Ilustrasi. Foto: dok MI.
Dari Bertani hingga Masuk Industri, Ini Cara Warga Tanggamus Naik Kelas
Ade Hapsari Lestarini • 17 August 2026 15:58
Tanggamus: Kehadiran industri di daerah tidak hanya berbicara mengenai produksi dan investasi. Di tengah aktivitas pabrik, ada masyarakat sekitar yang mendapat kesempatan meningkatkan keterampilan, memperoleh pekerjaan, hingga memiliki penghasilan yang lebih stabil.
Hal itu dirasakan Yopanda, warga Tanggamus, Lampung. Sebelum masuk ke dunia industri, pria berusia 38 tahun tersebut bekerja sebagai petani dan serabutan. Penghasilannya bergantung pada cuaca dan musim panen sehingga tidak selalu bisa dipastikan. Perubahan mulai terjadi ketika pembangunan Pabrik AQUA Tanggamus berlangsung pada 2016. Yopanda ikut bekerja dalam proyek konstruksi dan kemudian bergabung dengan tim engineering.
Dari sana, ia mulai mengenal pola kerja industri yang berbeda dengan kesehariannya sebagai petani. Sepuluh tahun kemudian, Yopanda telah menjadi supervisor di pabrik tersebut. Perjalanan itu bukan hanya mengubah pekerjaannya, tetapi juga membuka akses terhadap pendidikan dan keterampilan baru.
Saat bekerja bersama tim engineering, Yopanda melihat rekan-rekannya menggunakan komputer dan laptop dalam pekerjaan sehari-hari. Kondisi tersebut mendorongnya untuk kembali belajar. Saat itu, ia belum memiliki ijazah setara SMA. Kesempatan kemudian datang melalui program Paket C yang diberikan bagi masyarakat sekitar yang belum memiliki ijazah SMA. Yopanda menjadi salah satu dari sekitar 20 warga yang mengikuti program tersebut. Di sela pekerjaan, ia mengikuti kegiatan belajar dua kali dalam sepekan hingga akhirnya memperoleh ijazah Paket C.
"Saya lihat teman-teman di engineering bisa menggunakan komputer dan laptop. Dari situ saya tergerak, saya juga ingin bisa. Ketika ada program Paket C, saya ikut karena ingin mendapat ijazah sekaligus menambah pengetahuan," cerita Yopanda, dikutip Senin, 17 Agustus 2026.
Kini, ijazah tersebut menjadi salah satu bekalnya dalam bekerja. Ia juga sudah terbiasa menggunakan komputer untuk menunjang pekerjaan di lingkungan pabrik. Menurut Yopanda, masuk ke dunia industri turut mengubah pola pikir dan kebiasaannya. Ia mulai terbiasa dengan disiplin waktu, prosedur kerja, hingga budaya keselamatan.
"Dulu ketika bekerja sebagai petani, kami tidak terlalu mengenal aturan keselamatan seperti di industri. Setelah bekerja di sini, kami jadi lebih peduli. Bahkan ketika sedang libur dan pergi ke kebun, tanpa sadar kebiasaan tentang keselamatan itu ikut kami terapkan," ujar dia.

Yopanda (kiri) sedang memberi pengarahan. Foto: dok Aqua.
Industri dan peluang ekonomi masyarakat lokal
Kisah Yopanda menjadi gambaran bagaimana keberadaan industri dapat memberikan dampak yang lebih luas bagi masyarakat di sekitar lokasi usaha. Sejak mulai beroperasi pada April 2016, Pabrik AQUA Tanggamus menyatakan memprioritaskan masyarakat sekitar sebagai bagian dari tenaga kerja. Per Agustus 2026, sekitar 90 persen karyawan pabrik tersebut berasal dari masyarakat sekitar.
Untuk memenuhi kebutuhan keterampilan, masyarakat yang sebelumnya bekerja sebagai petani, pekebun, maupun pekerja informal diberikan pelatihan terkait dunia manufaktur. Pelatihan mencakup dasar keselamatan kerja hingga keterampilan teknis seperti pengelasan dan kompetensi operasional.
"Bagi kami, membangun pabrik berarti juga membangun masyarakat di sekitarnya. Karena itu, sejak awal kami berinvestasi pada pengembangan sumber daya manusia lokal," ujar Kepala Pabrik AQUA Tanggamus Teguh Santoso.
Bagi Yopanda, manfaat yang paling terasa adalah penghasilan yang lebih stabil dan dapat direncanakan. Jika sebelumnya pendapatan sangat dipengaruhi musim, kini ia memiliki pekerjaan dengan penghasilan yang lebih pasti. Kondisi tersebut membuatnya dapat merencanakan kehidupan dan kebutuhan keluarga dengan lebih baik. Baginya, inilah salah satu bentuk kemerdekaan yang paling nyata: terbebas dari ketidakpastian penghasilan dan memiliki kesempatan untuk terus berkembang.
Pertumbuhan ekonomi juga membutuhkan lingkungan yang terjaga
Dampak industri terhadap masyarakat tidak hanya berkaitan dengan lapangan pekerjaan. Di Tanggamus, upaya pemberdayaan juga dilakukan melalui program lingkungan dan akses kebutuhan dasar. Bersama masyarakat, perusahaan telah menanam lebih dari 11 ribu pohon dan membangun sekitar 700 rorak atau lubang resapan air di wilayah hulu Pegunungan Tanggamus sepanjang 2016 hingga 2026.
Program tersebut ditujukan untuk memperkuat daerah tangkapan air dan mengurangi risiko erosi. Pendampingan kepada petani kopi juga dilakukan untuk mendorong praktik budi daya yang lebih ramah lingkungan. Di wilayah hilir, terdapat Taman Kehati Galih Batin seluas sekitar 3,2 hektare yang dikembangkan sebagai ruang terbuka hijau sekaligus pusat edukasi lingkungan.
Sementara melalui program Water, Sanitation, and Hygiene (WASH), sebanyak 1.037 warga disebut telah mendapatkan manfaat melalui 203 sambungan akses air bersih yang terhubung langsung ke rumah. Program pengelolaan sampah juga menjadi bagian dari upaya tersebut. Melalui program “Sampahku Tanggung Jawabku”, sekitar 378 ton sampah plastik telah dikelola sejak program dimulai hingga 2026.
Kehadiran industri di daerah pada akhirnya tidak hanya diukur dari kapasitas produksi atau aktivitas ekonominya. Dampaknya juga dapat terlihat dari seberapa jauh masyarakat sekitar memperoleh kesempatan untuk berkembang.
Kisah Yopanda memperlihatkan akses terhadap pekerjaan, pendidikan, dan pelatihan dapat menjadi jalan bagi masyarakat untuk meningkatkan kualitas hidup. Dari seorang petani dan pekerja serabutan, ia kini menjadi supervisor dengan keterampilan dan pengalaman di sektor industri. Bagi Teguh, momentum HUT ke-81 Kemerdekaan RI menjadi pengingat pembangunan juga perlu membuka ruang bagi masyarakat untuk tumbuh dan semakin mandiri.
"Semangat kemerdekaan hari ini adalah tentang membuka lebih banyak kesempatan bagi masyarakat untuk hidup dengan kualitas yang lebih baik dan mendorong setiap individu dapat menjadi versi terbaik mereka," kata Teguh.