Trump Prioritaskan Diplomasi dengan Iran, Namun Siapkan Opsi Militer

Presiden Amerika Serikat Donald Trump di World Economic Forum. Foto: YouTube WEF

Trump Prioritaskan Diplomasi dengan Iran, Namun Siapkan Opsi Militer

Fajar Nugraha • 6 February 2026 21:05

Washington: Gedung Putih menegaskan bahwa diplomasi merupakan pilihan utama Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dalam menangani ketegangan dengan Iran.

Meski demikian, Washington memperingatkan bahwa opsi militer tetap tersedia jika kesepakatan dalam perundingan tingkat tinggi di Oman gagal tercapai.

Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, menyampaikan bahwa Trump sedang memantau kemungkinan tercapainya kesepakatan.

"Diplomasi selalu menjadi opsi pertama Presiden, baik terhadap sekutu maupun musuh," ujar Leavitt, seperti dikutip Channel News Asia, Jumat, 6 Februari 2026.

Leavitt menambahkan bahwa Trump menuntut Iran untuk tidak memiliki kemampuan nuklir sama sekali.

Persiapan akhir sedang berlangsung untuk pertemuan di Muscat, Oman, yang sedang berlangsung Jumat 6 Februari 2026. Delegasi Iran dipimpin oleh Menteri Luar Negeri Abbas Araqchi, sementara AS diwakili oleh utusan khusus Steve Witkoff dan penasihat presiden Jared Kushner.

Ketegangan tetap tinggi karena adanya perbedaan mendasar pada agenda perundingan. Washington mendesak pembahasan mencakup arsenal rudal balistik, dukungan terhadap kelompok proksi, dan isu hak asasi manusia. 

Teheran bersikeras agar pembicaraan hanya berfokus secara eksklusif pada program nuklir. AS telah mengerahkan ribuan tentara, kapal induk, dan jet tempur ke Timur Tengah sebagai bentuk tekanan.

Menjelang perundingan, Iran memamerkan rudal balistik jarak jauh Khorramshahr 4 yang mampu menjangkau jarak 2.000 km. Di sisi lain, Trump memperingatkan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, untuk khawatir, jika kesepakatan tidak tercapai, dengan menyebut potensi terjadinya hal-hal buruk.

Negara-negara tetangga di kawasan Teluk mengatakan kekhawatiran besar akan terjadinya perang terbuka. Presiden Turki, Tayyip Erdogan, serta Kanselir Jerman, Friedrich Merz, mendesak kedua pihak untuk menahan diri guna mencegah eskalasi konflik yang lebih luas di Timur Tengah.

Pemerintah Iran mengatakan tetap berkomitmen untuk mencapai pemahaman yang adil dan bermartabat terkait isu nuklir, sembari berharap pihak AS berpartisipasi dengan sikap realistis dan serius dalam proses diplomasi ini.

(Kelvin Yurcel)

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Fajar Nugraha)