Presiden Venezuela Nicolas Maduro. (EFE)
Maduro Sebut Ledakan di Caracas Agresi Militer AS yang 'Sangat Serius'
Willy Haryono • 3 January 2026 16:31
Caracas: Presiden Venezuela Nicolas Maduro menetapkan status keadaan darurat pada Sabtu, 3 Januari 2026, menyusul apa yang disebut pemerintahnya sebagai “agresi militer yang sangat serius” oleh Amerika Serikat (AS) terhadap ibu kota Caracas.
Sejumlah ledakan, disertai suara yang menyerupai lintasan pesawat terbang rendah, terdengar di berbagai bagian kota. Jika terkonfirmasi, insiden ini akan menjadi serangan darat pertama yang diketahui terjadi di wilayah Venezuela.
“Venezuela menolak, mengecam, dan melaporkan kepada komunitas internasional agresi militer yang sangat serius yang dilakukan oleh Pemerintah Amerika Serikat terhadap wilayah dan rakyat Venezuela,” demikian pernyataan resmi pemerintah Maduro, dikutip dari Euractiv.
Hingga kini Gedung Putin dan Kementerian Pertahanan AS (Pentagon) belum memberikan komentar resmi. Namun, media CBS News dan Fox News melaporkan bahwa sejumlah pejabat pemerintahan Presiden Donald Trump, yang tidak disebutkan namanya, mengonfirmasi keterlibatan pasukan AS.
Rentetan ledakan terjadi di tengah meningkatnya ancaman dari Presiden Trump, yang telah mengerahkan satu gugus tugas angkatan laut ke Laut Karibia dan membuka kemungkinan serangan darat terhadap Venezuela. Suara ledakan masih terdengar hingga sekitar pukul 02.15 waktu setempat, meski lokasi pastinya belum diketahui.
Pemerintahan Trump menuduh Maduro memimpin kartel narkoba dan menyatakan tengah memperketat operasi pemberantasan perdagangan narkotika. Tuduhan itu dibantah Maduro. Ia menegaskan Washington berupaya menggulingkannya karena Venezuela memiliki cadangan minyak terbesar yang diketahui di dunia.
Tekanan AS terhadap Caracas juga meningkat dalam beberapa pekan terakhir, termasuk penutupan wilayah udara Venezuela secara de facto, penambahan sanksi, serta penyitaan kapal tanker bermuatan minyak Venezuela.
Trump selama berminggu-minggu mengancam akan melancarkan serangan darat terhadap kartel narkoba di kawasan, dengan mengatakan operasi tersebut akan dimulai “segera”, dan Senin ini disebut-sebut sebagai contoh pertama.
Selain itu, pasukan AS sejak September telah melakukan puluhan serangan terhadap kapal-kapal di Laut Karibia dan Samudra Pasifik bagian timur, yang diklaim menargetkan penyelundup narkoba.
Namun, pemerintah AS belum menyampaikan bukti bahwa kapal-kapal yang diserang terlibat perdagangan narkotika, sehingga memicu perdebatan mengenai legalitas operasi tersebut.
Menurut data yang dirilis militer AS, kampanye maritim tersebut telah menewaskan sedikitnya 107 orang dalam setidaknya 30 serangan.
Baca juga: Caracas Diguncang Sejumlah Ledakan di Tengah Ketegangan AS-Venezuela