Debit air Waduk Saguling menyusut dampak musim kemarau. MI
Debit Air Waduk Saguling Menyusut, PLTA Masih Beroperasi Normal
Depi Gunawan • 15 September 2026 19:06
Bandung Barat: Musim kemarau dengan curah hujan yang minim berdampak pada pasokan air ke Waduk Saguling, Kabupaten Bandung Barat. Debit air yang masuk ke waduk mengalami penurunan cukup signifikan sepanjang Agustus 2026.
Pada periode tersebut, debit air yang masuk ke Waduk Saguling hanya berada di kisaran 10-18 meter kubik per detik. Penurunan pasokan air membuat permukaan waduk menyusut dan sejumlah area yang sebelumnya terendam mulai terlihat.
Kondisi itu berbeda dengan periode puncak musim hujan. Saat itu, debit air yang masuk ke Waduk Saguling dapat mencapai 155-200 meter kubik per detik.
Manajer Sipil PLTA Saguling Praja Mukti Ediatmaja mengatakan penurunan pasokan air belum mengganggu operasional pembangkit listrik. Kondisi Waduk Saguling saat ini masih berada dalam batas aman untuk mendukung kebutuhan pembangkitan.
"PLTA Saguling secara pola operasi musim kemarau masih dapat memenuhi dispatch dari PLN Pengatur Beban," kata Praja, Selasa, 15 September 2026.
Praja menjelaskan, permukaan air Waduk Saguling saat ini berada di sekitar 638 meter di atas permukaan laut (mdpl). Sementara itu, batas bawah operasional waduk pada musim kemarau berada di level 636 mdpl.
Dengan posisi tersebut, permukaan air masih memiliki selisih sekitar dua meter dari batas bawah operasional. Kondisi Waduk Saguling pun belum masuk kategori kritis.
Meski demikian, penurunan debit air tetap menjadi perhatian karena periode kemarau diperkirakan masih berlangsung.
"Berkurangnya air tidak serta-merta membuat PLTA Saguling berhenti beroperasi. Penggunaan air untuk pembangkitan listrik disesuaikan dengan kebutuhan sistem kelistrikan yang diatur oleh PLN," ujarnya.
Pengelolaan ketersediaan air di sepanjang Waduk Saguling hingga Jatiluhur dilakukan melalui koordinasi Tim Koordinasi Pengoperasian Bendung Kascade Citarum (TKPBKC).
Tim tersebut beranggotakan BBWS Citarum sebagai koordinator, PLN Indonesia Power, PLN Nusantara Power, Perum Jasa Tirta II, serta BMKG.

Ilustrasi Medcom.id
Koordinasi dilakukan untuk mengatur pembagian dan pemanfaatan air dari Waduk Saguling hingga Jatiluhur. Pengaturan tersebut mencakup kebutuhan pembangkitan listrik, pengairan, air minum, dan kebutuhan lainnya.
"Pembagian debit air keluar dari waduk Saguling sampai Jatiluhur selalu dikoordinasikan dan diatur agar dapat memenuhi kebutuhan pengairan, listrik, air minum dan lain-lain," ungkap Praja.
Menurut Praja, kondisi permukaan air waduk juga terus disimulasikan. Langkah tersebut dilakukan untuk memperkirakan kecukupan persediaan air hingga musim kemarau berakhir.
Selain mengatur penggunaan air yang tersedia, upaya meningkatkan potensi hujan melalui Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) juga telah dilakukan pada 30 Juli hingga 5 Agustus 2026.
Operasi TMC tersebut menggunakan pesawat milik TNI dengan Lanud Husein sebagai pangkalan operasi. Namun, pelaksanaan TMC belum memberikan hasil maksimal. Salah satu kendalanya ialah terbatasnya potensi awan hujan selama periode operasi.
"Potensi awan yang terjadi pada periode tersebut juga tidak banyak sehingga hujan yang terjadi juga tidak optimal," tandasnya.