 2026 13:53

Jakarta: Pameran produk halal D-8 Halal Expo Indonesia (HEI) 2026 resmi dibuka, pada Rabu, 8 Juli, di Senayan Tennis Indoor Stadium, Jakarta. Ajang internasional ini digelar sebagai langkah konkret untuk mendorong penguatan kerja sama ekonomi, rantai nilai, serta jejaring bisnis sektor halal antarnegara anggota.

Acara yang berlangsung selama lima hari pada 8–12 Juli 2026 ini merupakan bagian dari rangkaian Keketuaan Indonesia pada D-8 periode 2026–2027. Pembukaan agenda perdana ini dilakukan bersama-sama oleh Wakil Menteri Luar Negeri RI, Anis Matta, Kepala Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH), Ahmad Haikal Hasan, Direktur Executif Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS), Sholahudin Al Aiyub, Ketua Umum Kadin Indonesia, Anindya Novyan Bakrie, serta para duta besar negara anggota D-8.

Mengusung tema "Strengthening D-8 Halal Economy Through International Collaboration", D-8 HEI 2026 dirancang untuk memperkuat kemitraan ekonomi sekaligus memacu ekspansi kerja sama business-to-business (B2B). Sektor yang disasar meliputi industri makanan dan minuman, kecantikan, fesyen, obat-obatan, pariwisata, keuangan, hingga jasa digital.

Langkah strategis tersebut sejalan dengan target peningkatan volume perdagangan antarnegara anggota D-8 hingga mencapai USD500 miliar atau setara Rp9 kuadriliun pada 2030.

Wakil Menteri Luar Negeri RI, Anis Matta, menegaskan bahwa penyelenggaraan pameran ini merupakan manifestasi nyata pemerintah dalam mengintegrasikan kekuatan ekonomi domestik dengan dunia Islam.

"Di tengah berbagai tantangan ekonomi global, Indonesia terus mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Salah satu jalannya adalah dengan memperkuat integrasi ekonomi Indonesia dengan dunia Islam, termasuk melalui pengembangan ekonomi halal," ujar Matta.

Apresiasi senada juga datang dari Sekretaris Jenderal D-8 yang menilai inisiatif Indonesia ini sebagai katalis penting bagi perluasan investasi dan penguatan riset di dalam ekosistem industri halal global. Sepanjang lima hari ke depan, perhelatan ini akan diisi dengan pameran dagang, business matching, serta diskusi panel D-8 HEI Talks.

Hingga hari pembukaan, antusiasme peserta tercatat cukup tinggi, tidak hanya dari blok D-8 melainkan juga dari negara mitra seperti Belanda, Djibouti, India, Palestina, Prancis, Uzbekistan, dan Yordania.

Sementara itu, Direktur Eksekutif KNEKS, Sholahudin Al Aiyub, menjelaskan bahwa forum ini didesain khusus guna menelurkan kolaborasi bisnis yang konkret. "Indonesia berupaya memfasilitasi lahirnya kemitraan bisnis, pertukaran pengetahuan, dan transaksi perdagangan yang konkret," kata Aiyub.

Secara makro, realisasi D-8 HEI 2026 merupakan pengejawantahan dari komitmen Presiden RI Prabowo Subianto pada KTT ke-11 D-8 di Kairo pada 19 Desember 2024 lalu.

Kala itu, Subianto menekankan urgensi pembentukan rantai nilai halal melalui penguatan jejaring ekonomi, sekaligus menegaskan komitmen Indonesia untuk menjadi salah satu pusat utama ekonomi halal dunia. Rangkaian acara ini terselenggara berkat kolaborasi sinergis antara Kementerian Luar Negeri, KNEKS, BPJPH, dan Kadin Indonesia.

D-8 didirikan pada tahun 1997 dan saat ini beranggotakan sembilan negara, yakni Indonesia, Bangladesh, Iran, Malaysia, Mesir, Nigeria, Pakistan, Turki, serta Azerbaijan yang baru bergabung pada 2025.

Aliansi ekonomi ini memiliki kekuatan kolektif yang masif dengan total populasi mencakup 1,3 miliar jiwa (16 persen populasi dunia) serta gabungan Produk Domestik Bruto (PDB) yang menyentuh angka USD 5,1 triliun. (Kelvin Yurcel)

Baca juga:  Ajang D-8 HEI 2026 Jadi Momentum Perkuat Posisi RI Jadi Pusat Ekonomi Halal Dunia

(Willy Haryono)