Warga berjalan menerobos genangan air akibat hujan deras di Denpasar, Bali, Selasa (24/2/2026). ANTARA/Dewa Ketut Sudiarta Wiguna
Waspada! Angin Kencang hingga 40 Knot dan Gelombang 4 Meter Ancam Perairan Bali
Whisnu Mardiansyah • 3 March 2026 08:22
Denpasar: Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BBMKG) Wilayah III Denpasar menerbitkan peringatan dini terkait potensi angin kencang di perairan Utara dan Selatan Bali. Fenomena ini diperkirakan berlangsung pada 3 hingga 6 Maret 2026 dengan kecepatan angin mencapai 40 knot atau setara 74 kilometer per jam.
"Waspadai potensi angin kencang di perairan Utara dan Selatan Bali," kata Prakirawan BBMKG Wilayah III, Ariantika, di Denpasar seperti dilansir Antara, Selasa, 3 Maret 2026.
Berdasarkan analisis BBMKG, angin bergerak dari arah Barat Daya menuju Barat Laut di kedua wilayah perairan tersebut. Selain angin kencang, BBMKG juga menerbitkan peringatan dini tinggi gelombang laut hingga 4 meter.
Gelombang tinggi ini berpeluang terjadi di perairan Selatan Bali, Selat Badung, Selat Lombok bagian Selatan, serta di Selat Bali bagian Selatan. Sementara itu, di Selat Lombok bagian Utara dan perairan Utara Bali, ketinggian gelombang diperkirakan mencapai 2,5 meter.
BBMKG Denpasar menjelaskan kondisi angin dan gelombang laut ini berisiko terhadap keselamatan pelayaran. Para operator kapal feri diminta mewaspadai kecepatan angin mencapai 21 knot dan tinggi gelombang mencapai 2,5 meter.
Operator kapal tongkang dianjurkan waspada saat angin berkecepatan 16 knot dan tinggi gelombang mencapai 1,5 meter. Sementara pengguna perahu nelayan diminta mewaspadai kecepatan angin lebih dari 15 knot (sekitar 27 km/jam) dan tinggi gelombang mencapai 1,25 meter. Sementara itu, cuaca ekstrem juga diprakirakan terjadi di Bali pada periode 2 hingga 8 Maret 2026. Kondisi ini disebabkan oleh beberapa faktor dinamika atmosfer.
Pertama, adanya pola pertemuan massa udara atau konvergensi di sekitar wilayah Bali. Kedua, aktifnya fenomena Madden-Julian Oscillation (MJO) pada fase IV atau Maritime Continent yang dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap pembentukan awan hujan.

Para petugas gabungan melakukan pompanisasi pascabanjir yang terjadi di Provinsi Bali pada Selasa (24/2). (Dok BNPB)
Ketiga, keberadaan Bibit Siklon 90S yang saat ini berada di perairan Selatan Samudera Hindia, Barat Daya Provinsi Banten. Bibit siklon ini menunjukkan pola pergerakan ke arah Timur menuju perairan Selatan Bali, yang berpotensi menyebabkan peningkatan curah hujan dan kecepatan angin. Selain itu, gelombang ekuatorial Rossby dan Kelvin yang diprediksi akan melintasi wilayah Bali dalam beberapa hari mendatang juga turut memicu cuaca ekstrem.