Pekerja di Jepang memakai celana pendek karena panas. (Noriko Hayashi/The New York Times)
Karena Panas dan Hemat AC, Jepang Sarankan Pekerja Pakai Celana Pendek
Riza Aslam Khaeron • 22 July 2026 16:22
Jakarta: Di tengah teriknya musim panas Tokyo dengan suhu mencapai sekitar 34 derajat Celcius, para pekerja di kantor Pemerintah Metropolitan Tokyo mulai meninggalkan setelan jas formal dan menggantinya dengan celana pendek.
Langkah ini merupakan bagian dari upaya penghematan energi dari potensi penggunaan Air Conditioner (AC) berlebihan di tengah melonjaknya biaya listrik akibat dampak konflik di Timur Tengah.Melansir Euronews, inisiatif ini diumumkan pada musim semi oleh Gubernur Tokyo, Yuriko Koike, dengan alasan tantangan pada pasokan listrik. Program ini merupakan versi pembaruan dari 'Cool Biz', yaitu kampanye penghematan energi yang mendorong para birokrat melepas dasi dan jaket saat musim panas.
Kampanye tersebut pertama kali diinisiasi oleh Koike pada 2005 ketika ia menjabat sebagai Menteri Lingkungan Hidup.
"Kami mendorong pakaian 'cool' yang mengutamakan kenyamanan, termasuk kemeja polo, kaos, sepatu kets, dan, tergantung pada tanggung jawab pekerjaan, celana pendek," kata Koike kepada wartawan pada April lalu.
Suhu Ekstrem Melanda Jepang
Berdasarkan data mingguan terbaru dari Badan Penanggulangan Bencana dan Kebakaran Jepang, sebanyak tujuh orang meninggal dunia akibat sengatan panas (heatstroke) dan 4.580 orang dilarikan ke rumah sakit dalam periode 6–12 Juli.Isu panas yang menyengat bukan hal yang baru di negeri matahari terbit. Tahun lalu, Badan Meteorologi Jepang menyatakan negara tersebut mengalami musim panas terpanas sejak pencatatan dimulai pada 1898.
Suhu yang mencapai 40 derajat Celcius ke atas menjadi makin sering terjadi, sehingga badan tersebut pada April merilis sebutan resmi untuk cuaca ekstrem ini, yaitu hari "sangat panas" atau kokusho, yang merujuk pada kondisi ketika suhu melebihi 40 derajat Celcius.
Perubahan iklim akibat aktivitas manusia dinilai membuat cuaca ekstrem terjadi lebih sering, lebih lama, dan lebih intens.
Sebagian Nyaman, yang Lain Sebut "Pelecehan Seksual”

Ilustrasi: Olha Ruskykh/Pexels
Tidak semua menerima kebijakan ini dengan lapang dada. Kebijakan ini telah memicu perdebatan di dunia maya mengenai kepantasan celana pendek sebagai pakaian kerja. Sebagian pihak menyambut baik pelonggaran aturan ini karena membantu mereka bekerja lebih nyaman.
Pada hari Selasa, seorang pejabat Pemerintah Metropolitan Tokyo, Noboru Watanabe, mencoba datang bekerja mengenakan celana pendek meskipun awalnya merasa canggung.
"Namun setelah menggunakannya, Anda akan menyadari betapa nyamannya celana pendek ini," ujar Watanabe kepada AFP.
Di sisi lain, ada yang menilai kebijakan ini tidak adil bagi perempuan. Meski bukan aturan resmi melainkan etika berpakaian, pekerja perempuan di lingkungan kantor tradisional Jepang kerap masih dituntut mengenakan kaus kaki ketat (tights) jika pakaian kerja mereka memperlihatkan bagian kaki.
Mengutip BBC, beberapa perempuan mengeluhkan fenomena sunehara (singkatan dari sune harassment atau ketidaknyamanan melihat bulu kaki rekan kerja), yang merujuk pada rasa tidak nyaman saat harus melihat bulu kaki rekan kerja pria mereka.
Survei yang dilakukan Gorilla Clinic pada bulan Juni menemukan bahwa 53,5% menentang penggunaan celana pendek untuk bekerja di musim panas, sementara 46,5% mendukung rekomendasi baru tersebut. Alasan utama penentangan yang dinyatakan oleh kebanyakan sampel survei adalah “kekhawatiran tentang bentuk tubuh dan bulu tubuh”.
Sentimen tersebut mendorong pekerja-pekerja Jepang untuk menyesuaikan diri terhadap standar kecantikan yang baru.
Akifumi Funatsu, Direktur Gorilla Clinic mengatakan kepada BBC bahwa ia memperhatikan semakin banyak klien yang datang ke klinik bukan hanya karena alasan kosmetik, tetapi karena masalah "etiket sosial saat mengenakan celana pendek"