Menhan Thailand Akan Hadiri Perundingan Gencatan Senjata dengan Kamboja

Thailand dan Kamboja mulai saling serang di area perbatasan pada 24 Juli 2025. (Anadolu Agency)

Menhan Thailand Akan Hadiri Perundingan Gencatan Senjata dengan Kamboja

Willy Haryono • 27 December 2025 10:28

Bangkok: Menteri Pertahanan Thailand dijadwalkan bergabung dalam perundingan dengan Kamboja pada Sabtu 27 Desember, guna mengupayakan gencatan senjata. Langkah diplomasi ini diambil di tengah bentrokan perbatasan antar kedua negara tetangga Asia Tenggara tersebut yang telah memasuki minggu ketiga.

Perdana Menteri Thailand, Anutin Charnvirakul, mengatakan bahwa jika kesepakatan tercapai, kedua negara akan menandatangani perjanjian yang selaras dengan pakta sebelumnya. Pakta tersebut sempat ditengahi oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pasca-bentrokan serupa pada bulan Juli lalu.

"Yang penting adalah kita berdua harus menepati janji bahwa kita berdua tidak akan mengancam, menyinggung, dan menghasut, serta mengurangi permusuhan antara kedua negara," kata Charnvirakul kepada wartawan di Bangkok, seperti dikutip AsiaOne, Sabtu, 27 Desember 2025.

Sejak gencatan senjata pecah pada awal Desember, konflik ini telah menelan sedikitnya 98 korban jiwa dari Thailand dan Kamboja. Selain itu, lebih dari setengah juta orang terpaksa mengungsi meninggalkan rumah mereka dan pejabat dari kedua negara diketahui telah melakukan pembicaraan intensif di pos lintas batas sejak Rabu lalu.

Hingga saat ini, upaya mediasi dari Ketua ASEAN, Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, maupun keterlibatan Donald Trump belum berhasil menghentikan permusuhan. Tekanan juga datang dari Beijing, di mana utusan khusus China untuk urusan Asia, Deng Xijun, telah melakukan kunjungan ke Bangkok dan Phnom Penh dalam beberapa hari terakhir.

Thailand dan Kamboja memiliki sejarah panjang persengketaan terkait garis perbatasan darat sepanjang 817 kilometer. Pertempuran terbaru ini meluas dari wilayah hutan di dekat perbatasan Laos hingga ke provinsi-provinsi pesisir pantai.

Kedua negara saling tuding sebagai penyebab runtuhnya gencatan senjata bulan Juli yang sebelumnya sempat diperluas pada Oktober untuk menyelesaikan konflik. Anutin mengatakan, bahwa ia berharap, kali ini menjadi penandatanganan perjanjian terakhir, sehingga perdamaian terwujud di kawasan tersebut dan warga dapat kembali ke rumah mereka. (Kelvin Yurcel)

Baca juga:  Redam Konflik Bersenjata, Thailand-Kamboja Gelar Rapat GBC

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Willy Haryono)