Mantan PM Bangladesh Khaleda Zia. (EPA)
Khaleda Zia: Dari Ibu Rumah Tangga ke Ikon Politik Bangladesh
Muhammad Reyhansyah • 30 December 2025 18:06
Dhaka: Khaleda Zia, mantan perdana menteri Bangladesh sekaligus perempuan pertama yang memimpin negara tersebut, meninggal dunia pada usia 80 tahun pada Selasa, 30 Desember 2025. Khaleda merupakan figur sentral politik Bangladesh selama lebih dari tiga dekade, dengan perjalanan hidup yang sarat gejolak, rivalitas tajam, dan kontroversi.
Khaleda Zia semula dikenal sebagai sosok sederhana yang hidup di balik bayang-bayang suaminya, Ziaur Rahman, tokoh kunci kemerdekaan Bangladesh yang kemudian menjabat sebagai presiden pada 1977. Namun, setelah Ziaur Rahman tewas dalam pembunuhan pada 1981, Khaleda justru melangkah ke panggung politik nasional.
Ia mengambil alih kepemimpinan Bangladesh Nationalist Party (BNP) yang didirikan suaminya dan kemudian menjabat sebagai perdana menteri dalam dua periode, yakni pada awal 1990-an dan awal 2000-an.
Dari Ibu Rumah Tangga ke Tokoh Oposisi
Mengutip kantor berita BBC, Begum Khaleda Zia lahir pada 1945 di Dinajpur, wilayah yang saat itu masih berada di bawah kekuasaan India Britania. Pada usia 15 tahun, ia menikah dengan Ziaur Rahman, yang kala itu merupakan perwira muda angkatan darat.Pada 1971, Ziaur Rahman bergabung dalam pemberontakan melawan Pakistan Barat dan mendeklarasikan kemerdekaan Bangladesh. Ketika ia menjadi presiden pada 1977, pemerintahannya membuka kembali ruang bagi partai politik dan kebebasan pers, meski juga diwarnai upaya kudeta dan eksekusi terhadap personel militer.
Pembunuhan Ziaur Rahman pada 1981 menjadi titik balik kehidupan Khaleda. Menjadi janda pada usia 36 tahun, ia yang sebelumnya menjauh dari kehidupan publik mulai aktif berpolitik. Pada 1982, ia bergabung dengan BNP dan segera diangkat sebagai wakil ketua partai.
Tahun itu juga menandai dimulainya pemerintahan militer selama hampir satu dekade. Dalam periode tersebut, Khaleda tampil sebagai penentang utama kekuasaan militer, memimpin boikot pemilu yang dikontrol tentara. Ia beberapa kali dikenai tahanan rumah, namun citranya sebagai pemimpin yang tak kenal kompromi justru menguat.
Perdana Menteri Dua Periode
Setelah runtuhnya rezim militer pada 1990, BNP muncul sebagai partai terbesar dalam pemilu. Khaleda Zia dilantik sebagai perdana menteri pada 1991, menjadikannya perempuan pertama yang memimpin Bangladesh dan perempuan terpilih kedua yang memimpin negara mayoritas Muslim setelah Benazir Bhutto di Pakistan.Di bawah kepemimpinannya, Bangladesh kembali ke sistem pemerintahan parlementer. Salah satu kebijakan penting pada periode pertamanya adalah pemberlakuan pendidikan dasar gratis dan wajib.
Namun, pada 1996 ia kalah dalam pemilu dari Sheikh Hasina dari Liga Awami. Kekalahan itu terbalas pada 2001, ketika Khaleda membentuk koalisi dengan sejumlah partai Islamis dan meraih hampir dua pertiga kursi parlemen—sebuah langkah yang kemudian menuai kritik luas.
Pada periode keduanya, Khaleda mendorong kebijakan yang berpihak pada perempuan, termasuk kuota parlemen perempuan dan perluasan akses pendidikan anak perempuan di negara yang saat itu memiliki tingkat buta huruf perempuan sangat tinggi.
Kasus Hukum dan Penurunan Kesehatan
Setelah masa jabatannya berakhir pada 2006, Bangladesh dilanda krisis politik. Pemerintahan sementara yang didukung militer melancarkan operasi antikorupsi besar-besaran yang menjerat elite dari berbagai kubu, termasuk Khaleda Zia dan rival lamanya, Sheikh Hasina.Khaleda ditangkap atas tuduhan pemerasan dan korupsi. Meski pembatasan politik terhadapnya kemudian dilonggarkan, BNP kalah telak dalam pemilu 2008 dan memboikot pemilu 2014, yang menyebabkan partai tersebut kehilangan seluruh kursi parlemen.
Pada 2018, Khaleda divonis lima tahun penjara setelah dinyatakan bersalah menggelapkan dana perwalian panti asuhan. Ia membantah tuduhan itu dan menyebutnya bermotif politik. Kondisi kesehatannya yang memburuk—akibat radang sendi, diabetes, serta gangguan organ—membuatnya dipindahkan ke rumah sakit pada 2019 dan kemudian menjalani tahanan rumah atas dasar kemanusiaan.
Akhir Hayat dan Warisan Politik
Situasi politik Bangladesh kembali berbalik pada 2024 ketika pemerintahan Sheikh Hasina tumbang akibat gelombang ketidakpuasan publik. Khaleda Zia dibebaskan dari sejumlah vonis dan diizinkan berobat ke London pada Januari 2025.Namun, setelah berbulan-bulan mengalami penurunan kesehatan akibat sirosis hati dan kerusakan ginjal, Khaleda Zia meninggal dunia di Dhaka pada 30 Desember 2025.
Ia meninggalkan putra sulungnya, Tarique Rahman, yang kembali ke Bangladesh setelah bertahun-tahun hidup di pengasingan di London dan dipandang luas sebagai kandidat kuat pemimpin Bangladesh berikutnya. Putra bungsunya, Arafat Rahman, telah meninggal dunia pada 2015.
Baca juga: Eks PM Perempuan Pertama Bangladesh Khaleda Zia Wafat di Usia 80 Tahun